Mengenang Sosok K.H. Sholahudin Wahid

2
1227

BincangSyariah.Com – Sejak semalam, 2 Februari 2020, sampai hari ini, bangsa Indonesia kembali berduka. Indonesia kembali kehilangan salah seorang tokoh bangsa yang disegani. Beliau adalah Dr. K.H. Sholahudin Wahid atau akrab disapa Gus Sholah. Beliau menghembuskan nafas terakhir, semalam di RS. Jantung Harapan Kita, Jakarta Timur sekitar jam 20.55.

Sejak semalam hingga tadi pagi, beberapa tokoh, murid-murid, dan kolega hadir ke kediaman Gus Sholah di Jakarta, di bilangan Tendean, Jakarta Selatan. Sekjen PBNU H. Helmy Faishal Zaini, Habib Jindan bin Novel bin Salim pengasuh Majlis Al-Fachriyah, hingga Ibu Sinta Nuriyah Wahid terlihat hadir. Tadi pagi, sesuai dengan yang direncanakan oleh keluarga, jenazah beliau diterbangkan ke Surabaya untuk dimakamkan di Pesantren Tebuireng, Jombang.

Dari amatan penulis terhadap story Instagram Irfan Asy’ari Sudirman Wahid atau akrab disapa Gus Ipang Wahid, salah seorang putra beliau, pemakaman berlangsung tadi sore di Kompleks Pesantren Tebuireng. Terlihat beberapa tokoh ikut memanjatkan doa di sisi pusara Gus Sholah, seperti K.H. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Mantan Menteri Agama H. Lukman Hakim Saifuddin. Terlihat juga Ketua Umum PP Muhammadiyah, Dr. H. Haedar Nashir memberikan pidato sebagai kata terakhir. Sang istri, Ibu Farida Shalahuddin Wahid juga terlihat mendampingi di sisi jenazah sang suami baik saat di rumah hingga dimakamkan di Tebuireng.

Keturunan ‘Darah Biru’ Pesantren

Gus Sholah adalah putra ke-3  K.H. Abdul Wahid Hasyim dengan Nyai Hj. Sholichah ini dilahirkan pada 11 September 1942. Lahir di tengah kondisi peralihan dari penjajahan Belanda ke penjajahan Jepang, mengutip dari biografi kakak beliau Nyai Aisyah Hamid Baidlowi yang diulas NU Online, besar kemungkinan waktu itu Gus Sholah masih dalam kandungan ketika ibunya memutuskan kembali ke Jombang, setelah sebelumnya sempat pindah ke Jakarta mengikuti sang suami, K.H. Wahid Hasyim. Alasannya adalah keamanan yang tidak menentu waktu itu.

Di tahun 1945, awal tahun kemerdekaan sang ayah diangkat menjadi Menteri Agama (Jepang: Shumubu) hingga tahun 1952. Di tahun 1950, Kyai Wahid baru memboyong seluruh keluarganya ke Jakarta. Namun takdir berkata lain ketika di tahun 1953, terjadi peristiwa memilukan dengan meninggalnya K.H. Wahid Hasyim akibat kecelakaan mobil di wilayah Cimahi, Jawa Barat.

Situasi tersebut tak mudah. Jadilah ibu Ny. Sholichah membesarkan keenam putra putrinya itu dalam keadaan yatim.

Berbeda dengan Gus Dur yang masa pendidikannya banyak dihabiskan di berbagai pesantren, Gus Sholah justru seluruh pendidikan dasar dan menengahnya dihabiskan di sekolah umum. SD, SMP N 1 Cikini, hingga SMA 1 Jakarta atau dikenal dengan SMA Budi Utomo adalah tempat pendidikan Gus Sholah remaja. Bahkan, beliau menjadi wakil ketua OSIS di SMA N 1.

Di jenjang kuliah, beliau kembali meneruskan ke jurusan umum. Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung. Bagi kalangan Nahdatul Ulama, bisa dikatakan Gus Sholah adalah “pionir” para santri untuk meneruskan pendidikan di bidang non-agama. Ini juga sesuai dengan selorohan terkenal ayah beliau, “bahwa di tahun 50-an, mencari orang NU yang kuliah sesulit mencari tukang es di waktu malam.” Selama kuliah di ITB, beliau sempat aktif di organ mahasiswa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bandung.

Pernikahan “Dua Keluarga Menteri Agama”

Beliau menikah dengan Farida, yang tak lain adalah putri mantan Menteri Agama, K.H. Saifuddin Zuhri pada tahun 1968. Pernikahan ini cukup unik karena usut punya usut, awalnya Gus Sholah tidak mengetahui kalau calon istrinya adalah putri mantan Menteri Agama.

Setelah pernikahan tersebut, kuliah beliau sempat berhenti dan baru dilanjutkan kembali pada tahun 1977. Beliau menyelesaikan pendidikannya di ITB pada tahun 1979.

Karir Panjang di Dunia Konstruksi

Berbeda dengan mendiang Gus Dur yang sedari awal sudah memosisikan diri sebagai intelektual dan aktivis sosial, Gus Sholah memulai karirnya justru di bidang kontraktor. Mengutip laduni.id, di tahun 70-an beliau mendirikan perusahaan kontraktor bersama dua orang teman dan kakak iparnya Hamid Baidlowi. Beliau pernah bergabung dengan Biro Konsultan Konstruksi PT MIRAZH, Direktur Utama Perusahaan Konsultan Teknik (1978-1997), Ketua DPD Jakrta Ikatan Konsultan Indonesia (1989-1990), hingga Sekjen DPP Inkindo (1991-1994). Singkat cerita, dari tahun 70-an sampai 90-an karir beliau kebanyakan di bidang arsitektur dan konstruksi.

Aktif Menulis, Beberapa Kali Berseberangan dengan Gus Dur

Beliau belakangan meninggalkan kegiatannya di bidang konsultan tersebut dan banyak menghabiskan waktunya untuk menulis. Tulisan-tulisannya banyak menyoroti berbagai persoalan yang dihadapi umat dan bangsa. Namun, berbeda dengan Gus Dur yang sejak muda dan tinggal di Jakarta sudah akrab dengan media bahkan gemar menyampaikan ungkapan kelakar, Gus Sholah cenderung terlihat pendiam.

Beberapa karya tulis Gus Sholah diantaranya adalah: Negeri di Balik Kabut Sejarah (November, 2001); Mendengar Suara Rakyat (September, 2001); Menggagas Peran Politik NU (2002); Basmi Korupsi: Jihad Akbar Bangsa Indonesia (November, 2003); Ikut Membangun Demokrasi: Pengalaman 55 Hari Menjadi Calon Wakil Presiden (November, 2004). Yang terbaru, beliau menerbitkan buku Memadukan Keislaman dan Keindonesiaan (Pustaka Tebuireng, 2017).

Namun, tak jarang beliau memiliki pandangan yang berbeda dengan sang kakak. Mengutip Robin Bush di buku Nahdlatul Ulama and the Struggle for Power within Islam and Politics in Indonesia, seperti diulas Rifqi Fairuz dalam islami.co, Gus Sholah pernah saling berdebat secara terbuka dengan saling berbalas artikel di Media Indonesia dari 8-23 Oktober 1998. Perdebatan itu tentang adu argument apakah K.H. Wahid Hasyim memiliki keinginan akhir bentuk negara berdasarkan Pancasila ataukah cita-cita beliau melandaskan Indonesia berdasarkan agama Islam.

Perbedaan Gus Dur dengan Gus Sholah terjadi dalam persoalan keterlibatan di dalam Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Berbeda dengan Gus Dur yang mengkritik habis ICMI sebagai “perselingkuhan” Pemerintah Orde Baru dengan kelompok Islam Garis Keras, Gus Sholah justru menjadi anggota ICMI. Bahkan, di tahun 2000, beliau terpilih menjadi Ketua MPP ICMI tahun 2000-2005.

Di awal reformasi, ia sempat digadang menjadi sekjen PPP dengan Amien Rais sebagai ketua. Namun, rencana itu gagal karena Amien Rais memilih mendirikan partai sendiri, Partai Amanat Nasional (PAN). Gus Sholah kemudian mendirikan Partai Kebangkitan Umat (PKU) di saat Gus Dur justru mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Dan, PKU didirikan oleh paman Gus Sholah dan Gus Dur, K.H. Yusuf Hasyim.

Tetap Aktif di NU Sejak Lama, Namun Tetap Kritis

Sebagian kelompok Islam seringkali menganggap perbedaan yang berulang-ulang antara Gus Sholah dengan Gus Dur sebagai peluang untuk mendekati Gus Sholah agar menuruti kehendak politik praktis mereka. Gus Sholah bahkan pernah dikabarkan akan menghadiri Reuni 212 pada 2018 lalu. Padahal setelah dikonfirmasi, beliau tidak pernah dihubungi oleh panitia.

Gus Sholah sejak tahun 70-an sebenarnya tetap sebagai aktivis muda NU. Beliau misalnya pernah membentuk Kelompok G, kelompom yang jadi cikal bakal persiapan kembalinya NU ke Khittah 1926.

Terkait dengan perkembangan NU, beliau beberapa kali mengkritik aneka langkah-langkah Nahdatul Ulama yang terlihat sangat politis. Misalnya, beliau mengkritisi Muktamar NU di Makassar pada 2010 dan terakhir di Jombang pada tahun 2015.

Yang terbaru, seminggu sebelum wafat, beliau bahkan masih menulis opini di koran Kompas dengan judul Refleksi 94 Tahun NU. Beliau bercerita bahwa Pesantren Tebuireng beserta Lembaga Seni Budaya Muhammadiyah PP Muhammadiyah sedang menyusun film “Jejak Langkah Dua Ulama”, kisah tentang perjuangan K.H. Ahmad Dahlan dan K.H. M. Hasyim Asy’ari. Tapi yang paling menarik menurut penulis dalam artikel ini adalah beliau melakukan otokritik terhadap NU khususnya terkait relasi NU dengan kemandirian ekonomi dan NU-Politik Praktis. Dalam kasus politik praktis, beliau juga menyatakan kurang elok mengapa sampai ada sebagian pengurus NU yang ngambek karena tidak ada menteri yang dipilih mewakili struktur PBNU. Persoalan ini menjadi titik tolak Gus Sholah untuk merfleksikan kembali sebenarnya seperti apa secara detail pilihan NU terhadap persoalan politik, agar tidak mudah diombang ambing oleh kepentingan partai politik tertentu yang belum tentu benar-benar merepresentasikan kehendak seluruh jamaah Nahdliyin.

Menjadi Tokoh Publik: Dari Komnas HAM sampai Calon Wakil Presiden

Sebagai tokoh publik, beliau pernah menjadi anggota Komnas HAM pada tahun 2002-2007. Pencalonan ini dilakukan oleh adik iparnya sendiri, Lukman Hakim Saifuddin (Menteri Agama 2009-2014). Beliau bahkan sekaligus menjadi Wakil Ketua Komnas HAM.

Ketika aktif di Komnas HAM ini, beliau sempat memimpin Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) pada Januari-September 2003 untuk menyelidiki kasus Kerusuhan Mei 1998; Ketua Tim Penyelidik Ad Hoc Pelanggaran HAM Berat Kasus Mei 1998; dan Ketuam Tim Penyelidikan Kasus Pulau Buru.

Ketika sistem Pemilihan Presiden-Wakil Presiden secara langsung mulai dilaksanakan tahun 2004, beliau dipinang Golkar menjadi Cawapres bersama Wiranto. Ketika beliau menerima “pinangan” itu, beliau mengundurkan diri dari Komnas HAM dan kepengurusan PBNU.

Kembali ke Tebuireng

Di tahun 2006, Gus Sholah dipanggil untuk menahkodai jalannya Pesantren Tebuireng. Selama beliau memimpin, ada banyak perubahan yang beliau formulasikan untuk Tebuireng. Gus Sholah secara praktis mencoba menggugah kesadaran para guru dan Pembina santri untuk meningkatkan kinerja Tebuireng dengan sistem pendidikan yang baik.

Di masanya, beliau mendirikan Madrasah Mu’allimin, Ma’had ‘Aly Bidang Hadis dan Ilmu Hadis (kini sudah setara dengan PTAI), serta penguatan klasikan Madrasah Diniyah. Bangunan-bangunan juga direnovasi dengan memperluas masjid dan membangun bangunan baru, menata dan memisahkan lingkungan sekolah dengan jalur peziarah makam Gus Dur yang sebelumnya masih tercampur, hingga mendirikan Universitas Hasyim Asy’ari, Jombang.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here