Mengenang K.H. Hasyim Wahid: Adik Bungsu Gus Dur yang Sulit Didefinisikan

0
1343

BincangSyariah.Com – Berita duka kembali datang, wa bil khusus dari keluarga besar Nahdatul Ulama. K.H. Hasyim Wahid, adik bungsu dari mendiang K.H. Abdurrahman Wahid/Gus Dur, wafat kemarin pagi dini hari, jam 04.18 (1/8). Sosok yang akrab disapa Gus Im ini wafat di RS. Mayapada, Jakarta Selatan setelah hampir 1 bulan dirawat.

Setelah disemayamkan di rumah duka kemarin, jenazah beliau langsung diterbangkan ke Jombang untuk dimakamkan di kompleks pemakaman Pesantren Mambaul Maarif, Denanyar, Jombang dan dimakamkan pada sabtu malamnya. Semasa hidup, Gus Im memang pernah berpesan kepada keluarganya jika wafat untuk dimakamkan bersebelahan dengan sang ibu dan kakeknya, Nyai Hj. Sholihah dan K.H. Bisri Syansuri (kakek dari pihak ibu). Keduanya juga dimakamkam di Pesantren Denanyar.

Menurut K.H. Abdul Hakim Manfudz, Pengasuh Pesantren Tebuireng, kepergian Gus Im adalah rangkaian duka cita bagian keluarga besar K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. Bisri Syansuri karena termasuk Gus Im, sudah lima orang keluarga besar Tebuireng yang wafat di tahun 2020. “Mulai dari Gus Sholah, kemudian Gus Abdul Wakhid, Gus Zaki Hadziq, Gus Thoriq dan terakhir ini Gus Im. Mudah-mudahan beliau berkumpul di tempat yang dimuliakan oleh Allah SWT,” tutur K.H. Abdul Hakim Mahfudz seperti dikutip dari jatim.inews.id.

Sosok Misterius, Sulit Didefinisikan

Secara personal, saya mengakui saya cukup sulit menuliskan sosok beliau. Selain tidak mudah mencari informasi tentang beliau di dunia maya (salah satu cara paling mudah saat ini mencari informasi), secara personal juga tidak pernah bertemu sama sekali. Saya hanya pernah mendengar beberapa kali senior-senior saya di Pesantren berkisah dan menyebut-nyebut beliau. Mulai dari kedekatannya dengan intelijen (atau mungkin intelijen sendiri), kelompok-kelompok rahasia, sampai tidak sembarang orang bisa bertemu – apalagi sampai dekat dengan beliau.

Baca Juga :  Mau Menikah? Tiga Hal yang Perlu Diwaspadai Bagi Calon Pasutri dari Mbah Hasyim Asy'ari

Mungkin sebagian selentingan informasi itu ada benarnya juga. Misalnya seperti dikisahkan K.H. Ahmad Mustofa Bisri/Gus Mus, dalam akun Instagramnya/@s.kakung, yang ikut mengucapkan belasungkawa, sekaligus menyampaikan kenangannya terhadap sosok Gus Im. Gus Mus mengungkapkan bahwa ia pertama kali mengenal Gus Im ini justru dikenalkan oleh sang kakak, Gus Dur. Waktu pertama kali ketemu, Gus Mus melihat sosok Gus Im sebagai sosok yang perlente; rambut kribo, berdasi, dan menenteng aktentas yang mewah. Ketika Gus Mus bertanya ke sang kakak apa kegiatannya, Gus Dur menjelaskan singkat kalau sang adik adalah seorang pengusaha dan berkantor di salah satu hotel berbintang.

Masih kenang Gus Mus, Syahdan, Gus Im tiba-tiba menghilang seperti di telan bumi. Lalu muncul beberapa tahun kemudian dengan penampilan yang berbeda. “Ketika aku diajak sang kakak berkunjung ke rumah adik bungsunya itu, aku betul-betul tercengang. Sang adik hanya memakai kaus oblong dan sarungan sekenanya. Sikapnya kepadaku pun berbeda. Kalau dulu seperti umumnya pengusaha, terkesan acuh kepada orang biasa, sekarang begitu ramah dan semanak sebagai kakaknya. Bicaranya kelihatan seperti seorang Sufi yang arif.”

Sejak saat itu juga, beliau jarang muncul di publik. Berbeda dengan sang Kakak yang jadi pusat perhatian publik di mana-mana, adiknya justru bersembunyi secara misterius dan dikabarkn hanya muncul sesekali di kalangan terbatas. Kadang ia muncul di hiruk pikuk politik nasional, tapi sebentar kemudian menghilang. Dan yang mungkin sebagian orang waktu itu tidak mengira, beliau pernah meluncurkan antologi puisi berjudul Bunglon. Lanjut Gus Mus, ketika diluncurkan di Taman Ismail Marzuki (TIM) dulu, banyak orang tidak mengira Gus Im punya sense sastra sedalam itu.

Baca Juga :  Abdullah bin Umar Ra.: “Dianggap Jelek Karena Tidak Mengamalkan Ayat Lebih Baik dari Memerangi Saudara Sendiri”

Dalam catatan Rifqi Fairuz, Gus Im mengakui meski lahir dari trah “darah biru” pesantren. Ia tak lekat dengan tradisi pesantren. Beliau sudah yatim sejak dalam kandungan karena ayahnya, K.H. Wahid Hasyim wafat dalam sebuah kecelakaan mobil. Beliau pun lahir dan tumbuh di linkungan di Menteng, Jakarta. Mengutip Tempo, « saya memang nyeleneh sendiri. Kakek, bapak, kakak saya, semuanya kiai. Nah ini saya preman. » ujar Gus Im (Tempo, 14/5/2020).

Nama Gus Im kemudian kembali santer saat beliau di masa Pemerintahan Gus Dur dijadikan staf ahli BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional). Lembaga ini didirikan waktu itu tujuannya menyehatkan iklim perbankan yang ambyar karena krisis moneter 1998 dan pengusaha nakal.

Waktu itu banyak yang menyoroti, bagaimana bisa Gus Im menjadi staf ahli BPPN padahal dia sama sekali tidak pernah punya riwayat sebagai pakar ekonomi. Gus Im hanya menjawab bahwa kemampuan utamanya adalah berhasil « menggerakkan tangan” pengusaha-pengusaha untuk membayar hutangnya. Di masanya bahkan anak-anak Soeharto berhasil « digerakkan » untuk mengembalikan uang negara, mulai dari Bambang Trihatmodjo sampai Tommy Soeharto.

Puisi-Puisi Gus Im

Untuk lebih mengenal sosok beliau, saya mencoba mengutipkan beberapa puisi beliau dari antologi puisi « Bunglon » (2005)  dengan harapan semoga dapat “mendekatkan” saya pribadi dalam memahami sosok beliau dan juga para pembaca. Semoga berkenan dan bermanfaat.

 

Kutipan 

Aku penyair tanggung

Kau Birokrat ulung

Aku mengutip kata, membuang uang

Kau membuang kata, mengutip uang.

 

Tentang Penjahat Kecil dan Penjahat Besar

Di depan terminal bis di pinggir ibukota

Sekelompok orang memukuli seorang lelaki

Yang tertangkap basah mencuri sepeda motor

Kemudian, menyeretnya ke tengah jalan raya

Baca Juga :  Tafsir Surah Al-Muddatstsir Ayat 48-56: Syafaat bagi Para Penghuni Neraka

Dan membakarnya hidup-hidup

Sampai gosong dan mati

 

Sementara, di ruang tunggu terminal bis

(kalua pun bisa disebut ruang tunggu)

sebuah TV umum tak henti-henti menyiarkan berita

tentang beberapa lelaki lain yang jauh lebih beruntung

karena pengadilan tak mampu membuktikan

bahwa mereka telah melakukan tindak pidana

korupsi dan penyalahgunaan wewenang jabatan

 

Ya!

Tampaknya, kita selalu gembira dan senang hati

Menganiaya dan menghukum mati

Penjahat-penjahat kecil

 

Ya!

Tampaknya, kita selalu ikhlas dan sukarela

Memilih penjahat-penjahat besar

Menjadi pemimpin-pemimpin kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here