Sastrawan Ali Audah: Maestro Penerjemahan Tanpa Ijazah Formal

0
130

BincangSyariah.Com – Sang Sastrawan Ali Audah lahir tanggal 14 Juli 1924 di Bondowoso, Jawa Timur. Ayahnya bernama Salim Audah dan ibunya bernama Aisyah Jubran. Ayahnya meninggal dunia saat usianya masih tujuh tahun. Saat itu, keempat saudara Ali Audah belum ada yang bekerja. Mereka diasuh sang ibunda dengan sabar dan bijaksana.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, sang Ibunda bersama kelima anaknya pindah ke kota Kewedanan. Di kota itu, ibu Ali Audah membuka restoran, tetapi tidak berumur panjang. Mereka lalu pindah ke sebuah desa industri di dekat Surabaya. Di tempat itu, hidup mereka ditanggung oleh kakak Ali Audah yang bekerja di perusahaan tenun. Untuk meringankan beban keluarganya, Ali Audah bekerja sebagai buruh di kota Surabaya.

Pada tahun 1941, di usianya yang ke 17, Ali Audah pindah ke sebuah desa di pegunungan yang letaknya dua belas kilometer sebelah timur kota Bogor, Jawa Barat dengan maksud untuk mencari kehidupan. Namun karena semakin hidup susah, Ali Audah hanya bertahan satu tahun dan pindah kembali ke desanya di dekat kota Surabaya.

Secara formal pendidikan Ali Audah hanya sampai kelas dua madrasah karena setelah ayahnya meninggal, Ali Audah tidak lagi melanjutkan sekolahnya. Pada zaman Jepang, Ali Audah menggunakan kesempatan untuk belajar sendiri. la mendapat pelajaran politik, sosial, bahasa, dan sastra di Bondowoso, Surabaya, dan Solo.

Akhir tahun 1949, setelah penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Republik Indonesia, Ali Audah pindah untuk kedua kalinya ke Bogor. Sejak tahun 1952, ia menjadi wartawan, freelance dan menulis di berbagai harian, antara lain, Pedoman AbadiIndonesia RayaSiasatKompas, dan Sinar Harapan. Pada tahun 1953, setelah terkena penyakit jantung dan paru-paru, Ali Audah keluar dari perusahaan swasta dan hidup dari hasil karangannya sendiri. Pada saat itu juga Ali Audah banyak mempelajari kebudayaan dan masalah Islam.

Baca Juga :  Prinsip-prinsip Dakwah Rasulullah

Tahun 1961-1978 Ali Audah mengajar agama Islam di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ). Ia juga menjadi ketua Himpunan Penerjemah Indonesia dan menjadi Dewan Redaksi majalah Horison, serta menjadi dosen Humaniora di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Ali Audah mendapat hadiah pertama dalam menulis biografi dan filsafat penyair Pakistan, Muhammad Iqbal. Motivasi Ali Audah menjadi pengarang karena ia ingin berbicara. Banyak masalah yang menekan perasaan dan pikirannya, tetapi ia tidak mengerti cara menyatakannya. Ali Audah ingin menyatakan pikiran dan perasaan yang berkecamuk dalam jiwanya, tetapi ia tidak pandai dan tidak suka bicara. Ali Audah kini lebih dikenal sebagai seorang penerjemah daripada sastrawan. Dua puluh tahun lebih ia menerjemahkan buku-buku sastra, filsafat, dan agama. Lebih lanjut, Ali Audah mengkhususkan diri dalam menerjemahkan karya sastra Arab modern. Pengkhususan itu dilakukan atas dorongan Asrul Sani. Ali Audah juga mempunyai perhatian yang besar dalam pengajaran sastra di sekolah (SLTA).

Beberapa cerpen, novel, puisi dan naskah drama lahir dari tangannya. Namun yang nantinya paling dikenal adalah karya terjemahannya. Beberapa buku dia terjemahkan dari Arab ke Indonesia. Ada juga dari bahasa Inggris. Salah satu terjemahannya yang laku keras adalah The Holy Quran karya Abdullah Yusuf Ali (1934) yang diterjemahkan dari bahasa Inggris. Selain itu, ia juga menerjemahkan karya penulis Arab Muhammad Husain Haikal tentang Biografi Nabi Muhammad Saw dan Biografi Khulafaurrasyidin.

Meskipun jenjang pendidikannya hanya sampai kelas dua madrasah, kemampuannya dalam menerjemahkan bahasa Arab diakui banyak kalangan. Bahkan seringkali karya-karya terjemahan Ali Audah menjadi rujukan dan referensi utama.

Ali Audah wafat tanggal 20 Juni 2017 di usianya yang ke 93 tahun.

Baca Juga :  Sejarah Terjemahan Al-Qur'an Kementerian Agama

Tulisan ini sudah pernah dipublikasikan di harakahislamiyah.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here