Mengenal Tuan Guru Hasanain, Kyai Sekaligus Aktivis Lingkungan Hidup

0
506

BincangSyariah.Com – Rabu, 30 0ktober 2019 sebuah acara seminar bertemakan “Life Humans, Life Nature” berlangsung sejak pukul delapan pagi hingga 4 sore di Hotel Double Tree By Hilton, Jakarta. Acara tersebut digagas oleh Wahid Foundation, sebuah lembaga penelitian yang fokus pada isu-isu toleransi, radikalisme dan terorisme bekerjasama dengan Kementrian Luar Negeri Jerman. Beberapa narasumber adalah Hayu Prabowo, Tuan Guru Hasanain Juaini (NTB), Tofiq Pasha Mooraj dan Ahmad Shabbar (Pakistan) serta Khazi Sajidul Haque dan Md Abu Suyem yang merupakan perwakilan dari Bangladesh.

Para hadirin yang datang pada kesempatan itu datang dari berbagai lini, terutama komunitas-komunitas yang fokus pada isu toleransi dan perdamaian. Salah satu narasumber yang sangat menginspirasi dari Indonesia adalah Tuan Guru Hasanain Juaini, pengasuh pesantren Nurul Haramain, Lombok Barat. Kisah aksi kepeduliannya terhadap lingkungan hidup menjadi perhatian publik dan simpatisan atau komunitas lingkungan baik kalangan nasional maupun internasional.

Kisahnya dimulai setelah ia lulus dari pesantrennya lalu diamanati untuk meneruskan perjuangan orang tuanya untuk memimpin pesantren Nurul Haramaian. Ia memiliki prinsip bahwa pesantren harus menjadi garda terdepan untuk menjaga lingkungan dan merawat bumi. Kata-katanya lalu dibuktikan dengan aksi nyata. Ia mulai melakukan penanaman bibit dengan menggerakkan santri-santrinya. Setelah itu ia membagikan bibit tersebut secara Cuma-Cuma kepada warga agar ditanami di lahan yang kosong.

“saya bagikan itu bibit kepada warga secara cuma-cuma. Kepada jamah di masjid, tukang becak yang lewat, siapapun yang saya temui untuk menanam pohon di tanah yang kosong,” tuturnya saat berbicara di depan para hadirin.

Lahan kosong yang berada di sekitar pesantren menjadi tempat pertama kali ia memulai aksi penaman bibit. Kegiatan ini terus ia lakukan, sampai beberapa kali mencuri perhatian komunitas dari luar negeri dan dalam negeri untuk mendanai kegiatan tersebut juga.

Baca Juga :  Setelah Mengenal Allah

“Saya lakukan saja terus itu penanaman pohon dan penyebaran bibit itu, tidak repot-repot mengumumkan kepada orang-orang melalui media sosial atau apapun. Sampai pada akhirnya beberapa komunitas luar negeri mengetahui kegiatan saya. Kegiatan saya ini pernah didanai sampai tiga milyar dari komunitas luar negeri, lalu oleh Buya Syafii Maarif sekian ratus juga. Tapi ternyata tidak habis juga tugas ini. Akhirnya saya menyimpulkan bahwa kegiatan lingkungan seperti ini memang tidak ada berhentinya.”

Aksi beliau ini sudah dilakukan selama 17 tahun, dimulai sejak ia diamanati untuk memegang tanggung jawab di Pesantren Nurul Haramain. Selain melakukan penanaman pohon di berbagai tanah kosong atau membagikannya kepada masyarakat luar, ia juga melakukan pengelolaan sampah plastik. Seperti diolah menjadi bahan bakar untuk pembakaran batu bata dan sebagainya. Ia memiliki alat semacam penge-press sampah-sampah plastik  dengan kekuatan lebih dari 200 ton. Sampah tersebut diolah dengan cara ditekan oleh menggunakan mesin tersebut dan didiamkan beberapa bulan lalu baru bisa digunakan.

Selain itu, beliau telah beberapa kali diminta untuk mengajarkan ilmunya tentang pengelolaan sampah plastik dan penanaman bibit pohon di berbagai tempat. Ia menuturka saat seorang habib dari Yaman berkunjung ke pesantrennya ia tidak meminta sang habib untuk mengisi ceramah, melainkan melihat bagaimana pengelolaan sampah plastik dan kegiatan penanaman bibit pohon berlangsung. Singkat cerita sang habib memintanya untuk ke Yaman dan memberi tahu bagaimana cara pengelolaan sampah plastik dan penanaman bibit pohon. Tidak hanya di Yaman, beliau juga pernah diminta untuk mengajarkan ilmunya tersebut di pesantrennya terdahulu, Gontor.

Beberapa kali Tuan Guru Hasan mengingatkan bahwa lakukanlah sesuatu untuk banyak orang, maka orang lain akan melakukan sesuatu untukmu. Ia menuturkan, “saya waktu itu tidak peduli bagaimana kehidupan saya. Saya tidak pernah khawatir. Saking sibuknya melakukan kegiatan aktivitas lingkungan ini saya sampai dibelikan rumah dan mobil. Tapi intinya bukan di situ, bukan berarti kita melakukan sesuatu karena mengharap imbalan juga. Kita ini diberi amanat sebagai ‘khalifah’ di bumi. Sebagai perawat bumi. Itu yang saya lakukan. “Do to others, and others will do for you”, pungkasnya.

Baca Juga :  Ustadz Arifin Ilham Wafat di Malaysia, Ini Profil Kiprah Dakwahnya

Kegiatannya yang telah berlangsung selama belasan tahun itu menginspirasi banyak orang hingga akhirnya Tuan Guru Hasanain mendirikan lembaga khusus yang dibantu oleh para santrinya untuk melakukan pengelolaan bibit pohon dan kemudian dibagikan kepada beberapa pesantren atau komunitas yang berkomitmen untuk melakukan penanaman pohon dan penghijauan lingkungan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here