Mengenal Tentang Wisata Halal Lebih Jauh

1
22

BincangSyariah.Com – Istilah wisata halal atau halal tourism sering kita dengar dan lihat belakangan ini. Halal tourism menjadi jargon di banyak tempat wisata dan menjadi produk unggulan beberapa daerah di Indonesia. Sayangnya, wisata halal kerap dikaitkan dengan Islam yang eksklusif. Padahal, pengertian wisata halal jauh dari anggapan tersebut.

Salah paham tentang halal tourism bisa menjadi pelajaran bagi kita agar tidak tertimpa stigma saat melihat sesuatu sebelum benar-benar memahami apa yang dimaksudkan. Halal yang dimaksud bukan hanya tentang tempat wisata yang syar’i atau sesuai syariat Islam. Halal yang dimaksud juga mencakup tempat wisata yang ramah terhadap orang Islam, namun juga tidak mengurangi kenyamanan para wisatawan yang beragama selain Islam.

Penolakan halal tourism di Bali adalah satu contoh kasus mispersepsi yang terjadi. Dalam pengertian halal tourism, tempat-tempat wisata Bali sedang tidak di-islam-kan, akan tetapi Bali akan menjadi kota wisata yang jauh lebih ramah terhadap para wisatawan Muslim baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri.

Kebangkitan Sektor Pariwisata

Saat ini, sektor pariwisata adalah salah satu sektor yang meningkatkan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia, termasuk di  Indonesia. Tak heran jika di seluruh belahan dunia, wisata halal atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai halal tourism semakin banyak diminati. Penyedia jasa perjalanan dan penginapan bahkan pakset wisata pun bertaburan dalam banyak e-commerce.

Ada peningkatan wisatawan Muslim dari tahun ke tahun. Sehingga, pengembangan wisata halal pun banyak dilakukan oleh berbagai negara. Pengembangan tersebut dilakukan baik oleh negara dengan mayoritas Muslim dan negara dengan minoritas Muslim.

Jika kita melihat di berbagai media baik cetak maupun elektronik dan media sosial, saat ini, pengetahuan dan kesadaran akan produk halal menjadikan pertumbuhan industri halal semakin meningkat. Meningkatnya industri halal tersebut membuat halal tourism menjadi sebuah fenomena baru.

Fenomena tersebut didukung oleh berbagai literatur yang menjelaskan bahwa wisatawan Muslim dinilai peduli terhadap konsumsi produk dan layanan sesuai syariah saat berkunjung ketempat wisata. Salah satu kajian yang mencatat hal tersebut adalah tulisan berjudul Halal Tourism: Concepts, Practises, Challenges and Future. Tourism Management Perspective (2016) karya M. Battour dan Ismail.

Perkembangan Wisata Halal

Masih dalam tulisan dengan sumber yang sama, Battour dan Ismail juga menyebutkan bahwa minat terhadap wisata halal mengalami pertumbuhan yang meningkat. Peningkatan tersebut diiringi pula dengan meningkatnya wisatawan Muslim dari tahun ke tahun.

Untuk bisa mengeksplorasi potensi besar pariwisata halal tersebut, banyak negara bahkan daerah seperti provinsi dan kabupaten yang mulai menyediakan produk, fasilitas, dan infrastruktur pariwisata untuk memenuhi kebutuhan wisatawan Muslim. Usaha tersebut bertujuan untuk lebih banyak menjaring wisatawan Muslim baik yang berasal dari lokal maupun internasional. Usaha ini tak hanya dilakukan oleh Indonesia akan tetapi dilakukan juga oleh beberapa negara seperti Korea Selatan, Jerman, Malaysia, Turki, dan lain-lain.

Sayangnya, masih banyak para pelaku bisnis dan pihak yang terlibat di sektor pariwisata terkendala dalam pemahaman tentang wisata halal baik pemahaman tentang produk, fasilitas atau infrastrukturnya. Maka dari itu, duduk pengertian tentang wisata halal sebaiknya dimengerti terlebih dahulu bukan hanya dari para pelaku bisnis pariwisata, namun juga para wisatawannya.

Sektor pariwisata memainkan peranan penting dalam ekonomi dunia. Hal ini disebabkan karena salah satu kontributor pertumbuhan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi di negara manapun. Saat ini, sektor pariwisata bahkan dipandang sebagai salah satu sumber paling penting bagi Produk Domestik Bruto (PDB). Peningkatan wisatawan Muslim adalah peluang sekaligus tantangan untuk meningkatkan sektor pariwisata.

Makna Kata “Halal”

Ada banyak terminologi yang digunakan untuk menggambarkan tentang tempat wisata yang ramah Islam di berbagai belahan dunia. Ada yang menggunakan halal tourism, wisata islami (islamic tourism), atau sharia travel. Di Indonesia sendiri, istilah wisata halal jauh lebih populer. Sementara itu, dalam skala dunia, halal tourism dan islamic tourism adalah terminologi yang sering digunakan di berbagai literatur.

Wisata islami atau wisata halal memiliki fokus yang berbeda dengan pariwisata pada umunya. Wisata ini berfokus pada banyak isu yang berbeda. Ada yang memiliki fokus pada partisipasi dan keterlibatan oleh Muslim. Ada yang fokus pada tempat-tempat wisata dan tujuan. Ada pula yang berfokus pada produk yakni penginapan, makanan, hiburan, minuman, dan lain sebagainya. Ada juga yang justru fokus pada dimensi seperti sosial, ekonomi, budaya, agama, dan lainnya. Selain itu semua, ada juga yang memiliki fokus pada pengelolaan layanan baik dalam pemasaran, pertimbangan budaya, agama, dain lain-lain.

Kata halal berasal dari bahas Arab yaitu halla, yahillu, hillan, dan wahalalan yang memiliki makna dibenarkan atau dibolehkan oleh hukum syarak. Yusuf Al-Qhardhawi dalam Al-Halal wa al-Haram fi al-Islam (1994) mencatat bahwa kata “halal” emiliki arti sebagai sesuatu yang dibolehkan atau diizinkan oleh Allah Swt.

Kata halal dalah sumber utama yang tidak hanya terkait dengan makanan atau produk makanan, tapi juga memasuki semua aspek kehidupan, seperti perbankan dan keuangan, kosmetik, pekerjaan, pariwisata, dan lain sebagainya. Pariwisata halal adalah salah satu konsep yang muncul terkait dengan halal dan telah didefinisikan dalam berbagai cara oleh banyak ahli.

Ada banyak dasar dalam pariwisata halal termasuk komponen-komponen seperti makanan halal, transportasi halal, hotel halal, logistik halal, keuangan islami, paket perjalanan islami, dan spa halal. Halal tourism dan islamic tourism memiliki arti yang hampir sama yakni sesuai dengan ajaran Islam. Sayangnya, penggunaan terminologi wisata halal dan wisata islami menjadi perdebatan hingga saat ini. Padahal secara garis besar keduanya memiliki arti yang serupa.

Hatim El-Gohary dalam Halal Tourism, is it Really Halal? menuliskan bahwa penggunaan terminologi wisata halal dan wisata islami berbeda. Wisata islami seperti menjelaskan aktivitas atau produk tertentu yang “Islami” yakni memberikan indikasi bahwa aktivitas atau produk tersebut sepenuhnya memenuhi syariat islam yang mungkin tidak berlaku pada setiap produk dan atau kegiatan pariwisata halal.

Selain itu, istilah islami juga dianggap hanya diterapkan pada hal yang berhubungan langsung dengan iman dan ajaran Islam seperti hukum Islam atau Syariah, nilai-nilai Islam, prinsip dan keyakinan, serta ibadah Islam. Penggunaan kata wisata islami memberi kesan kegiatan atau produk hanya digunakan untuk Muslim, padahal non-muslim juga dapat mengkonsumsi produk atau kegiatan wisata tersebut.

Penggunaan terminologi tersebut relatif dan berbeda dari satu negara dengan negara lainnya, seperti Malaysia menggunakan Islamic Tourism Centre yang merupakan badan penasehat untuk Kementrian Pariwisata. Di Turki, ada penggunaan terminologi Halal Holiday sebagai upaya mempromosikan wisata halalnya. Sedangkan Indonesia menggunakan wisata syariah (Sharia Tourism) dan wisata halal untuk mempromosikan wisatanya.

Penggunaan istilah apa pun sebenarnya sah-sah saja selama prinsip-prinsip dalam wisata halal terimplementasi dengan baik dan benar, tidak hanya klaim semata. Akan tetapi, kita mesti menggarisbawahi bahwa halal tourism tidak hanya eksklusif untuk orang Islam, tapi wisatawan dari agama lain pun bisa menikmatinya. Hal yang paling mendasar dari halal tourism adalah bahwa tempat wisata tersebut ramah terhadap wisatawan yang beragama Islam.[]

Baca: Ayang Utriza Yakin: Pemerintah Harus Ambil Alih Sertifikasi Halal

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here