Mengenal Tafsir “al-Durr al-Mantsur” karya Imam Al-Suyuthi

2
5142

BincangSyariah.com – Alquran karim sebagai kitab berisi petunjuk bagi umat manusia, khususnya umat Islam. Alquran mendapat apresiasi agung dari banyak manusia, apalagi dari pemeluk Islam itu sendiri. Produk tafsir atas ayat-ayat yang ada dalam Alquran adalah salah satu bentuknya. Di antara sejumlah ulama besar yang sangat menikmati jamuan dari Allah ini adalah Imam Suyuthi.

Imam Suyuthi terkenal sebagai ulama yang produktif melahirkan karya, tak terkecuali dalam bidang tafsir Alquran.

Imam Suyuthi dilahirkan di daerah Suyuth, Mesir, pada awal Rajab tahun 849 H. Nama as-Suyuthi sendiri dinisbahkan ke daerah tempat kelahirannya. Ia dilahirkan dari keluarga yang sangat menghargai ilmu pengetahuan. Dari hasil tempaan keluarganya, belum genap berumur 8 tahun ia sudah hafal Alquran. Selama hidupnya, ia telah menimba ilmu dari 600 guru dengan beragam cabang ilmu yang dia timba.

Imam Suyuthi merupakan ulama yang suka mengasingkan diri dan melahirkan karya. Sayyid Muhammad Abdul Hayyi al-Kannany menuturkan bahwa Imam Suyuthi berhasil melahirkan 538 karya dari tangannya. Karya itu tersebar dalam berbagai bidang keilmuan seperti tafsir, hadis, tasawuf, fikih, ushul fikih, balaghah dan lain sebagainya.

Dalam sebuah kesempatan Imam Suyuthi mengataakan bahwa telah sempurna bagiku sarana untuk berijtihad. Sebagai tahaddus bin-ni’mah, ucap beliau, seandainya saya berkehendak untuk menulis tentang segala permasalahan dalam bidang syariah maka ia akan mampu menuliskannya lengkap beserta dalil dan analisa pemahamannya, tentunya dengan izin Allah. Dalam praktik fiqihnya ia berkiblat ke mazhab Syafi’i dan dalam teologi ke mazhab Asy’ariyah.

Terkhusus pada bidang tafsir, al-Qori dalam Syarhul Misykah menjelaskan bahwa Imam Suyuthi merupakan sosok yang menghidupkan geliat khazanah tafsir dengan karyanya Durrul Mantsur. Selain itu, karya tafsirnya yang lain, Tafsir Jalalain yang dianggit bersama karibnya Jalaluddin al-Mahalli dikenal luas oleh mereka yang belajar Islam lewat kajian tafsir di Indonesia.

Baca Juga :  Islam: Agama yang Mudah dan Ramah

Imam Suyuthi mengakhiri lembar hidupnya pada tahun 911 hijriah. Jasadnya disemayamkan di Kairo, tidak jauh dari universitas al-Azhar, tidak jauh dari pemakaman nashirus sunnah (pembela sunnah) Imam Asy-Syafi’i.

Sekilas Tentang Tafsir al-Durrul al-Mantsur

Nama lengkap kitab ini adalah adalah Al-Durrul al-Mantsur fi Tafsir al-Qur’an bil Ma’tsur. Judul itu lebih kurang memiliki arti mutiara yang tersebar dalam penafsiran Alquran menggunakan atsar.

Dalam pendahuluan kitabnya, Imam Suyuthi mengurai sendiri ihwal tafsirnya. Tafsir ini adalah ringkasan dari tafsir yang bernama Turjumanul Qur’an. Yakni sebuah tafsir tebal yang menyandarkan penafsirannya kepada Rasulullah saw lengkap dengan sanad yang bersambung kepadanya. Imam Suyuthi melakukan peringkasan dengan memotong sanadnya guna mempersingkat pembahasan. Kendati demikian, Imam Suyuthi tidak men-takhrij hadis kecuali dari kitab-kitab yang otoritatif.

Muhammad Ismail Saleh Batubara, alumnus UIN Sumatera Utara tahun 2016, menjelaskan dalam tesisnya bahwa kitab ini memuat 100.000 hadis marfu’ (hadis yang redaksi periwayatannya disandarkan kepada Rasulullah) dan 100.000 hadis mauquf (hadis yang redaksi periwayatannya disandarkan kepada sahabat).

Metode yang dipakai oleh Imam Suyuthi dalam tafsir ini adalah metode tahlili (analitis). Imam Suyuthi menafsirkan ayat ini berdasarkan urutan mushaf, mulai dari al-fatihah hingga an-Nas. Kendati dikatakan sebagai tahlili (analitis), Imam Suyuthi tidak memberikan komentar apapun atas atsar (hadis Rasulullah saw atau ungkapan sahabat) yang dia nukil dalam tafsirnya. Oleh karena itu, tafsir ini secara keseluruhan menggunakan atsar sebagai bahan penafsiran ayat-ayatnya.

Dalam penafsiranya, Imam Suyuthi menukil hadis dan ungkapan sahabat dari berbagai imam. Sesekali beliau menyebutkan nama kitabnya, tapi dengan tidak mencantumkan sanad hadis tersebut. Beliau dengan mencantumkan ayat atau sekelompok ayat yang hendak ditafsirkan (seraya diterangkan jenis Makkiyah-Madaniyahnya dan jumlah ayatnya). Kemudian beliau menyodorkan hadis-hadis yang memiliki keterkaitan dengan ayat tersebut.

Baca Juga :  Imam As-Suyuthi: Ulama Ensiklopedis yang Hampir Tertuduh Plagiat

Sebagai contoh adalah ketika menafsirkan sekelompok awal ayat surah al-Waqi’ah (6 ayat) kemudian ia langsung menukil atsar :

“Diriwayatkan dari Ibnu ad-Dhoris, an-Nuhhas, Ibnu Mardawaih dan al-Baihaqi dalam kitab ad-Dalail, dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata: “surat al-Waqi’ah diturunkan di Mekkah.”

Diriwayatkan dari Ibnu Mardawaih dari Anas, bahwa Rasulullah saw bersabda: Surat al-Waqi’ah adalah surat (yang mengandung unsur, pen) kekayaan. Maka bacalah oleh kalian dan ajarkan kepada anak-anak kalian.”

Tafsir ini jika merujuk kepada terbitan Darul Fikr tahun 2011 terdapat 8 jilid. Dengan masing-masing jilid memiliki tebal kisaran 600 hingga 800 halaman.

Muhammad Ismail Shaleh Batubara membuat catatan mengenai tafsir ini. Bahwa ketidaklengkapan sanad membuat pelacakan dan validasi keotentikan hadis sedikit terhalang. Kendati Imam Suyuthi dalam beberapa hadis menyebutkan nama kitab yang dinukil. Kemudian, tidak adanya penafsiran ayat menggunakan ayat (mencukupkan diri pada penukilan hadis dan ungkapan sahabat) juga merupakan hal yang ditinggalkan Imam Suyuthi.

Kitab Durrul Mantsur adalah kitab agung dalam kajian tafsir. Ia merupakan mahakarya imam besar yang patut kita apresiasi, banggakan, dan kita rayakan kehadirannya.

 

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here