Mengenal Sosok Guru Sekumpul, Haul Beliau ke-14 Dilaksanakan Mulai Hari Ini

1
4345

BincangSyariah.Com – K.H. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani bin H. Abd. Manaf bin Muhammad Seman bin H. M. Sa’ad bin H. Abdullah bin Mufti H.M. Khalid bin Khalifah H. Hasanuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, atau yang lebih dikenal dengan sapaan Abah Guru Sekumpul, mulai besok akan dimulai peringatan hari wafatnya yang ke-14. Abah Guru Sekumpul adalah di antara ulama besar asal Martapura, Banjarmasin, Kalimantan Selatan yang meski sudah wafat empat belas tahun yang lalu, namun namanya masih harum dan hingga saat ini masih ramai diziarahi pasaranya. Masyarakat Kalimantan khususnya, meyakini bahkan sejak beliau masih hidup.

Profil dan Perjalanan Keilmuan 

Beliau dilahirkan di Tunggul Irang, Martapura, 11 Februari 1942 dan wafat di rumahnya sendiri di Sekumpul, Martapura, pada 10 Agustus 2005 setelah sebelumnya dirawat di rumah sakit Mount Elizabeth, Singapura. Secara keturunan, beliau adalah keturunan ke-8 dari ulama besar Kalimantan, Syaikh Maulana Muhammad bin Arsyad al-Banjari, Hakim Agung (Qadhi al-Qudhat) Kesultanan Banjar pada abad ke-17. Bagi yang mengenal khazanah pesantren, Syaikh Muhammad bin Arsyad al-Banjari adalah pengarang kitab Sabil al-Muhtadin, kitab fikih mazhab Syafi’i berbahasa melayu.

Waktu kecil, namanya adalah Ahmad Qusyairi.  Setelah lahir, keluarga pindah ke Kampung Keraton, Martapura. Qusyairi kecil selalu didampingi oleh ayahnya, Abdul Ghani, dan neneknya, Salbiyah, untuk belajar Alquran dan ajaran-ajaran luhur keislaman. Meskipun secara ekonomi tidak bisa dikatakan cukup, bahkan bisa dikatakan kekurangan. Ayahnya seperti dikisahkan dalam penelitian Amiqah berjudul “Motivasi Jamaah Mengikuti Haul Guru Sekumpul di Yogyakarta” sangat semangat untuk bekerja apa saja dan dalam satu kisah – seperti tertera di laman Wikipedia – rumahnya yang sudah tua dan reot menyebabkan rembesan air menetes ke dalam rumah. Untuk menjaga agar anaknya tidak kebasahan, ayah beliau melindunginya dengan menutupi dia dengan punggungnya. Ayahnya juga pernah membuka kedai minuman. Dikisahkan, ia bahkan selalu minta kepada pengunjungnya jika minumnya tidak habis untuk diberikan kepada keluarganya.

Baca Juga :  Mungkinkah Melihat Allah dalam Mimpi?

Namun begitu, beliau sejak kecil selalu diajari untuk mencintai ulama. Di usia 7 tahun, ia sudah hafal Alquran. Di usia 9 tahun, beliau sudah hafal Tafsir al-Jalalain, tafsir Alquran yang dikarang oleh dua ulama besar asal Mesir, Jalaluddin al-Mahalli dan al-Suyuthi.

Beliau menghabiskan masa pendidikannya di Pesantren Darussalam, Martapura, mulai dari Ibtidaiyah hingga Aliyah. Di masa sekolah inilah, namanya diubah menjadi Muhammad Zaini.

Di masa ini pula, ia selalu didampingi oleh Syekh Seman Mulia, yang tak lain adalah pamannya sendiri. Syekh Seman ini yang selalu mengantarkan beliau belajar ke berbagai ulama sesuai dengan keahliannya. Ketika Muhammad Zaini diarahkan untuk belajar hadis dan tafsir, maka diantarkanlah oleh sang Paman menemui ahlinya yaitu Syaikh Anang Sya’rani Arif.

Kelak, Guru Sekumpul pernah berujar bahwa pamannya ini sebenarnya pakar di hampir semua keilmuan. Namun ketawaduan membuat pamannya lebih mendorong keponakannya belajar kepada ahli lain dan beliau tidak menunjukkan keilmuannya.

Selain Guru Seman dan Syaikh Anang Sya’rani, beliau juga berguru kepada ulama-ulama lain misalnya K.H. Husain Qadri, K.H. Salim Ma’ruf, Syaikh Salman Jalil (pakar Falak dan Faraidh), dan Syaikh Syarwani Abdan Bangil (dikenal sebagai Guru Bangil). Ia juga pernah belajar dengan Abah Falak, Pagentongan, Bogor.

Kemudian, beliau juga memiliki beberapa guru selama di Mekkah, misalnya Guru Kasyful Anwar (tidak lain adalah pamannya sendiri, yang pernah mengajar di Masjidil Haram), Syaikh Sayyid Amin al-Kutbi, Syaikh Yasin bin Isa al-Fadani, Syaikh Hasan Masyath, Syaikh Ismail Yamani, dan lainnya. Di Mekkah ini, beliau belajar bersama Syaikh Syarwani Abdan Bangil, yang terhitung masih sepupu dengannya. Dengan Syaikh Amin al-Kutbi inilah, kemungkinan beliau banyak berguru dalam persoalan tarikat dan tasawuf.

Baca Juga :  Mengenang Mbah Moen Wafat, Seorang Santri Menulis Syair Mengenang Beliau

Mulai Membuka Pengajian

Selesai belajar di Mekkah, di era 1970-an beliau mulai membuka pengajian di rumahnya di Kampung Keraton. Awalnya yang diajarkan adalah nahwu sharaf, namun seiring berjalannya waktu karena yang hadir semakin beragam, maka beliau mulai menggantinya dengan pembacaan Simtudduror dan Maulid al-Barzanji lalu membaca beraneka macam kitab. Setiap hari, jumlah peserta yang ikut pengajian terus bertambah.

Di tahun 1990-an, beliau memindahkan pengajian ke desa Sekumpul, dimana beliau disana merintis pembangunan Mushola Ar-Raudhah. Pengajian terus dilakukan di nushola ini mulai tahun 1990-an hingga beliau wafat. Di sinilah beliau mulai mendapatkan sapaan Guru Sekumpul, dan beberapa sapaan lain semisal Guru Izai atau Guru Ijai.

Karamah (Keajaiban) sampai Petuah-Petuah Hikmah

 Pengajian beliau seolah menjadi aliran air hikmah dan spiritual bagi masyarakat Banjar khususnya dan Kalimantan secara luas. Beliau banyak dikenal orang juga akibat dari karamah (keajaiban yang di luar nalar) yang dikenal masyarakat. Misalnya, beliau dikenal sudah memiliki kemampuan kasyaf hissi sejak berumur 10 tahun, yaitu melihat dan mendengar apa yang di dalam atau tertutup dinding.

Dikisahkan, masyarakat pernah mengadu kepada beliau ketika tidak kunjung hujan dan kemarau. Lalu, beliau menggoyangkan pohon pisang beberapa kali dan turun hujan. Kisah lain misalnya, waktu beliau masih memberikan pengajian di Kampung Keraton, ia sedang bercerita tentang kesalihan ulama-ulama terdahulu. Hingga kemudian pembicaraan sampai kepada buah rambutan, ia lalu mengambil sesuatu dengan kedua tangannya ke belakang, lalu keluarlah rambutan. Padahal, waktu itu belum musimnya rambutan. Contoh lain misalnya, beliau setelah makan sepiring sampai habis, makanan di piring itu kemudian tetap penuh seolah tidak dimakan.

Baca Juga :  Kedahsyatan Ucapan Insyaallah

Namun, beliau berulang kali menegaskan bahwa karamah terbaik adalah istiqamah (konsisten) di jalan Allah. Karena itu, beliau menasihati jangan tertipu dengan keanehan-keanehan dan berpikir untuk mengamalkan wirid atau ibadah tertentu agar memiliki karamah tersebut. Karena hakikatnya, karamah itu anugerah, bukan keahlian.

Beberapa nasihatnya yang paling sering disampaikan adalah: 1) menghormati ulama dan orang tua; 2) baik sangka terhadap muslimin; 3) tidak pelit; 4) jangan menyakiti orang lain; 5) jangan bermusuhan; 6) manis muka; 7) mengampunkan kesalahan orang lain; 8) berpegang kepada Allah pada diterimanya segala hajat; 9) yakinlah keselamatan itu ada pada kebenaran.  

Karya-Karya

Di masa hidup beliau, ia menulis beberapa karya. Separuhnya bertemakan Tarikan Sammaniyah, tarikat yang beliau amalkan. Di antaranya adalah,

  1. Risalah Mubarakah
  2. Manaqib As-Syaikh As-Sayyid Muhammad bin Abdul Karim al-Qadiri al-Hasani al-Samman al-Madani
  3. Ar-Risalah An-Nuraniyyah fi Syarh Tawassulati as-Sammaniyah
  4. Nubdzatun fi manaqib al-Imam al-Masyhur bi al-Ustadz al-A’zham Muhammad bin ‘Ali Ba’alawi.

Menjelang Wafat 

Sejak tahun 2000, pengajian beliau mulai dikurangi karena beliau mulai menderita sakit. Di tahun 2005, pengajiannya diberhentikan karena kondisi fisik beliau yang tidak memungkinkan akibat penyakit ginjal yang diderita. Beliau sempat dirawat di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura selama 10 hari. Satu hari sebelum wafat, beliau dibawa pulang dari Singapura ke Kalimantan Selatan. Pada tanggal 10 Agustus 2005, pukul 05.10, beliau mengembuskan nafas terakhir dan berpulang pada usia 63 tahun di kediamannya, Sekumpul, Martapura. Beliau dimakamkan di kompleks pengajian Mushalla Ar-Raudhah yang kini dikenal sebagai Kubah Guru Sekumpul.

Hari ini, haul beliau yang ke-14, dan dilaksanakan mulai 9 hingga 11 Maret mendatang. Setiap tahun, kegiatan haul beliau selalu dihadiri oleh ribuan orang, tidak hanya berasal dari Kalimantan sendiri, tapi dari luar Kalimantan.

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here