Mengenal Silsilah Imam As-Syafii Ra. Hingga Nabi Ibrahim As.

0
2643

BincangSyariah.Com – Imam asy-Syafii lahir 150 H./ 767 M. di Gaza, Palestina (dulu termasuk bagian dari negeri Syam), dan wafat 204 H./820 M. pada usia 54 tahun di Mesir (Muhammad Abu Zahrah, asy-Syafi‘i: Hayatuhu wa ‘Ashruhû-Ara’uhu wa Fiqhuhu, hlm. 14 & 29). Beliau wafat pada malam Jumaat setelah Isya’ akhir bulan Rajab dan dimakamkan pada hari Jumaat (lihat pengantar al-Kitab al-Umm, Dâr Qutaibah, I, 1996: 70).

Namanya secara sederhana adalah Abu ‘Abdillah Muhammad bin Idris asy-Syafi‘i ra. (Habib Zain bin Smith, al-Fawa’id al-Mukhtarah, 2008: 486). Adapun secara lengkap adalah Muhammad bin Idris bin ‘Abbas bin Utsman bin Syafi‘ bin Sa’ib bin ‘Ubaid bin ‘Abd Yazid bin Hasyim bin Muththalib bin ‘Abdi Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka‘ab bin Lu’ai bin Galib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhir bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma‘ad bin ‘Adnan bin ’Udda bin ’Udad bin al-Humaisa‘ bin Nabayut bin Isma‘il bin Ibrahim, Khalil ar-Rahman, as. Hal ini disebutkan oleh Ahmad Hijazi as-Saqa ketika memberikan pengantar kitab Manaqib al-Imam asy-Syafi‘i karya Imam Fakhruddin ar-Razi (penerbit Maktabah al-Kulliyat al-Azhariyyah, 1986: 3 & 23).

Dengan demikian, Imam asy-Syafi‘i ra. adalah keturunan dari paman Rasulullah saw., di mana dari jalur ayah bersambung ke Muththalib dan dari jalur nenek moyang bersambung  ke Hasyim (Manakib al-Imam asy-Syafi‘i, hlm. 23). Selain itu, nasab beliau juga bersambung dengan Imam ‘Ali bin Abi Thalib ra. Disebutkan bahwa ibu Imam ‘Ali ra., Fatimah bintu Asad bin Hasyim bin ‘Abdi Manaf, memiliki saudara bernama Khalidah bintu Asad bin Hasyim bin ‘Abdi Manaf yang memiliki anak bernama asy-Syifa. Asy-Syifa menikah dengan ‘Ubaid dan memiliki anak bernama Sa’ib (lihat pengantar al-Kitab al-Umm, hlm. 39).

Baca Juga :  Tiga Alasan Gus Dur Menyebut Islam Agama Demokrasi 

Imam ar-Razi menyebutkan dalam Manaqib al-Imam asy-Syafi‘i bahwa ‘Abd Manaf memiliki empat anak, yaitu: Hasyim (kakek Rasulullah saw.), Muththaalib (kakek Imam asy-Syafi‘i ra.), ‘Abd Syams (kakek Sayyidina Utsman ra. dan Bani Umayyah), dan Naufal (kakek Jubair bin Muth‘im).

Hasyim dan Muththalib berkasih sayang satu sama lain dan saling menolong di antara mereka. Sehingga Hasyim dan Muththalib mengukuhkan persaudaraan dari dua sisi, yaitu dari sisi nasab dan dari sisi saling tolong dan berkasih-sayang. Sementara ‘Abd Syams dan Naufal saling berdebat, berselisih, dan bahkan bertengkar dan bermusuhan satu sama lain. Selain itu, mereka juga memusuhi Hasyim. Ketika Nabi Muhammad saw. diutus dengan risalah Islam, maka orang-orang yang mengganggu dan menyakiti Rasulullah saw. salah satunya adalah dari Banu ‘Abd Syams dan Naufal. Sedangkan Banu Hasyim dan Muththalib sama-sama berdiri tegak membantu dan membela perjuangan dakwah Rasulullah saw. (hlm. 30-32).

Dengan demikian, tidak heran apabila Imam asy-Syafi‘i ra. yang merupakan keturunan Muththalib menjadi salah satu penolong dan pembela yang turut serta menyebarkan keluhuran ajaran-ajaran Rasulullah saw. yang merupakan keturunan Hasyim. Sehingga beliau dikenal dengan julukan nashir al-hadits atau penolong dan pembela hadis Nabi saw. (hlm. 30-31).

Bahkan beliau tidak hanya dikenal sebagai mujtahid mutlak ternama (di mana produk ijtihadnya banyak diikuti oleh masyarakat Muslim sampai sekarang), tetapi juga dinobatkan sebagai salah satu mujadid, yaitu seseorang yang melakukan pembaharuan terhadap pemahaman ajaran-ajaran agama. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Allah akan mengutus seorang mujadid untuk mendidik umat manusia setiap seratus tahun (satu abad) sekali. Menurut Imam Ahmad bin Hanbal ra., satu abad pertama (dari masa Rasulullah saw.) adalah ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz dan satu abad kedua adalah Imam asy-Syafi‘i ra. (hlm. 60).

Baca Juga :  Sejarah Dinasti Buwaihi: Mengendalikan Dinasti Abbasiyah, Mencetak Ilmuwan Bermazhab Syiah

Oleh karena itu, setiap kali Imam Ahmad bin Hanbal ra. melaksanakan salat, maka beliau tidak henti-henti mendoakan Imam asy-Syafi‘i ra. dan memohonkan ampunan (kepada Allah) untuknya selama kurang lebih 40 tahun (hlm. 60). Wa Allah A‘lam wa A‘la wa Ahkam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here