Mengenal Sayyid Sabiq: Ulama Abad ke-20 yang Berpinsip Tidak Harus Bermazhab

7
1882

BincangSyariah.Com – Pada pertengahan abad ke-20 M, muncul seorang ulama berpengaruh yang berasal dari Mesir, bernama Sayyid Sabiq. Ia dikenal sebagai sosok yang memiliki reputasi Internasional dalam bidang Fiqh dan dakwah Islam, terutama lewat magnum opusnya, Fiqh al-Sunnah.

Pada prinsipnya, Sayyid Sabiq merupakan tokoh yang menolak bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Melalui penulisan Fiqh al-Sunnah, ia berharap dapat memberikan gambaran yang benar tentang Fiqh Islam berdasarkan dalil-dalil shahih, menghilangkan fanatisme mazhab dan membuang anggapan tertutupnya pintu ijtihad.

Pandangannya yang terbilang unik mengenai tidak harus bermazhab, tentu mengundang perhatian sebagian besar umat Islam di berbagai belahan dunia, terutama mereka yang beragama dengan cara bermazhab.

Untuk lebih jelasnya, berikut profil singkat Sayyid Sabiq dan pandangannya tentang bermazhab.

Profil Singkat Sayyid Sabiq

Nama lengkapnya adalah Sayyid Sabiq Muhammad al-Tihami. Lahir di desa Istanha, Distrik al-Baghur, provinsi al-Munufiyah, Mesir pada tahun 1915 M. Ia lahir dari pasangan keluarga terpandang, Sabiq Muhammad al-Tihami dan Husna Ali Azeb.

Ia menempuh pendidikannya di Universitas al-Azhar Kairo, dan di kampus itulah ia menyelesaikan seluruh pendidikannya mulai dari jenjang kejuruan (Takhashshush). Bahkan, di tingkat akhir, ia mendapatkan predikat al-Syahadah al-‘Alimiyyah, Ijazah tertinggi di Al-Azhar, setara dengan Ijazah Doktor.

Beberapa jabatan sempat ia emban, seperti menjadi dewan dosen di Universitas al-Azhar, Mesir dan Universitas Ummul Quro, Mekkah.

Ia juga merupakan sosok ulama yang produktif menulis. Beberapa karya di samping Fiqh al-Sunnah berhasil ia canangkan, seperti al-Yahud fi al-Qur’an, al-Aqa’id al-Islamiyyah, Islamuna, Da’wah al-Islam dan lainnya.

Pandangan Sayyid Sabiq Tentang Bermazhab

Sayyid Sabiq dinilai sebagai sosok yang berkomitmen untuk tidak bermazhab. Meskipun demikian, ia tidak pernah mencela mazhab-mazhab Fiqh yang ada dan tidak mengingkari keberadaannya. Pandangannya itu tercermin dalam karyanya Fiqh al-Sunnah.

Pada bagian pendahuluan karyanya tersebut, ia mengutarakan alasan mengapa umat Islam selayaknya tidak bermazhab. Dalam mengutarakan alasannya, Sayyid Sabiq mula-mula mengutip salah satu ayat al-Qur’an:

وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِي الْكِتَابِ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang berselisih dengan adanya al-Qur’an, maka mereka berada dalam kesesatan yang jauh.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 176)

Selanjutnya, ia menyebut bahwa di era sahabat dan tabi’in, mereka tidak pernah berselisih pendapat dalam urusan beragama, kecuali beberapa masalah yang kiranya dapat dihitung. Alasannya adalah karena kemampuan para sahabat dan tabi’in yang beragam dalam memahami Qur’an dan Hadis, serta sebagian mereka terkadang mengetahui hal-hal yang tersembunyi dari sebagian yang lain.

Kemudian, Sayyid Sabiq memaparkan bahwa para Imam Mazhab mengikuti sunnah-sunnah (tradisi) orang-orang sebelum mereka. Sebagian Imam Mazhab ada yang lebih dekat kepada Sunnah, seperti orang-orang Hijaz yang banyak di kalangan mereka pendukung-pendukung Sunnah dan periwayat hadis. Sementara sebagian yang lain lebih condong kepada rasio, seperti orang-orang Irak yang jumlahnya sedikit dari penghapal hadis.

Para Imam Mazhab yang 4, telah berusaha semaksimal mungkin untuk memperkenalkan agama Islam dan membimbing mereka melalui usahanya. Bahkan para Imam Mazhab melarang orang-orang untuk bertaqlid (mengikuti secara membabi-buta tanpa mengetahui dalil dan alasannya) kepada mereka. Mereka mengatakan:

لا يجوز لأحد أن يقول قولنا من غير أن يعرف دليلنا

Tidak boleh seorang pun mengikuti pendapat kami, tanpa mengetahui dalil (alasan) kami.

Para Imam Mazhab menegaskan bahwa mazhab mereka adalah hadis yang shahih, karena mereka tidak ingin diikuti begitu saja seperti halnya Nabi saw. Bahkan, tujuan mereka tidak lain hanyalah untuk menolong umat Islam untuk memahami hukum-hukum Allah.

Namun, orang-orang yang muncul setelah Imam Mazhab, semangat mereka menjadi patah, mental mereka turun dan tekad mereka semakin lemah, sebaliknya bangkit naluri meniru dan bertaqlid, hingga setiap golongan di antara mereka merasa cukup dengan hanya sebuah mazhab tertentu yang kemudian mereka andalkan dan pegang secara fanatik.

Mereka curahkan segala upaya untuk membela dan mempertahankannya, sedang pendapat Imam itu sudah dianggap sebagai firman Tuhan, dan mereka tidak berani untuk mengeluarkan fatwa mengenai suatu masalah jika bertentangan dengan kesimpulan yang telah ditarik oleh Imam mereka.

Kepercayaan mereka terhadap para Imam Mazhab itu demikian kentara dan berlebihan, sampai-sampai al-Karkhi mengatakan:

كل آية أو حديث يخالف ما عليه أصحابنا فهو مؤول أو منسوخ

Setiap ayat Qur’an maupun hadis yang menyalahi pendapat sahabat-sahabat kami, maka harus dita’wil atau dihapus.

Sayyid Sabiq: Bermazhab Mendorong Berpikir Sempit

Dengan cara bertaqlid dan fanatik mazhab ini, hilanglah kesempatan umat untuk memperoleh petunjuk dari al-Qur’an dan Sunnah. Muncul pula semboyan bahwa pintu ijtihad telah tertutup, dan jadilah syari’at itu merupakan pendapat-pendapat Fuqaha (ahli Fiqh) dan pendapat Fuqaha itulah yang dikatakan syari’at, sedangkan orang-orang yang menyalahi ucapan-ucapan Fuqaha itu dipandang sebagai ahli bid’ah, hingga ucapannya tidak dapat dipercaya dan fatwanya tidak bisa diterima.

Salah satu faktor yang mendorong tersebarnya semangat berpikir sempit ini adalah usaha yang dilakukan oleh para penguasa dan para hartawan dalam mendirikan sekolah-sekolah, di mana pengajarannya terbatas pada suatu atau beberapa mazhab tertentu. Inilah sebab tertujunya perhatian terhadap mazhab-mazhab tersebut, dan berpalingnya minat dari berijtihad, dikarenakan mempertahankan gaji yang jadi nafkah hidup mereka.

Kemudian, Sayyid Sabiq mengisahkan dialog antara Abu Zur’ah dengan gurunya al-Bulqini. “Apa yang menghalangi Syeikh Taqiy al-Din al-Subki untuk berijtihad? Padahal ia sudah cukup syarat-syaratnya.” tanya Abu Zur’ah.

Al-Bulqini tidak menyahut, lalu Abu Zur’ah berkata: “Menurut pandanganku, bahwa enggannya al-Subki berijtihad adalah karena persoalan jabatan yang telah ditetapkan bagi para Fuqaha agar mereka mengikuti mazhab yang 4, sedangkan orang yang keluar darinya, tidak berhak menjabat dan dilarang menjadi Qadhi (hakim) dan orang-orang tidak berhak mendengar fatwanya, bahkan ia akan dituduh sebagai ahli bid’ah.” Mendengar hal itu, al-Bulqini pun tersenyum dan menyetujui pendapatnya.

Setelah itu, Sayyid Sabiq mengutarakan bahwa tenggelam dalam taqlid, serta tidak diperolehnya hidayah (petunjuk) dari al-Qur’an dan Sunnah, di samping semboyan telah tertutupnya pintu ijtihad, maka umat Islam pun jatuh ke dalam bala-bencana dan terperosok ke lubang Dhab (biawak gurun) yang telah diperingatkan oleh Nabi saw.

Akibatnya, umat Islam terpecah-belah dan terkotak-kotak. Bahkan, bid’ah semakin tersebar, sunnah semakin redup, melempemnya gerakan akal dan terhentinya kegiatan berpikir, serta hilangnya kebebasan berilmu. Suatu hal yang menyebabkan lemahnya kepribadian umat dan lenyapnya kehidupan berkarya, serta menghambat kemajuan dan perkembangan hingga orang-orang pihak luar pun melihat celah dan lubang untuk tembus memasuki jantung Islam.

Di akhir, Sayyid Sabiq menegaskan bahwa berlalunya tahun demi tahun dan silih bergantinya abad demi abad, secara berkala Allah akan membangkitkan bagi umat Islam ini orang-orang yang melakukan gebrakan pembaharuan agama dan membangunkannya dari tidur panjang, serta memalingkannya ke arah yang benar.

Demikianlah pandangan Sayyid Sabiq mengenai urusan bermazhab. Kesan yang bisa kita peroleh dari pandangannya adalah ia sosok yang selalu mengajak agar umat Islam bersatu dan merapatkan barisan, agar tidak menyebabkan umat menjadi lemah. Ia juga mengajak agar membentengi para pemuda-pemudi dengan membiasakan mereka beramal Islami, memiliki kepekaan, memahami segala permasalahan kehidupan serta memahami al-Qur’an dan Sunnah.

100%

7 KOMENTAR

  1. Memang dia tdk mencela mazhab namun dianggap org yg bermazhab tidur panjang..? Klo maslah persatuan justru klo kita semua sudah mngartikan hukum2 dgn kempauan ijtihad masing2 maka akan timbul perpecahan yg lbh banyak… Klo dulu cm 4 skrg jd banyak

  2. Sebagai hamba yg memiliki banyak kekurangan dan kurangnya kemampuan untuk mengeksplorasi dan mencerna hukum2 ALLOH SWT. tentu bermadzhab adalah sebuah keharusan karna kita juga meyakini bahwa para imam2 madzhab itu telah mampu untuk menggali kedalaman dalil baik dari Al-qur’an dan hadits baginda Rosululloh saw.serta telah mampu beristimbat hukum dari Al-qur’an dan sunnah serta memahami disiplin ilmu2 pendukung lainnya.adapun yg memiliki kemampuan setara/sebanding dengan imam madzhab,tentu juga akan menambah khazanah ilmu bagi ummat islam,tanpa harus mencela dan merendahkannya.wallohu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here