Mengenal Puasa Umat Terdahulu Sebelum Datangnya Islam

0
1884

BincangSyariah.Com –Puasa merupakan salah satu rukun islam yang wajib dilaksanakan. Ia adalah syariat yang ‘ulima bidhlarurah, seluruh umat muslim sudah mengetahuinya dengan maklum. Kita juga sudah mengetahui kapan pelaksanaan puasa Ramadhan, berapa lama waktu pelaksanaanya, bagaimana tatacaranya.

Ayat yang mendasari kewajiban ibadah puasa diantaranya adalah ayat 183 dalam surat al-Baqarah:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (183)

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum agar kamu bertakwa. (QS al-Baqarah: 183)

Dari ayat diatas kita dapat mengambil istidlal, bahwasannya Allah Swt mewajibkan puasa atas umat Nabi Muhammad Saw sebagaimana Allah juga telah mewajibkannya kepada umat-umat terdahulu sebelum Nabi Muhammad. Yang demikian dapat dilacak bahwa puasa adalah ibadah yang sudah ada sejak lama, ia tidak terputus di umat tertentu, melainkan terus berkelanjutan pada hingga disyariatkan juga pada umat Nabi Saw.

Dalam kitab Ahkām al-Shaum wa al-I’tikāf karya Dr. Abu Sari’ Muhammad Abdul Hadi disebutkan tiga perbedaan ulama mengenai pemahaman “Man qablanā”

Pertama, yang dimaksud umat terdahulu itu adalah sejak Nabi Adam hingga umat Nabi Muhammad sebagaimana diriwayatkan ole Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Umar, beliau berkata, Nabi Saw bersabda:

صيام رمضان كتبه الله على الأمم قبلكم

“Puasa Ramadhan telah Allah wajibkan atas umat-umat sebelum kalian.”

Perkataan ini telah diriwayatkan dari Imam Qatadah dan al-Hasan al-Bashri.

Kedua, yang dimaksud umat terdahulu dalam ayat itu adalah ahlul kitab, tegasnya adalah Yahudi dan Nasrani. Keterangan ini diriwayatkan oleh Mujahid dan Ibnu ‘Abbas.

Ketiga, yang dimaksud umat terdahulu dalam ayat tersebut adalah umat Nasrani saja sebagaimana yang diriwayatkan oleh asy-Sya’bi.

Baca Juga :  Kisah Kiai Wahid Hasyim Memutus Monopoli Asing pada Kapal Haji

Dari ketiga pendapat diatas, mana yang paling rajih? Menurut penulis kitab ini, Dr. Abu Sari’ Muhammad Abdul Hadi mengatakan pendapat pertamalah yang kuat, sebab ada hadis yang menyokongnya, yaitu hadis Ibnu Umar yang telah disebutkan diatas. Maka keumuman ayat diatas menunjukkan bahwa puasa telah diwajibkan atas umat-umat terdahulu sebelum Nabi Muhammad Saw, bukan hanya Nasrani dan Yahudi saja.

Jangka waktu puasa umat-umat terdahulu

Dalam hal ini ulama berbeda kepada dua pendapat. Pertama, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Hasan al-Bashri dan as-Sadi bahwa puasa yang diwajibkan kepada umat-umat terdahulu yaitu satu bulan penuh. Dalilnya adalah hadis Ibnu Umar yang telah disebutkan diatas. Kedua, pendapat yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas dan ‘Athā ibn Rabāh, bahwa umat-umat terdahulu puasa tiga hari di setiap bulannya, dalilnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Mu’adz bin Jabal, bahwa Rasulullah Saw bersabda mendatangi Madinah dan berpuasa di hari ‘Asyurā serta tiga hari di setiap bulan, kemudian Allah Swt menurunkan ayat kewajiban puasa Ramadhan.

Dari kedua pendapat diatas jelas perbedaanya. Pendapat pertama menegaskan umat terdahulu puasa dalam jangka waktu sebulan sebagaimana umat islam saat ini. Pendapat kedua tegas mengatakan umat terdahulu berpuasa hanya tiga hari dalam setiap bulannya. Lantas pendapat mana yang kuat?

Menurut Dr. Abu Sari’ Muhammad Abdul Hadi dalam kitabnya Ahkām al-Shaum wa al-Itikāf, mengatakan pendapat pertamalah yang kuat sebagaimana dikuatkan oleh hadis Ibnu Umar. Juga jika melihat ayat 183 dalam surat al-Baqarah, “Telah diwajibkan kepada kalian puasa, sebagaimana telah diwajibkan atas umat-umat sebelum kalian,” sedang yang diwajibkan kepada kita, umat Nabi Muhammad adalah puasa sebulan, oleh karena itu pendapat pertama merupakan pendapat yang kuat.

Baca Juga :  Delusi Jihad Fi Sabilillah

Tatacara puasa umat-umat terdahulu

Ibnu Katsir meriwayatkan dalam permasalahan ini, tatacara umat-umat terdahulu dalam melaksanakan puasa yaitu apabila mereka telah melaksanakan salat ‘atamah (isya), kemudian tidur maka diharamkan bagi mereka untuk makan minum juga berhubungan badan dengan istri. Dalilnya adalah riwayat dari Ibnu ‘Abbas:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ} فَكَانَ النَّاسُ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّوْا الْعَتَمَةَ حَرُمَ عَلَيْهِمْ الطَّعَامُ وَالشَّرَابُ وَالنِّسَاءُ وَصَامُوا إِلَى الْقَابِلَةِ فَاخْتَانَ رَجُلٌ نَفْسَهُ فَجَامَعَ امْرَأَتَهُ وَقَدْ صَلَّى الْعِشَاءَ وَلَمْ يُفْطِرْ فَأَرَادَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَجْعَلَ ذَلِكَ يُسْرًا لِمَنْ بَقِيَ وَرُخْصَةً وَمَنْفَعَةً

Hai orang-orang yg beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu. Dahulu orang-orang pada zaman Nabi apabila mereka telah melakukan shalat Isya` haram atas mereka untuk makan dan minum serta bercampur dengan istri. Mereka berpuasa hingga esok hari. Kemudian terdapat seseorang tak dapat menahan hawa nafsunya kemudian ia mencampuri istrinya setelah melakukan salat isya` dan belum berbuka, kemudian Allah ‘azza wajalla hendak menjadikan hal tersebut sebagai kemudahan bagi waktu yang selanjutnya serta sebagai keringanan dan manfaat. (HR. Abu Daud)

Demikianlah pemaparan puasa umat-umat terdahulu. Jika kita perhatikan hampir tidak jauh beda dengan puasa yang kita lakasanakan sekarang. Wallahu a’lam

(Disarikan dari kitab Ahkām al-Shaum wa al-Itikāf karya Dr. Abu Sari’ Muhammad Abdul Hadi, Maktabah al-Haramain, Riyādh, halaman 27-28)



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here