Prof. Dr. Nabilah Lubis: Perintis Kajian Filologi di IAIN

0
234

BincangSyariah.com – Ibu Nabilah, begitu para mahasiswa di lingkungan UIN (dahulu IAIN) Jakarta biasa memanggilnya. Beliau adalah salah satu cendekia yang kini telah pensiun namun sesekali masih diundang untuk kegiatan-kegiatan akademik di UIN Jakarta dan kampus sekitarnya. Di luar itu, Nabilah beberapa tahun terakhir masih sempat menulis dan menerjemahkan dari bahasa Indonesia ke bahasa Arab. Untuk kegiatan terakhir, salah satu buah karyanya adalah menerjemahkan kompilasi karya penyair kondang Taufik Ismail yang berjudul Debu Di Atas Debu. Karya terjemahan berbahasa Arab tersebut diberi nama al-Turab fawqa al-Turab.

Putri Kairo yang Jadi Orang Indonesia

Prof. Dr. Nabilah Lubis, begitulah nama lengkap beserta gelar akademiknya, sebenarnya sudah menerbitkan autobiografinya yang berjudul Roman Putri Kairo dan Mozaik Pengabdian di Negeri Khatulistiwa di tahun 2011. Kisahnya menjadi menarik dimulai ketika nanti dia dipinang seorang pria Indonesia asal Medan yang sedang berkunjung ke Mesir.

Nabilah dilahirkan pada 14 Maret 1942, di Kairo, Mesir. Aslinya, Nabilah memang wanita Mesir. Kakeknya adalah salah satu pengajar di Al-Azhar pada masa itu. Beliau dilahirkan dari pasangan ‘Abdel Fattah, seorang pegawai Kementerian Keuangan dan guru bahasa Prancis bagi keluarga elit Pasha (penguasa Turki yang memerintah Mesir sebelum kemerdekaan dan Daulat. Keluarga ini tinggal di kawasan Husein, dekat Masjid al-Azhar, Kairo.

Nabilah memulai pendidikan di jenjang universitas ketika ia masuk di jurusan Library and Achievement di Universitas Kairo. Satu tahun menjelang kuliahnya selesai, 1963, ia dipinang oleh Burhanuddin Lubis, mahasiswa Indonesia yang kuliah di Baghdad University yang mengenal keluarga besar Nabilah di Kairo. Burhanuddin dikenalkan oleh Haji Muslih, orang Banten warga Arab Saudi yang mengenal baik keluarga besar Nabilah. Burhanuddin akhirnya bertandang ke Mesir selain untuk bersilaturahmi juga menjajaki kemungkinan pindah belajar ke Mesir. Alasannya adalah karena di Bagdad waktu itu sepi sekali orang Indonesia.

Sesaat setelah pertemuan mereka di Kairo, Burhanuddin melamar Nabilah. Waktu itu, Nabilah merasa “tersinggung” karena merasa Burhanuddin terlalu berani. Namun, proses tersebut berlanjut, mereka berdua menikah di tahun 1963. Mereka dikabarkan merupakan pasangan Indonesia-Mesir kedua setelah yang pertama kali adalah Prof. Dr. Harun Nasution, rektor IAIN Jakarta di tahun 1970-80an yang beristrikan orang Mesir bernama Ibu Sayyidah.

Baca Juga :  Akhlak Syekh Abu Bakar bin Salim dalam Menjaga Perasaan Manusia

Dari pernikahan ini, Nabilah dan Burhanuddin dikaruniai empat orang anak, dua laki-laki dan dua perempuan. Pertama adalah Amany Lubis, ia mengikuti jejak ibunya menjadi akademisi di UIN Jakarta. Ia adalah Guru Besar Sejarah Islam. Kedua adalah Sri Bintang Pamungkas, beliau menjadi birokrat di Kementerian Agama Jakarta. Ketiga adalah Umar Lubis, artis sinetron serta pebisnis. Terakhir atau keempat adalah Ahmad Shobri Lubis, ia menjadi Sekjen Front Pembela Islam (FPI).

Setelah Nabilah menyelesaikan kuliahnya di Cairo University, Menteri Agama pada waktu itu, K.H. Saifuddin Zuhri ketika berkunjung ke Mesir segera menugaskan pasangan muda itu untuk bekerja di IAIN Ciputat yang baru didirikan. Seperti dikisahkan dalam buku Roman Putri Kairo, Nabilah waktu itu belum terbayang seperti apa Indonesia.

Tiba di Indonesia, Nabilah mulai bekerja sebagai Kepala Perpustakaan IAIN Jakarta. Seperti tertulis di otobiografi, ia mengaku lemas melihat kondisi awal perpustakaan. Ia bahkan sempat minta ingin pulang kepada Prof. Soenarjo, Rektor IAIN waktu itu. Bayangannya waktu itu tentang perpustakaan masih seperti perpustakaan kampusnya yang sudah lebih besar atau Perpustakaan Nasional Mesir Dar al-Kutub al-Mishriyyah. Sementara di tahun 1964, hanya ruang kecil dengan buku tidak penuh dengan pegawai tiga orang. Namun, Prof. Soenarjo waktu itu membujuknya dengan janji Ibu Nabilah bisa memilih ruang apapun sebagai perpustakaan.

Akhirnya, jadilah Ibu Nabilah sebagai Kepala Perpustakaan pertama IAIN Jakarta. Awal ia menjadi kepala, ia surati beberapa duta besar negara-negara Timur Tengah untuk memberikan hibah buku khususnya berbahasa Arab. Mulai dari tema syariah, dakwah, adab, dan ushuluddin. Tak lama, berpeti-peti buku pun datang.

Selain menjadi kepala perpustakaan, Ibu Nabilah juga merintis mengajar Sastra Arab, Insya’, dan beberapa mata kuliah lain di Fakultas Adab sejak tahun 1965. Di antara murid-muridnya waktu itu adalah Panji Gumilang (Pemimpin Pesantren az-Zaytun, Indramayu), Nurcholish Madjid, dan Abdurrahman Fachir (Wakil Menteri Luar Negeri). Kelak, ketika Ibu Nabilah sedang kuliah doktoral, ia justru diajar Cak Nur yang sudah doktor dari Universitas Chicago, Amerika Serikat.

Baca Juga :  Gus Dur dan Radikalisme
Filologi dan Zubdat al-Asrar

Bu Nabilah – seperti diakuinya dalam otobiografi – adalah doktor perempuan pertama di IAIN Jakarta pada tahun 1992. Setelah menjadi doktor, dua tahun kemudian Prof. Quraish Shihab (waktu itu sebagai rektor) segera melantiknya di tahun yang sama sebagai Dekan Fakultas Adab dan Humaniora.

Bu Nabilah mulai perjalanan peningkatan pendidikannya lewat belajar studi naskah (filologi) di Universitas Indonesia. Sistem yang ada di UI saat ini membuat beliau tidak melewati tingkat strata dua (magister), namun langsung tingkat doktoral. Di UI, dibawah bimbingan Prof. Achadiati Ikram, beliau sudah memulai untuk meneliti naskah kitab Zubdat al-Asrar karya Syaikh Yusuf al-Makassari.

Masalah mulai muncul ketika Bu Nabilah harus memahami tasawuf secara mendalam. Wajar saja, karena kitab Syaikh Yusuf memang bertemakan tasawuf yang mendalam. Syaikh Yusuf memiliki pandangan yang mirip dengan Ibn ‘Arabi, yaitu wahdatu al-wujud. Karena tidak ada kajian Islam di UI waktu itu, muncullah ide dimana Prof. Achadiati memberikan rekomendasi kepada Bu Nabilah untuk mengambil mata kuliah Tasawuf di Program Pascasarjana IAIN Jakarta.

Namun, rekomendasi yang ditujukan pada Prof. Harun Nasution sebagai Direktur PPs ditolak. Nabilah akhirnya justru diminta pindah untuk kuliah strata dua di Program Pascasarjana (PPs) IAIN untuk mengambil mata kuliah studi Islam (Islamic Studies) terlebih dahulu meski meneliti hal yang sama. Di sinilah bu Nabilah justru belajar dengan Nurcholish Madjid yang dahulu adalah muridnya.

Beliau menyelesaikan strata dua di PPs IAIN pada tahun 1988. Beliau segera meneruskan ke strata tiga di tahun berikutnya dan berkesempatan untuk memperdalam metodologi dan kajian Zubdat al-Asrar di Universitas Leiden lewat program INIS (Indonesian Netherlands Cooperation in Islamic Studies). Lewat kajian di Leiden, Bu Nabilah mempertajam aspek filologis di mana kajian naskah mengharuskan melakukan perbandingan varian naskah. Hasil penelitian kitab Zubdat al-Asrar ini kemudian diterbitkan oleh Mizan di tahun 1996 bekerjasama dengan EFEO (Ecole Francaise d’Extreme Orient), sejenis Lembaga Kebudayaan Prancis. Lewat penelitian itu juga, Ibu Nabilah secara kebetulan diundang oleh Nelson Mandela selaku Presiden di Afrika Selatan pada tahun 1994. Ibu Nabilah dengan 9 orang rombongan diundang pada acara “300 Tahun Kedatangan Islam ke Cape Town.”

Baca Juga :  Ketika Nabi Zakariya Bertawasul di Mihrab Siti Maryam

Setelah Nabilah menyelesaikan pendidikan doktor, beliau diangkat menjadi Dekan Fakultas Adab pada tahun 1994. Saat menjadi dekan itulah kebijakan memasukkan mata kuliah filologi kedalam mata perkuliahan di Fakultas Adab. Dari penetapan mata kuliah ini, muncullah beberapa kader di bidang filologi. Salah satu yang paling dikenal  saat ini di antaranya adalah Prof. Dr. Oman Fathurrahman.

Dari Alo Indonesia sampai Menerjemahkan Buku-Buku Indonesia

Saat ini, Nabilah sudah pensiun dari jabatannya sebagai Guru Besar di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta, tercatat sejak tahun 2007. Namun, kegiatan beliau masih cukup padat dan beragam. Sejak awal tahun 2000, beliau mendirikan majalah berbahasa Arab pertama dan satu-satunya sampai saat ini di Indonesia, Alo Indonesia. Majalah ini mendapat perhatian luas khususnya khalayak masyarakat Timur Tengah seperti kedutaan-kedutaan. Bahkan, Parlemen Suriah mengabarkan kalau mereka berlangganan majalah ini.

Pada tahun 2005, Kementerian Pariwisata meluncurkan program Visit Indonesia untuk promosi tempat wisata Indonesia. Alo kemudian dapat bersinergi sebagai media partner resmi untuk mempromosikan tempat wisata Indonesia untuk dunia Arab.

Selain mengembangkan Alo, Ibu Nabilah juga masih sering melakukan kerjasama di luar negeri seperti ke Turki dalam rangka undangan komunitas pecinta Said Nursi dan Iran untuk acara Festival Media Islam.

Nabilah juga aktif menulis dan menerjemahkan buku-buku Indonesia ke bahasa Arab. Misalnya, buku karya B.J. Habibie tentang memoar kisah cintanya dengan istrinya diterjemahkan menjadi Qisshah Hubb Waqi’iyyah: Habibi-‘Aynun; buku karya Dino Pattie Djalal tentang catatan-catatannya selama mendampingi Presiden SBY sebagai Juru Bicara di periode pertama (2004-2009), diterjemahkan menjadi Laazim Nuqaddim: Fann al-Qiyadah ‘ala Thariqah al-Ra’iis Susilo; dan beberapa kumpulan puisi Taufik Ismail seperti al-Sahb wa al-Riyah fi Bilaadi Khatt al-Istiwaa’ dan al-Turab fawqa al-Turab.

 

Tulisan ini adalah bagian dari serial Ulama Perempuan Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here