Mengenal Nana Asma’u; Tokoh Feminis Pembasmi Buta Huruf di Afrika Barat

0
25

BincangSyariah.Com – Nana Asma’u bernasib cukup baik. Dia pandai membaca dan menulis sebab lahir dari keluarga berada yang amat memperhatikan pendidikan. Sementara teman-temannya terkurung di balik dinginnya dinding rumah, hanya bisa menyiapkan makanan dan mencuci pakaian kotor. (Baca: Ini Alasan Mengapa Perempuan Harus Berpendidikan Tinggi)

Mata mereka normal namun buta, tidak bisa membaca apalagi menulis. Bagaimana mungkin mereka bisa melakukan keduanya, sedangkan pendidikan hanya diprioritaskan untuk kaum lelaki yang dianggap lebih hebat dan punya peranan lebih penting di masyarakat.

Realita tersebut menyayat hati Nana. Draft buku bacaan yang ia dalami menyimpulkan bahwa wanita adalah fondasi kemajuan umat. Jika untuk sekedar mengenali tulisan saja tak berdaya, apalagi mengurus generasi bangsa. Oleh karena itu, dia bertekad untuk melenyapkan buta huruf minimal di lingkungannnya.

Biografi Singkat

Nana lahir di Sokoto atau yang kini lebih populer dengan sebutan Nigeria di Afrika Barat. Ayahnya, Usman bin Muhammad bin Fodeo merupakan ulama kenamaan sekaligus perintis berdirinya Dinasti Sokoto.

Dia tidak ingin putra putrinya terbelenggu oleh jeratan kebodohan, sehingga sangat mendorong mereka untuk belajar setinggi mungkin. Dia dengan tegas menolak stereotip masyarakat bahwa perempuan tidak perlu berpendidikan.

Untuk menyemai gagasannya, Usman mengarang kitab, Tanbih al-Ihkwan ala Jawaz Ittikhadz al-Majlis li ajli Ta’lim an-Niswan. Dalam bukunya itu, Usman memaparkan tentang urgensi perempuan dalam mengenyam pendidikan agama.

Hal ini membuat Nana tumbuh terdidik, dalam naungan pendidikan Islam. Ayahnya adalah guru pertamanya. Dibawah bimbingannya dia mampu menghafalkan Al Qur’an serta menguasai ilmu – ilmu agama.

Hari demi hari kualitas Nana semakin moncer. Hal ini tidak terlepas dari kegemarannya melahap buku – buku bacaan di perpustakaan mini ayahnya. Kendati berbeda dengan keluarga pada umumnya,  sebagaimana adat setempat, Nana tetap menikah di usia muda yakni 14 tahun dan melahirkan anak pertamanya di usia 20 tahun.

Baca Juga :  Hukum Mengusir Anak Kecil yang Berisik di Dalam Masjid dan Tradisi Bahsul Masail

Perintis Sekolah dan Guru Perempuan

Tatkala Nana berusia 11 tahun, ayahnya diusir dari tanah kelahirannya setelah mengkritisi habis kinerja pemerintah. Sejak sat itu, politik di Nigeria memanas. Teriakan revolusi melawan pemerintah zalim berdengung di mana – mana.

Singkat cerita revolusi melutus. Ayahnya berhasil memenangkan pertempuran lalu mulai merintis kebijakan – kebijakan baru. Salah satunya pendidikan wanita dan pemberantasan buta huruf. Dalam hal ini dia dibantu anak – anaknya termasuk dua putrinya Nana dan Fatimah.

Nana mendirikan sebuah sekolah perempuan sederhana. Lokasinya berada di sekitaran rumah warga. Setiap hari para kaum hawa berkumpul di sini untuk menyimak pelajaran yang dibawakan oleh sang guru, Nana Asma’u.

Di samping  baca tulis,  Nana membekali mereka dengan pelajaran Al Qur’an, pokok – pokok ajaran Islam dan beragam keterampilan. Harapannya kelak mereka akan tumbuh menjadi wanita cerdas yang berkarakter. Dengan begitu mereka bisa menjadi guru yang baik minimal bagi anak anak mereka.

Dia juga merumuskan sendiri metodologi pembelajaran. Diantaranya menempatkan bahasa Arab dan bahasa daerah dalam porsi yang sama. Selain itu, Nana yang juga seorang penyair ulung kerap membuat syair tentang ilmu – ilmu agama seperti tajwid dan ushul fiqih. Tujuannya agar mempermudah masyarakat menyerap pelajaran – pelajaran tersebut.

Dalam konteks ini menurut Yahuda dan Usman, tujuan utama Nana adalah berdakwah terhadap golongan wanita agar mereka mau memeluk agama Islam untuk meningkatkan kualitas masyarakat. Sebagaimana dia getol mengenalkan kepada warga kepribadian sejati seorang muslim.

Hari demi hari majlis ilmu itu kian ramai dipadati warga. Kini, Nana tidak mampu lagi menampung semua wanita yang hendak belajar. Dia pun  berinisiatif mendidik mereka sebagi calon guru. Setelah lolos uji kelayakan, Nana mengirim mereka dari ibu kota menuju pedalaman desa hingga negara – negara tetangga.

Baca Juga :  Hadis-hadis Keutamaan Shadaqah

Aliansi guru wanita ini belum memiliki gedung resmi. Mereka beroperasi di rumah – rumah warga khususnya di pemukiman miskin. Kendati minim fasilitas, upaya Nana memberantas buta huruf di kalangan wanita Nigeria mendulang sukses besar. Berkat kegigihan dan kerja kerasnya, banyak perempuan telah terbebas dari penyakit mematikan itu.

Kecerdasan berfikir serta kemampuan leadership-nya telah diakui hingga ke tingkat nasional. Karirnya memuncak saat terpilih sebagai dewan penasihat khalifah. Sebuah jabatan yang amat jarang diberikan kepada perempuan di masa itu.

Sumbangsih Nana di Dunia Literasi

Nana Asma’u adalah penulis produktif. Dia memiliki lebih dari 70 karya dalam tiga bahasa Arab, Hausa dan Fulfude . Berdasarkan analisis Muhammad Khoir Ramadhan dalam bukunya, Muallafat Min An-Nisa, mayoritas karyanya berorientasi pada jihad, hikmah, politik, sejarah, sosial dan pendidikan.

Diantara karyanya adalah Tarikh Khilafah Sokoto, Tabsyirat al-Ihkwan bi Tawassul bi suwar al-Quran, Du’a wa raja an-nasr ala Jaisy Ghubir dan Du’a min ajli an-Nasr ala ‘Ada.

Karyanya yang paling terkenal bertajuk, “Tanbih Ghafilin”. Dalam bukunya dia mengkhususan bahasan perihal pendidikan agama dan umum untuk kaum hawa. Dia melontarkan argumentasi disertai bukti – bukti konkret untuk meyakinkan bahwa apa yang ia tulis adalah sebuah kebenaran.

Buku yang terbit di awal abad 20 ini meledak, laris manis diburu para peneliti. Selain Nana, karya – karya Maryam binti Syekh Usman dan saudariya Fatimah binti Syekh Usman bin Fodio turut menyemarakkan geliat pendidikan wanita.

Tak heran jika nama Nana Asma’u mudah mencuat di mata dunia terlebih benua Afrika. Sebab selain produktif, dia aktif membangun jaringan dengan para alumnus universitas khususnya di Afrika Selatan.

Baca Juga :  Cara Nabi Muhammad Mendidik Remaja

Tahun 1894 Nana wafat, ribuan pelayat dari berbagai belahan dunia hadir mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir. Nana Asma’u memang telah taiada, namun semangatnya masih hidup di benak anak didiknya yang terus bergeneransi menyebar ke pelosok negeri demi menggaungkan pentingnya pendidikan bagi wanita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here