Mengenal Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia

0
830

BincangSyariah.Com – Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia (MSI) yang ditetapkan oleh para ulama yang tergabung dalam Musyawarah Kerja (Muker) Ulama Al-Qur’an dari tahun 1974 hingga 1983 serta Menteri Agama melalui Keputusan Menteri Agama Nomor 25 Tahun 1984 tentang Penetapan Mushaf Al-Qur’an Standar dan Instruksi Menteri Agama Nomor 7 Tahun 1984 tentang Penggunaan Mushaf Al-Qur’an Standar sebagai Pedoman dalam Mentashih Al-Qur’an memiliki ciri khas dan identitas tersendiri jika dibandingkan dengan mushaf dari negara lain.

Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Kemenag RI telah merilis ta’rif singkat (unduh versi pdf-nya dalam bahasa Arab disini) untuk mengenalkan identitas MSI. Ta’rif tersebut dapat ditemui pada mushaf yang diterbitkan Unit Percetakan Al-Qur’an (UPQ) Kementerian Agama RI tahun 2019.

Mushaf Standar Indonesia ditulis mengikuti riwayat Abu ‘Amr Hafs bin Sulaiman bin Al-Mughiroh Al-Asadi Al-Kufi yang bersumber dari qiraat Abu Bakr Ashim bin Abi An-Najud Al-kufi At-Tabi’i dari Abu Abdirrahman Abdillah bin Habib As-Sulami dari empat sahabat Nabi Muhammad; Utsman bin ‘Affan, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit dan Ubbay bin Ka’b.

Rasm MSI menganut penulisan mushaf para ulama yang diutus khalifah Utsman bin ‘Affan ke Basrah, Kufah, Syam, Makkah, dan Madinah, mushaf pribadi khalifah Utsman, dan mushaf-mushaf salinannya. Penulisan rasmnya secara umum berasal dari riwayat Asy-Syaikhani; Abu Amr Ad-Dani dalam kitab Al-Muqni’ dan Abu Dawud Sulaiman bin Najah dalam kitab Mukhtashar At-Tabyin Li Hija At-Tanzil. Jika terdapat perbedaan antara keduanya maka diutamakan riwayat ad-Dani, dan terkadang dipilih pendapat selain Asy-Syaikhani.

Dari sisi aturan harakat (tanda baca), MSI menganut ketetapan ulama dabt pada kitab At-Thiraz ala Dabti al-Kharraz dengan sedikit perbedaan dan keputusan LPMQ; yaitu menggunakan ketentuan harakat yang digagas Kholil bin Ahmad Al-Farahidi dan muridnya dengan mengedepankan harakat dan tanda baca pada mushaf yang beredar di dunia timur sebagai ganti harakat dan tanda baca mushaf Andalusia dan Maroko.

Baca Juga :  Benarkah Zara Zettira Menghina Pesantren terkait Tradisi Bisyarah?

Terkait jumlah ayat, MSI mengikuti metode penghitungan ulama Kufah yang berasal dari Abu Abdirrahman bin Abdillah bin Habib As-Sulami dari Ali bin Abi Thalib sebagaimana pada kitab Al-Bayan karya Abu Amr Ad-Dani, Nadimat az-Zuhr karya Abu Muhammad Al-Qasim bin Firruh Asy-Syatibi, Syarh Nadimat az-Zuhr karya Abu ‘Id Ridwan Al-Mukhallalati, dan kitab Tahqiq al-Bayan karya Syaikh Muhammad al-Mutawalli, serta kitab-kitab lain terkait ilmu penghitungan ayat Al-Qur’an, yaitu 6236 ayat.

Keterangan tentang waqaf, simbol, dan tata letaktnya merujuk pada keterangan dalam kitab ‘Ilal al-Wuquf karya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Thoifur as-Sajawandi dan keputusan LPMQ dengan mempertimbangkan makna dan berpegang pada pendapat para ulama tafsir, ulama waqaf dan ibtida, serta mushaf-mushaf cetak terdahulu.

Mengenai pembagian juz, hizb, dan rubu’, MSI mengikuti kitab Gais an-Naf’i karya as-Shofaqusi, nazimat az-Zuhr karanagn Abu Muhammad al-Qasim bin Firruh as-Syatibi, dan kitab lain dengan perbedaan di dalamnya, serta berdasarkan keputusan LPMQ dengan penjelasan tujuh manzil yang ditulis dengan rumus fami bisyauqin, serta penjelasan kata yang terletak pada pertengahan Al-Qur’an yaitu kata walyatattaf.

Penjelasan makkiyyah dan madaniyyah (periodisasi turunnya ayat Al-Qur’an) dalam MSI diambil dari buku-buku qiraat, tafsir dengan perbedaan di dalamnya, dan berdasarkan keputusan LPMQ.

Ayat sajdah dan tempatnya diambil dari keterangan pada kitab-kitab hadis dan fikih yang dijadikan acuan tanpa menjelaskan perbedaanya dalam catatan pinggir mushaf.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here