Mengenal Mukjizat Kauniyyah Para Utusan Allah

0
1326

BincangSyariah.Com – Setiap Rasul Allah pasti memiliki mukjizat guna mengukuhkan kerasulan mereka. Mukjizat Rasul-rasul terdahulu disesuaikan dengan peradaban yang sedang berkembang pada masanya. Nabi Musa diutus di tengah bangsa Qibthiy (copt) yang ahli sihir, maka mukjizat beliau adalah tongkat yang bisa menaklukkan sihir mereka. (Baca: Sembilan Mukjizat Nabi Musa)

Nabi Isa diutus di tengah Bani Israel yang mahir dalam bidang thib (kedokteran), maka mukjizat beliau adalah kemampuan kedokteran yang tidak tertandingi. Berbeda dengan mukjizat Nabi Muhammad, sebagai Nabi terakhir, mukjizat beliau harus universal dan sesuai dengan peradaban sepanjang zaman, dan mukjizat tersebut adalah al-Quran.

Selain perbedaan di atas, karakter mukjizat rasul terdahulu lebih dominan bersifat hissiyah, sedangkan mukjizat Nabi Muhammad lebih dominan bersifat aqliyyah (logis) walupun sebagiannya bersifat hissiyah.

Mukjizat Nabi Muhammad yang bersifat hissiyah lebih dibutuhkan oleh generasi yang hidup sezaman dengan Nabi, orang-orang yang menyaksikan kejadian luar biasa itu secara langsung, seperti: rembulan terbelah, jari-jari Nabi mengeluarkan air yang kemudian diminum oleh banyak sahabat, Nabi menyembuhkan orang sakit hanya dengan menyentuhnya, anak yang masih menyusu, binatang, tumbuhan dan bebatuan bisa berbicara kemudian bersaksi atas kerasulan Muhammad dan lain sebagainya. Mukjuzat semacam itu di masa sekarang hanya tinggal cerita yang diriwayatkan dalam karya-karya klasik.

Sedangkan mukjizat aqliyyah (logis) dan bersifat ilmiyah lebih dibutuhkan oleh generasi masa kini terutama kaum milenial yang tidak pernah menyaksikan Nabi Muhammad secara langsung. Sebab itulah, dalam Al-Qur’an banyak sekali perintah untuk melakukan pengamatan, bahkan menurut catatan Muhammad Ratib an-Neblusi dalam Ayatullah fi al-Insan terdapat 1.300 ayat yang berbicara tentang penciptaan alam semesta dan manusia (ayat kauniyyah). Ayat-ayat itu disampaikan Allah tiada lain sebagai bentuk mukjizat yang harus selalu kita kaji dan fikirkan, sebagaimana Nabi bersabda, “tafakkuru sa’atin khairun min qiyami lailatin” (berpikir sesaat lebih baik dari pada ibadah semalam).

Baca Juga :  Apakah Peristiwa Terbelahnya Bulan Benar Terjadi?

Gambaran betapa pentingnya ayat kauniyyah sebagai mukjizat sepanjang masa tampak dalam asbabun nuzul Q.S. Ali Imran [003], ayat 190 sebagaimana dikisahkan Ibnu Abbas: Suatu hari suku Quraisy mendatangi Yahudi, mereka bertanya, “Apa bukti kenabian Musa yang ia bawa pada kalian?” Yahudi menjawab, “Tongkatnya, dan tangannya bersinar disaksikan banyak orang.”

Suku Quraisy kemudian mendatangi Nasrani, lalu bertanya, “Bagaimana Nabi Isa di tengah kalian?” Nasrani menjawab, “Dia bisa mengobati orang buta dan terserang lepra, juga bisa menghidupkan orang mati.” Quraisy kemudian mendatangi Nabi Muhammad dan berkata, Wahai Muhammad! Untuk kami, berdoalah kepada Tuhanmu, agar Ia mengubah gunung Shafa menjadi emas. Maka Allah menjawab permintaan Quraisy tersebut dengan mukjizat yang lebih besar dan universal dengan menurunkan ayat:

إِنَّ في خَلقِ السَمَواتِ وَالأَرضِ وَاِختِلافِ اللَّيلِ وَالنَهارِ لآياتٍ لأُولي الأَلبابِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Q.S. Ali Imran, [003] : 190)

Ayat kauniyyah pada umumnya tidak diinterpretasikan oleh Nabi Muhammad saw. karena jika interpretasi Nabi disesuaikan dengan pemahaman manusia pada masa itu, maka interpretasi tersebut tidak akan relevan dengan temuan-temuan ilmiah oleh generasi berikutnya. Dan jika diinterpretasikan sesuai dengan pemahaman masyarakat masa kini, maka penjelasan tersebut tidak akan terjangkau oleh penalaran generasi dulu. Sebab itulah ayat-ayat kauniyah terus mengalami perkembangan interpretasi sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Mukjizat sebagaimana didefinisikan oleh para ulama adalah fenomena yang luar biasa (khâriq lil ‘âdah), supernormal, tidak sesuai dengan hukum alam, aneh, ajaib dan jarang ditemui. Berikut beberapa definisi mukjizat:

Az-Zarqâni dalam Manahil al-Irfan: mukjizat adalah sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh manusia baik secara individu atau berkelompok. Bisa juga didefinisikan sebagai sesuatu yang khariq lil ‘adah yang keluar dari domain kausalitas sebagaimana yang telah dikenal. Allah menciptakan sesuatu itu atas diri seorang Nabi sebagai bukti atas kebenaran kenabiannya.

Baca Juga :  Sembilan Mukjizat Nabi Musa

Muhammad Ratib An-Neblusi dalam Ayatullah fi al-Insan: mukjizat adalah sesuatu yang tidak sesuai dengan hukum alam, tidak ada yang mampu melakukannya, kecuali Pencipta Alam Semesta, sebab Dialah yang telah membuat hukum alam itu. Mukjizat tersebut diberikan pada Rasul sebagai bukti kebenaran mereka sebagai seorang utusan, dan bukti kebenaran risalah yang mereka sampaikan dari Tuhan.

Menurut penulis, mukjizat sebenarnya mencakup dua hal. Pertama, kejadian-kejadian logis yang supra-rasional, yaitu pemikiran akal yang standar kebenarannya hanya berdasarkan argumen, tidak diukur dengan hukum alam (Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu: 2013). Contohnya adalah batu yang berbicara di hadapan Nabi Muhammad, itu tidak rasional, karena bertentangan dengan hukum alam, tetapi logis karena yang menciptakan batu itu pun mampu menciptakan suara pada batu tersebut.

Kedua, mencakup kejadian-kejadian yang logis-rasional yaitu sesuatu yang ukuran kebenarannya mengikuti atau sesuai dengan hukum alam. Contohnya banyak dalam al-Quran, seperti fenomena pergantian waktu siang dan malam, peredaran matahari, tentang reprosuksi manusia, keajaiban lebah, semut, nyamuk, lalat dan fauna lain yang semuanya bisa dijelaskan secara ilmiah. Kejadian logis-rasional yang diberitakan al-Quran bisa dikategorikan dalam mukjizat, palihg tidak karena dua alasan:

Pertama, kemukjizatannya dapat dilihat dari perspektif bahwa al-Quran telah memberitakan perihal penciptaan alam semesta dan makhluk hidup, dan yang diberitakan tersebut realistis, sesuai dengan temuan-temuan ilmiah mutakhir. Persesuaian antara nash al-Quran dan temuan ilmiah merupakan bukti kemukjizatan al-Quran.

Kedua, dengan pengetahuan ilmiah akan menghantarkan kita pada pemahaman lain, bahwa seluruh fenomena alam raya, tidak hanya yang khâriq lil ‘âdah, tetapi juga yang biasa kita temui dan alamiyah, seluruhnya dikendalikan oleh Tuhan yang Maha Sempurna.

Baca Juga :  Peninggalan Unik Muslim Zaragoza; Istana Ja’fariyah dan Arco del Dean

Pemahaman tersebut akan membawa pada kesadaran, bahwa manusia adalah makhluk yang lemah, tidak mampu menciptakan sesuatu bahkan makhluk sekecil semut atau sebutir pasir, dan kesadaran akan kebesaran dan kegungan Allah, “Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu…” (Q.S. Al-Baqarah [02] : 26). Pada akhirnya semakin manusia meneliti mukjizat kauniyyah, semakin merasa lemah di hadapan Allah Yang Maha Kuasa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here