Mengenal Model Pasar di Zaman Nabi

0
2934

BincangSyariah.Com – Di Indonesia kita mengenal banyak sekali model pasar, ada di antaranya yang berlaku musiman, misalnya pasar yang diadakannya hanya hari-hari tertentu saja –hari rabu, hari kamis, jumat, dst.- atau pasar-pasar harian yang setiap hari selalu eksis tidak pernah libur. Belum lagi model pasar yang modern seperti mall atau pusat-pusat perbelanjaan yang besar lainnya.

Bangsa Arab dahulu, khususnya penduduk Mekkah banyak dari mereka menggantungkan hidupanya di perdagangan. Ada dua rute perdagangan yang ditempuh oleh orang-orang Arab Mekkah kala itu, yang pertama adalah ke Syam, dan yang kedua adalah ke Yaman. Pada musim panas mereka pergi berdagang ke Syam dan ketika musim dingin mereka ke berdagang ke Yaman. Keterangan ini terdapat dalam riwayat yang dikutip oleh al-Ṭabari dalam kitabnya Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Ayi al-Quran, ketika itu ia menafsirkan firman Allah surah al-Quraisy berikut,

 (4) لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ (1) إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ (2) فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَٰذَا الْبَيْتِ (3) الَّذِي أَطْعَمَهُم مِّن جُوعٍ وَآمَنَهُم مِّنْ خَوْفٍ

Karena kebiasaan orang-orang Quraisy. (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka´bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.

Jazirah Arab sendiri didominasi oleh gurun pasir yang sangat luas. Ini mengakibatkan orang-orang Arab tidak bercocok tanam kecuali yang berada di ujung, yakni Yaman dan Syam dan beberapa tanah subur lainnya. Orang-orang nomad (hidup berpindah-pindah) biasanya mereka mengembala unta dan kambing dan mencari rerumputan saja.

Dalam hal industri, orang-orang Arab tidak juga mahir. Bahkan untuk urusan membangun Ka’bah mereka meminta bantuan seorang laki-laki Qibthi yang selamat dari perahu yang tenggelam dan akhirnya mukim di Mekkah. Karena demikian, maka posisi paling strategis yang dapat dilakukan oleh kawasan yang terletak di antara Asia dan Afrika adalah berdagang. Terlebih orang-orang Mekkah yang memiliki Ka’bah, membuat Mekkah menjadi pusat perdagangan yang menarik.

Baca Juga :  Kisah Laki-Laki Pertama yang Dieksekusi Potong Tangan dalam Islam

Bangsa Arab sendiri memiliki banyak pasar terkenal seperti ‘Ukāz, Majinnah, Dzul Majaz. Beberapa penulis sejarah tentang Mekkah menyebut bahwa orang-orang Arab biasa bermukim di ‘Ukaz ketika awal bulan Dzul Qa’dah tiba untuk berdagang. Kemudian, beranjak ke Majinnah setelah 20 hari berlalu/ dan ketika mereka melihat bulan pertama di awal bulan Dzulhijjah mereka pergi ke Dzul Majaz dan tinggal di sana selama 8 malam. Dagangan yang biasa orang-orang dapatkan dari Syam sendiri adalah gandum, anggur kering, buah zaitun dan beberapa hasil tenun khas Syam. Keterangan ini dapat dirujuk dalam al-Sirah al-Nabawiyyah karya al-Shallabi.

Pasar-pasar bangsa Arab Mekkah zaman dahulu bisa dikatakan sebagai pasar musiman dalam budaya kita. Mereka berpindah-pindah sesuai dengan pergantian bulan atau musim. Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Ibn ‘Abbas, ia mengisahkan:

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ  رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا كَانَ ذُو الْمَجَازِ وَعُكَاظٌ مَتْجَرَ النَّاسِ فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَلَمَّا جَاءَ الإِسْلاَمُ كَأَنَّهُمْ كَرِهُوا ذَلِكَ حَتَّى نَزَلَتْ {لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلاً مِنْ رَبِّكُمْ} فِي مَوَاسِمِ الْحَجِّ

“Ibn ‘Abbas menceritakan bahwa dahulu Dzul Majaz dan ‘Ukaz adalah pasar bagi orang-orang Jahiliyah. Tatkala Islam datang, seakan-akan orang Islam membenci keberadaan pasar tersebut sampai kemudian turun ayat, ‘tidak ada dosa bagi kalian untuk mencari karunia Allah’ pada musim-musim haji.”

Dari hadis di atas, jelas bahwa terdapat dua pasar yang telah beroperasi sejak dahulu, sejak zaman jahiliyah, yakni pasar ‘Ukaz dan Dzul Majaz. Ibn Baththal dalam Syarh Shahih al-Bukhari menyebutkan bahwa pada musim-musim haji, orang-orang Jahiliyah maupun orang Islam mulanya enggan untuk melakukan perdagangan di musim-musim haji karena takut untuk mencampurkan amalan ibadah dengan perdagangan, namun kemudian turun ayat di atas, surah al-Baqarah ayat 198 yang membolehkan melakukan kegiatan jual beli pada waktu-waktu wukuf di Arafah.

Baca Juga :  Prinsip-prinsip Dakwah Rasulullah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here