Mengenal Lebih Dekat Sosok K.H. Afifuddin Muhajir; Ahli Fikih Masa Kini

0
32

BincangSyariah.Com – K.H. Afifuddin Muhajir yang karib dipanggil Kiai Afif atau Kiai Khofi, selama ini lebih dikenal akan keilmuan beliau, terutama kepakaran dalam bidang fikih-ushul fikih. Padahal, di balik itu Kiai Afif termasuk seorang berhati-hati dalam beragama (wirai), yakni orang yang bersifat menjauhi perkara yang belum jelas status hukum halal dan haramnya karena khawatir pada keharamannya. Satu potret kewiraian Kiai Afif yang dapat disebutkan di sini adalah keengganan memiliki rekening bank demi menghindarkan diri dari kesyubhatan bunga bank.

Sebagaimana dimaklumi bahwa para ulama berselisih pendapat mengenai status hukum bunga bank; ada yang keras mengharamkannya dan ada pula yang toleran membolehkannya. Kendati kedua pendapat ini sama-sama boleh dijadikan pedoman, Kiai Afif lebih memilih mengamalkan pendapat yang mengharamkannya. Hal ini sekaligus menunjukkan sikap kehati-hatian Kiai Afifuddin Muhajir dalam menentukan preferensi pendapat ulama.

Namun demikian, dalam kondisi darurat, semisal saat hendak berangkat haji, K.H. Afififuddin Muhajir terpaksa membuka rekening bank untuk sementara waktu. Pada prinsipnya, manakala terdapat perbedaan pendapat hukum fikih, maka secara pribadi Kiai Afif akan lebih mengamalkan pendapat yang sifatnya ‘azimah (cenderung memberatkan), sedangkan pendapat yang sifatnya rukhshah (memberi kemudahan) akan beliau prioritaskan sebagai rekomendasi bagi masyarakat awam, tanpa harus menyalahkan orang lain yang memiliki bank dan bahkan kerja di bank.

Riwayat Pendidikan dan Kealiman Kiai Afif

Kiai kelahiran Sampang, Madura, pada 65 tahun silam ini nyaris tidak pernah belajar ke luar Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo. Praktis, seluruh jenjang pendidikan beliau, mulai dari tingkat dasar sampai sarjana, dijalani di pesantren asuhan al-marhum al-maghfur lahu KHR As’ad Syamsul Arifin itu. Kecuali untuk jenjang pendidikan sarjana strata dua, Kiai Afif menyelesaikannya di Universitas Islam Malang (Unisma), karena waktu itu di Pesantren Sukorejo belum membuka program magister.

Baca Juga :  Sejarah Kiblat Umat Islam

Sementara itu, dijadwalkan pada pertengahan Desember nanti, K.H. Afifuddin Muhajir akan dianugerahi gelar doktor honoris causa dalam bidang fikih-ushul fikih oleh UIN Walisongo Semarang. Tentu penganugerahan doktor kehormatan tersebut sebagai sebentuk apresiasi sekaligus rekognisi atas kepakaran dan kiprah Kiai Afif dalam kajian ilmu fikih-ushul fikih selama ini.

Kepakaran Kiai Afif di bidang ushul fikih tidak sekadar mumpuni secara teoretis, tetapi beliau pun mahir dan berani mendayagunakan perangkat-perangkat teori ushul fikih secara praksis dalam mendinamiskan fikih, entah itu untuk menjawab problematika keagamaan maupun kebangsaan yang tengah berkembang di masyarakat. Sebut saja di antaranya yang paling menyita perhatian publik, yaitu kontribusi Kiai Afif dalam merumuskan konsep Islam Nusantara dan keputusan kontroversial yang melarang panggilan kafir bagi non-muslim.

Selain itu, dengan kematangan perspektif ushul fikihnya, Kiai Afif juga piawai berbicara tentang sistem demokrasi ataupun membincangkan negara Pancasila dari sudut pandang ushul fikih. Apalagi, untuk diketahui bahwa naskah awal piagam Deklarasi tentang Hubungan Pancasila dan Islam pada Munas Alim Ulama NU di Situbondo tahun 1983, merupakan tulisan tangan Kiai Afif muda yang didiktekan langsung oleh Kiai As’ad.

Memang kealiman Kiai Afif telah tampak sejak beliau muda, sehingga tidak mengherankan tatkala Kiai As’ad memasrahkan sedari awal segala urusan keilmuan santri-santri Pesantren  Sukorejo kepada beliau. Di samping itu, rekognisi Kiai As’ad atas kematangan ilmu Kiai Afif juga terlihat sewaktu Sang Mediator NU itu tidak merestui kehendak putranya al-marhum al-maghfur lahu KHR Ach Fawa’id As’ad, untuk pergi mondok. Kiai As’ad justru mengarahkan Kiai Fawaid untuk tetap tinggal di Sukorejo dan belajar secara privat kepada Kiai Afif.

Lain lagi, dalam suatu kesempatan Ketua Umum PBNU K.H. Said Aqil Siroj, pernah memproklamirkan Kiai Afif sebagai satu dari dua tokoh pakar ushul fikih yang ada di Indonesia. Kabarnya, al-marhum al-maghfur lahu Syekh Wahbah al-Zuhaili juga mengakui kealiman Kiai Afif, sehingga setiap kali Syekh Wahbah ada acara di Indonesia dan berhalangan hadir, maka sosok kiai dengan satu putra itu yang ditunjuk oleh Syekh Wahbah untuk menggantikan dirinya. (Baca: Nasihat K.H. Afifuddin Muhajir yang Harus Kita Amalkan)

Kiprah dan Karya Kiai Afif

Baca Juga :  Kota Bukhara: Gudang Pengetahuan Islam yang Dihancurkan Jengis Khan

Aktivitas keseharian kiai yang amat gemar mengkaji literatur kitab kuning ini adalah mengisi pengajian kitab kuning di lingkungan Pesantren Sukorejo, dan mengampu perkuliahan di Universitas Ibrahimy yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo. Secara struktural pesantren, saat ini K.H. Afifuddin Muhajir tercatat sebagai wakil pengasuh bidang pengembangan keilmuan di pesantren yang berada di ujung timur pulau Jawa itu.

Suami dari Nyai Fatimatuz Zahro ini juga menjabat naib mudir (wakil direktur) Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah yang diinisiasi oleh Kiai As’ad pada tahun 1990. Bahkan, beliau menjadi salah satu anggota tim pendirian lembaga pendidikan tinggi khas pesantren pertama di Indonesia tersebut. Khusus di Ma’had Aly, beliau mengajar kitab Jam’ul Jawami’, salah satu kitab ushul fikih yang terkenal kompleks dan sangat susah dipahami.

Selain rutinitas harian tersebut, K.H. Afifuddin Muhajir juga kerap kali diundang sebagai narasumber dalam forum-forum ilmiah, baik di tingkat regional maupun internasional. Di antaranya sebagai pemakalah pada Konferensi Ulama dan Cendekiawan Islam Internasional (International Conference of Islamic Scholars). Sedangkan untuk forum bahtsul masa’il NU, mulai dari kepengurusan di tingkat cabang, wilayah, hingga Pengurus Besar NU (PBNU) di tingkat pusat, Kiai Afif biasanya ditahbiskan menjadi tim perumus dan tidak jarang sebagai mushahhih.

Sementara kiprah beliau di PBNU pernah diamanatkan menjadi Katib Syuriah periode 2000-2015. Lalu, sekarang beliau kembali diamanatkan menjadi Rais Syuriah PBNU, sedangkan posisi Katib Syuriah saat ini diisi oleh Kiai Afifuddin Dimyathi, seorang kiai muda asal Jombang.

Selain memiliki koleksi kitab kuning yang terpampang penuh di ruang tamu dan menjejali kamar tidur beliau, K.H. Afifuddin Muhajir juga memiliki sejumlah karangan kitab. Antara lain, kitab Fath al-Mujib al-Qarib, kitab syarh (anotasi) atas kitab Fath al-Qarib al-Mujib karya Imam Ibnu Qasim yang kesohor di banyak pesantren di Indonesia. Ada lagi kitab al-Luqmah al-Sha’ighah yang membahas tentang ilmu nahwu. Tesis beliau yang belum dibukukan berjudul, al-Ahkam al-Syar’iyyah baina al-Tsabat wa al-Tathawwur (Hukum Syariat antara Ketegasan dan Kelenturan).

Baca Juga :  Cerita Nabi Muhammad tentang Kisah Nabi Musa

Kiai Afif yang telah dipercaya Kiai As’ad mengisi pengajian kitab kuning bagi santri-santri Pesantren Sukorejo sejak usia dua puluh tahunan ini mempunyai sejumlah karya dalam bentuk buku, yaitu Metodologi Kajian Fiqh, Fikih Anti Korupsi (dalam buku antologi Korupsi Kaum Beragama), Fikih Menggugat Pemilihan Langsung, Mashlahah sebagai Cita Pembentukan Hukum Islam, Fiqh Tata Negara, Membangun Nalar Islam Moderat, dan lain sebagainya.

Walakhir, seperti halnya epilog K.H. Abdul Moqsith Ghazali dalam salah satu tulisannya di laman NU Online. Bahwa ada satu hal yang masih perlu “ditagih” dari sosok ulama ahli ushul fikih yang diharap-harapkan sebagai pengganti sosok al-marhum al-maghfur lahu KH Sahal Mahfudz ini. Menyangkut konsistensi Kiai Afif untuk terus menulis dan berkarya sebagaimana halnya Kiai Sahal yang dikenal ahli ushul fikih dan banyak menorehkan karya tulis berupa kitab dan juga buku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here