Mengenal Latar Belakang Negara Islam Indonesia (NII) dan Penggagasnya

1
26

BincangSyariah.Com – Kita semua tahu, bahwa Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannya pada tahun 1945. Namun, bukan berarti setelah diproklamasikan kemerdekaannya ini sudah tidak ada lagi masalah atau konflik di Indonesia. Nyatanya, masih ada konflik-konflik internal yang masih belum kelar setelah status Indonesia ini menjadi merdeka. Salah satu masalah yang Indonesia hadapi setelah kemerdekaannya ini adalah masalah internal politiknya. Pada tahun 1959 terjadi perubahan politik besar-besaran, yang mana pada waktu itu terjadi sebuah proklamasi Negara Islam Indonesia, atau biasa kita kenal akrab dengan istilah NII.

Masalah ini bukanlah masalah kecil, sebab jika dianalogikan dan dirasionalisasikan, adanya sebuah proklamasi di dalam atau setelah proklamasi, merupakan sebuah indikasi atau tanda jika adanya konflik dan masalah cukup besar yang belum kelar pada saat itu. Yang artinya, kemerdekaan atau mungkin ketenteraman pada saat itu sejatinya belum final terwujud seratus persen.

Indonesia memang salah satu negara yang mempunyai penduduk muslim terbanyak di dunia. Mungkin hal inilah yang menjadi salah satu faktor adanya pergerakan politik islam yang cukup besar di Indonesia. Walaupun piagam Jakarta sudah diganti menjadi Pancasila dengan dihapuskannya sila kewajiban menjalankan syariat islam menjadi ketuhanan yang maha esa, dan hal ini disepekati bersama. Ternyata masih ada di luar sana pihak-pihak yang berasal dari atas nama Islam merasa kecewa dan tidak puas dengan keputusan akhir pancasila ini. Karena bagi mereka, penghapusan sila syariat Islam dianggap sebagai kekalahan mereka dalam mengupayakan berdirinya negara Indonesia menjadi negara Islam seperti apa yang mereka inginkan.

kembali ke persoalan munculnya gerakan NII, gerakan ini pertama kali muncul dan diusung oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Dia dilahirkan di Cepu pada tanggal 7 Januari 1907, yaitu sebuah kota kecil di daerah pesisir pantura.  Kartosoewirjo ini juga pernah belajar dan menjadi murid Jos Cokroaminoto bersama Soekarno, oleh karenanya mungkin tidak sedikit pemikiran-pemikirannya yang mengadopsi dari Cokroaminoto ini. Namun berbedanya dengan Soekarno, jika Soekarno lebih dikenal sebagai orator yang ulung. Maka berbeda dengan Kartosoewirjo yang lebih dikenal sebagai penulis karena memang sejak dari dulu dia sudah sering menjadi skretaris gurunya, yaitu Cokroaminoto.

Salah satu pemikiran atau ideologi islam dari Kartosoewirjo ini adalah cara dia memahami salah satu ayat dalam al-Quran, yaitu Surat Albaqarah ayat 208. Dia memahami untuk mewujudkan istilah Kafah dalam ayat tadi, tidak cukup hanya sebatas melalui pergerakan ormas-ormas atau sejenisnya saja. Akan tetapi jugas harus memasuki dan merambah ke ranah kekuasaan dan tata negara juga. Karena dengan cara beginilah baru bisa mewujudkan istilah Kafah ini dengan sempurna. Oleh karenanya, berangkat dari salah satu latar belakang ini dia dengan gigih berusaha keras untuk mendirikan NII bersama kawan dan rekan ideologinya, seperti Daud Beureueh dan Abdul Kahar Muzakkar.

Selain itu, faktor lain dari berdirinya NII juga adalah rasa kekecewaan Kartosoewirjo sendiri terhadap isi dari perjanjian Renville. Dia merasa sangat kecewa dan menyanyangkan kenapa pemerintah bersedia untuk menyetujui perjanjian Renville dengan Belanda. Yang jelas-jelas jika ditinjau dan ditelaah isinya terdapat ketimpangan, yang mana pihak Indonesia terutama Jawa Barat merasa sangat dirugikan di sana. Dari sinilah, sebagai wujud kekecewaan dan bentuk pemberontakan, Kartoewirjo yang merupakan putra bangsa ini akhirnya mendirikan gerakan NII ini dengan berpusatkan di daerah Jawa Barat.

100%

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here