Mengenal Langgar Sebagai Tempat Pertama Belajar Huruf Hijaiyah

0
835

BincangSyariah.Com – Bicara masalah langgar, yang terlintas adalah ungkapan lucu “Shalat boleh di langgar”. Langgar dimaksud di sini adalah tempat, bukan kata kerja. Hal ini bisa dilihat dari tulisannya; kata “di” dipisah dengan kata “langgar”. Lalu apa itu langgar?

Menurut Zaitur Rahman dalam Jejak Intelektual Pendidikan Islam, langgar adalah lembaga pendidikan Islam pertama kali di Madura. Sebelum pesantren berdiri, pada umumnya berawal dari berdirinya langgar. Baru setelah kepercayaan masyarakat semakin banyak, rumah santri yang jaraknya jauh dari langgar banyak, serta alasan lain, langgar direnovasi menjadi masjid dan dibangunkan pondokan sebagai tempat tinggal santri yang kemudian menjadi pesantren.

Dari segi fisik, langgar berbentuk segi empat layaknya masjid. Namun ukurannya lebih kecil dibandingkan masjid. Santrinya adalah anak tetangga yang berusia sekitar 4 tahun hingga 13 tahun atau sedang duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Di langgar inilah Kiai langgar akan mengajar para santrinya mengenal huruf hijaiyah.

Mengenai keikhlasan mengajar, Kiai langgaran adalah jagonya. Sebab beliau mengajar tidak pernah minta gaji atau iuran pada orang tua santri. Mengajar hanya semata-mata beribadah kepada Allah agar mendapatkan pahala sebagai bekal di akhirat nanti. Namun beberapa orang tua santri di malam hari raya akan memberikan sembako kepadanya dan hal itu bukan perkara wajib.

Para santri tiba di langgar sebelum adzan magrib. Mereka akan shalat berjamaah magrib. Setelah meraka akan belajar mengaji hingga waktu shalat isyak. Setelah selesai shalat isyak, mereka kembali ke rumah masing-masing. Jadi, waktu belajar mengaji antra shalat magrib dan isyak. Ada juga langgar yang melaksanakan dua kali. Selain waktu yang tadi, juga selesai shalat Subuh.

Baca Juga :  Orang Tua Ratu Balqis; Pasangan Manusia dan Jin

Meskipun waktu belajar relatif singkat, namun tingkat keberhasilannya cukup tinggi. Sepanjang penulis ketahui, belum pernah menemukan santri yang belajar di langgar tidak bisa ngaji. Tidak hanya itu, menurut Zaitur Rahman dalam Jejak Intelektual Pendidikan, keunggulan anak-anak yang belajar dilanggar memiiki ketalatenan, sikap disiplin (istiqomah) dan hormat pada gurunya (takdhim). Jadi, bukan hanya ilmu yang diajarkan, melainkan juga sikap positif.

Semoga para Kiai langgar (guru ngaji)  disehatkan dan dimurahkan rezekinya. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here