Mengenal Kitab “Al-Mandzumah Al-Baiquniyyah”: Kitab Ilmu Hadis Bagi Pemula

0
2135

BincangSyariah.Com – Dalam sebuah riwayat Rasulullah saw pernah bertutur, “Aku telah meninggalkan dua perkara kepada kalian (umatku), selama kalian berpegang teguh dengan keduanya, maka kalian tidak akan tersesat untuk selama-lamanya, dua perkara tersebut adalah Alquran dan Sunah.” Alquran dan Sunah adalah dua sumber utama umat Islam. Untuk memahami keduanya, diperlukan seperangkat ilmu yang harus dikuasai, memahami Alquran membutuhkan ilmu-ilmu tentang Alquran, tentang nasikh dan mansukh, ‘am dan khas, muthlaq dan muqayyad, dan lain sebagainya. Demikian pula untuk memahami Sunah atau Hadis diperlukan pengetahuan tentang ilmu-ilmu hadis seperti musthalah hadis, ilmu rijal hadis, syarah hadis, dan banyak lagi yang lainnya.

Ilmu hadis secara khusus disusun pertama kali oleh al-Qadi Abu Muhammad al-Ramahurmuzi (w.360 H) dengan judul al-Muhaddits al-Fasil baina al-Rawi wa al-Wa‘i, sayangnya kitab ini belum begitu sempurna dan belum memuat seluruh pembahasan mengenai ilmu-ilmu hadis. Selanjutanya terdapat karya al-Hakim al-Naisaburi (w.405) dengan judul Ma’rifah ‘Ulum al-Hadits. Sedangkan kitab yang paling banyak menjadi rujukan adalah ‘Ulūm al-Hadits karya Ibn al-Salah (w.643 H), kitab ini lebih sering disebut dengan Muqaddimah Ibn al-Salah. Di samping tiga kitab ini masih banyak kitab-kitab yang secara khusus berbicara tentang ilmu hadis.

Salah satu kitab yang disusun dengan sangat sederhana untuk menjelaskan tentang ilmu hadis adalah al-Mandzumah al-Baiquniyyah, di dalamnya berisi syair yang terdiri dari 34 bait. Meskipun minim keterangan, namun hampir seluruh pembahasan mengenai ilmu hadis dibahas di dalamnya.

Kitab al-Mandzumah al-Baiquniyyah disusun oleh Thaha atau ‘Amr bin Muhammad bin Futuh al-Dimasyqi al-Syafi’i al-Baiquni. Beliau hidup sekitar tahun 1080 H. Keterangan terkait biografi al-Baiquni disebutkan dalam kitab al-I’lam karya al-Zirakli.

Baca Juga :  Khutbah Idulfitri 1439 H: Menyemai Spirit Persaudaraan Islam dengan Idul Fitri

Karya al-Baiquni terbilang populer, hal ini dapat dilihat dari banyaknya ulama yang memberikan syarah atau penjelasan terhadap kitab tersebut. Seperti Ahmad bin Muhammad al-Hamwi (w. 1098 H) yang menuliskan syarahnya yang berjudul Talqih al-Fikr bi Syarh Manzumah al-Atsar, kemudian Muhammad bin Ahmad al-Badiri al-Dimyathi (w. 1140 H) yang menulis Syarh Mandzumah al-Baiquni, ada pula Hasan bin Ghali al-Azhari al-Jadawi (w. 1202 H) menulis kitab Syarh al-Mandzumah al-Baiquniyah. Tercatat puluhan ulama yang diketahui telah menuliskan syarah untuk kitab al-Mandzumah al-Baiquniyyah.

Tercatat dalam Mukadimah al-Mandzumah al-Baiquniyyah, pengarang dalam bait pertama kitabnya menuliskan,

أبدأُ بالحمدِ مُصَلِّياً على # مُحمَّدٍ خَيِر نبيْ أُرسِلا

Aku memulai dengan mengucap puji dan salawat dan keselamatan

Kepada Muhammad sebaik-baik Nabi yang diutus

Penjelasan

Mengucapkan hamdalah dan bersalawat merupakan kebiasaan para ulama dalam memulai tulisan mereka. Hamdalah ditujukan kepada Allah Swt atas segala nikmat dan karunia-Nya kepada manusia, dan salawat ditujukan kepada Nabi Muhammad saw, sebagai bentuk doa kepada beliau agar selalu diberikan keselamatan. Dalam bait tersebut, Imam al-Baiquni juga memuji Nabi Muhammad saw sebagai sebaik-baik utusan yang diutus untuk umat manusia.

Dalam sebuah hadis Rasulullah saw menyebutkan tentang keutamaan memulai sesuatu dengan hamdalah.

كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لاَ يُبْدَأُ فِيهِ بِحَمْدِ اللَّهِ ، فَهُوَ أَقْطَعُ

“Setiap perbuatan yang baik yang tidak dimulai dengan membaca hamdalah, maka akan terputus (keberkahannya).” (HR. Ibn Hibban)

Dalam riwayat lain, Rasulullah saw bersabda berkaitan dengan keutamaan salawat:

مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا

Barangsiapa yang berselawat kepadaku sekali saja, maka Allah akan membalas salawat tersebut dengan sepuluh kali lipat..” (HR. Muslim)

Baca Juga :  el-Bukhari Institute Adakan Kursus Singkat Pemahaman Hadis Berbasis Maqasid Syariah

Ada perbedaan naskah tentang penyebutan bismillah dalam al-Mandzumah al-Baiquniyyah, ada yang menyebutkan ada dan ada juga yang mengatakan tidak ada.

Bait selanjutnya berbunyi,

وذِي مِنَ أقسَامِ الحديث عدَّة # وكُلُّ واحدٍ أتى وحدَّه

Hadis itu terdiri dari berbagai macam bagian yang sangat banyak

Satu persatunya akan dijelaskan pengertiannya

Penjelasan

Dalam bait tersebut Imam al-Baiquni menyebut bahwa hadis terdiri dari banyak cabang. Beberapa kitab syarah menyebut bahwa al-Baiquni dalam kitab ini hanya menyebut 32 pembagian hadis saja, padahal menurut Ibnu Shalah hadis terbagi ke dalam 63-69 macam bagian. Namun dari sekian banyak macam hadis, seluruhnya dapat dikelompokkan ke dalam 3 macam hadis saja. Pertama, adalah hadis sahih, kedua hasan. dan ketiga adalah hadis daif.

Hadis adalah setiap informasi yang disandarkan kepada Nabi saw. Informasi tersebut bisa dalam bentuk perkataan, perbuatan, ikrar atau sifat. Hadis bisa diklasifikasikan atau dilihat dari sisi yang berbeda. Yang pertama adalah dari sisi diterima atau ditolak. Kedua dari sisi bagaimana dia disandarkan dan ketiga dari sisi banyaknya jumlah jalur yang dimiliki.

Masing-masing dari setiap sisi tersebut memiliki macam dan istilahnya tersendiri.
Kata Haddah dalam bait di atas menunjukkan bahwa Imam al-Baiquni akan memberikan penjelasan atau pengertian dari masing-masing macam-macam hadis tersebut dalam bait-baitnya selanjutnya.

*Artikel ini ditulis untuk bahan diskusi Kajian Sekolah Hadis Online Yayasan Pengkajian Hadis El-Bukhari Institute

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here