Kasidah Burdah: Syair Cinta Untuk Sang Rasul

2
4944

BincangSyariah.Com – Muhammad Abdul Mun’im al-Khafaji dalam kitabnya al-Adab fi at-Turats as-Sufi mengemukakan kisah yang melatar belakangi penyusunan Burdah yang pada awalnya berjudul al-Kawakib al-Durriyah yang berarti bintang-bintang yang bergemerlap. Kasidah ini dikarang oleh seorang sya’ir dan juga sufi dari Busir yang dikenal dengan nama Maulana al-Busiri. Wafat pada tahun 696 H, beliau hidup di dua masa kekuasaan Islam di Mesir yaitu Dinasti Ayyubiyah dan kekuasaan Mamalik. Sya’ir bagi al-Busiri merupakan karya seni yang tidak dapat dipisahkan darinya. Syair gubahannya banyak bercorak pujian (madh) atas Nabi sehingga ia dijuluki Madih ar-Rasul.

Kasidah Burdah merupakan kasidah terpopuler dibandingkan kasidah beliau yang lainnya. Kasidah ini disusun ketika beliau sedang menderita sakit stroke yang menyebabkan setengah badannya lumpuh.

Pada suatu malam, ia berdo’a dan bertawassul dengan kasidah ini seraya memohon syafa’at dan pertolongan dari Allah swt agar penyakitnya hilang. Setelah menangis dan tertidur, beliau bermimpi bertemu Rasulullah saw. dan langsung membacakan kasidah Burdah ini dihadapan sang Rasul.

Rasulullah saw. sangat senang dan mengusap-usap badannya kemudian memberi hadiah berupa Burdah (baju besar yang dapat dijadikan selimut). Ketika terbangun, penyakitnya diangkat oleh Allah swt dan beliau merasa sehat kembali, namun peristiwa dalam mimpinya tadi tidak beliau ceritakan pada siapapun.

Di pagi harinya saat keluar rumah, beliau bertemu seorang fakir miskin seraya berkata padanya; “Tuanku, aku ingin agar sekiranya tuan memberikan padaku kasidah yang tuan sampaikan pada baginda Rasul tadi malam”. Dengan penuh tanya al-Busiri berkata “Kasidah yang mana yang engkau maksud?” Si fakir tadi menjawab “Kasidah yang awal baitnya berbunyi…

أَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِيْ سَــــلَــمٍ ۞ مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَيْ مِنْ مُقْلَةٍ بِـــدَمِ

Baca Juga :  Agar Hidup Penuh dengan Kebaikan dan Cinta, Renungi Syair Sufi Ini

“Apakah karena mengingat para kekasih di Dzi Salam sana. Engkau deraikan air mata dengan darah duka”

Maka al-Busiri memberikan kasidah tersebut padanya. Karena peristiwa ini, tersebarlah berita kesembuhan al-Busiri dari penyakitnya di kalangan masyarakat bahkan di kalangan pemimpin pada masa itu. Kasidah itu pun terkenal dengan nama Burdah, bahkan ada yang menyebutnya Bur’ah yang berarti kesembuhan sebab dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Banyak sekali peristiwa menakjubkan yang terjadi sebab kasidah Burdah ini. Salah satunya adalah ketika Sa’duddin al-Fath, seorang pejabat negara dapat disembuhkan kedua matanya yang hampir buta dengan hanya diletakkan Burdah di atas kedua matanya. Selain itu, kasidah ini juga diyakini dapat menjauhkan diri dari penguasaan hawa nafsu dan mimpi bertemu Nabi saw.

Kasidah yang terdiri dari 160 bait ini beraliran syair puisi klasik dimana struktur dan bahasanya menggunakan Arab Fusha yang baik dan benar. Dikatakan baik sebab bahasa ini dikenal oleh cendekiawan terpelajar maupun orang awam. Artinya bahwa kata yang terkandung di dalamnya dapat dipahami oleh semua lapisan masyarakat Arab. Disebut benar, karena kasidah ini menekankan kaidah Bahasa Arab yang berlaku sepanjang masa, tidak terpengaruh oleh kata-kata asing dan tidak pula terpengaruh gaya sya’ir modern.

Kasidah ini tergolong klasik karena cukup memenuhi unsur-unsur kaidah sastra serta sesuai dengan kaidah-kaidah syair seperti adanya emosi (‘athifah), imajinasi (khayal), gagasan (fikrah), bentuk/form (shurah) dan sangat memperhatikan keabsahan irama (bahr) dan keluwesan irama (qafiah). Kasidah ini menggunakan irama bahr basith sehingga terasa halus, lembut dan cocok untuk sya’ir madh. Ditinjau dari segi rima, kasidah ini menggunakan qafiah yang berawikan mim karena ternyata huruf mim merupakan huruf yang ringan, mudah diucap dan lembut didengar. Corak sastra seperti inilah yang banyak diterima masyarakat sehingga corak sastra ini bersifat abadi dan memesona bagi siapa saja yang mendengarnya.

Baca Juga :  Punya Hajat dan Kebutuhan, Bacalah Penggalan Bait Qasidah Ini Agar Dikabulkan

Fathurrahman Rauf dalam studi analisis atas corak sastra kasidah Burdah ini, menuturkan bahwa setidaknya ada sepuluh gagasan utama yang terkandung di dalamnya. Diantaranya adalah pujian kepada Rasulullah saw seperti pada bait;

محمد سيد الكونين والثقلين ۞  والفريقين من عرب ومن عجمِ

“Muhammad saw adalah pemimpin dunia dan akhirat. Pemimpin jin dan manusia, juga pemimpin bangsa arab maupun ajam (non-Arab)”

هو الحبيب الذي ترجى شفاعته ۞ لكل هولٍ من الأهوال مقتحم

“Muhammad kekasih Allah syafa’atnya selalu diharapkan. Di hari yang sangat mencekam. Hari Kiamat yang menakutkan”

Dalam syairnya juga ada harapan yang ditujukan untuk Rasul agar beliau berkenan memberi syafa’at dan perlindungan di hari Kiamat nanti;

يا أكرم الخلق ما لي من ألوذ به ۞ سواك عند حلول الحادث العمم

“Wahai Rasul paling mulia, tiada orang tempatku berlindung selain engkau yang kudapatkan  kala huru-hara kiamat melanda semua manusia”

 ولن يضيق رسول الله جاهك بي۞ إذا الكريم تحلَّى باسم منتقم

“Pangkat kebsaranmu tak kan berkurang hanya karena permintaanku ini wahai Rasul. Tidakkah Tuhan yang Maha murahpun berkenan mengampuni orang yang bersalah”

Al-Busiri menutup kasidahnya dengan harapan agar Allah swt senantiasa mencurahkan rahmat-Nya kepada Nabi Muhammad saw selama angin timur masih menghembus menerpa daun-daun pohon Ban, dan selama kafilah unta masih melangkahkan kakinya, menari mengikuti irama lagu para penggiringnya;

وائذن لسحب صلاةٍ منك دائمةٍ ۞ على النبي بمنهلٍ ومنسجم

“Ya Allah ya Tuhanku, perkenankanlah selalu awan rahmat-Mu tercurah bagaikan hujan deras pada Muhammad, Nabi kami Kekasih-Mu”

ما رنّحت عذبات البان ريح صبا۞ وأطرب العيس حادي العيس بالنغم

“Curahkanlah rahmat-Mu padanya selama angina timur menerpa ranting-ranting pohon Ban dan para penggiring unta bernyanyi mendendangkan lagu untuknya.”

Pada akhirnya, semoga kita senantiasa mencontoh Maulana al-Busiry yang kehidupannya dikhidmahkan untuk selalu memuji Nabi saw. Semoga kita senantiasa dikaruniakan hidayah oleh Allah swt untuk selalu bershalawat atas junjungan kita agar kelak di hari Kiamat mendapat syafa’at dari beliau. Amin Ya Rabbal ‘Alamin…



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

2 KOMENTAR

  1. […] Imam Al-Bushiri di dalam nadzam tersebut memberikan solusi agar kita tidak terus terjebak pada nafsu tersebut, yakni dengan cara melatihnya. Nafsu itu bagaikan anak kecil yang harus disapih untuk tidak menyusu kepada ibunya ketika sudah genap usia dua tahun. Ketika anak kecil itu tidak disapih, tetapi dibiarkan saja menyusu kepada ibunya, maka anak itu pasti akan terus meminta menyusu kepada ibunya sampai lebih dari dua tahun. […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here