Mengenal K.H. Hasyim Asy’ari: Mendirikan NU, Menjadi Rujukan Pejuang Nasional

2
10

BincangSyariah.Com – Hadhratu as-Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari memiliki nama kecil yang diberikan oleh kedua orang tua beliau, Muhammad Hasyim. Beliau dilahirkan pada hari Selasa kliwon, 24 Dzulqo’dah 1287/13 Februari 1871 di desa Gedang, Jombang. Nama belakang beliau disandarkan kepada ayahnya yang merupakan pendiri Pesantren Keras, Jombang. Ayah beliau, Kyai Asy’ari, menikah dengan Halimah binti Layyinah binti Sihah bin Abdul Jabar bin Ahmad bin Pangeran Sambo bin Pangeran Banawa bin Jaka Tingkir (Mas Karebet) bin Prabu Brawijaya VI, Raja Majapahit terakhir. Menurut cucu beliau yakni KH. Abdurrahman Wahid, silsilah keturunan dari raja jawa ini tidak hanya dari jalur ibu melainkan juga dari jalur Ayah. Maka dari itu, beliau dikenal sebagai ulama yang mempunyai garis nasab elit dari kerajaan jawa.

Selain ayah, kakek beliau bernama Kiai Shihah juga merupakan pendiri Pesantren Tambakberas, Jombang. Tumbuh dan berkembangnya beliau di kalangan pesantren adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kedalaman ilmu pengetahuan agama, keberanian serta sikap yang menjadi teladan umat Muslim sampai sekarang. Keberanian dan kealiman beliau sudah terlihat sedari kecil saat menjadi badal (guru pengganti) mengajar para santri di pesantren, meski mayoritas usia santrinya lebih tua dibanding beliau yang saat itu baru berumur 13 tahun.

Selain faktor tersebut, Allah menganugerahkan kepada beliau kecerdasan yang sudah diakui oleh para ulama semasa beliau dan juga ditafsirkan dari mimpi sang ibu yang melihat cahaya bintang jatuh dan mendarat ke perut sang ibu saat mengandung beliau selama 14 bulan.

Tidak ada rasa bosan sedikitpun yang singgah di hati beliau karena sedari kecil tumbuh di lingkup pesantren. Menariknya, berkelana dari pesantren ke pesantren lain adalah kegemaran bagi beliau. “Luru ilmu kanti lelaku” (mencari ilmu itu dengan berkelana), falsafah Jawa yang beliau pegang dengan kegigihan penuh dalam mempelajari beberapa cabang ilmu dan berguru secara talaqqi (bertatap langsung) kepada banyak guru. Selain pesantren Bangkalan Madura yang beliau singgahi untuk mempelajari tata bahasa Arab, fikih, dan tasawuf kepada Syekh Muhammad Kholil selama 3 bulan, pesantren Langitan-Tuban, pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo, pesantren Trenggilis, Semarang dan pesantren Wonokoyo, Probolinggo juga ikut andil dalam meningkatkan intelektualitas beliau.

Baca Juga :  Menjaga Pancasila di Indonesia Justru Memperkuat Agama

Beliau tidak hanya belajar dari pesantren satu ke pesantren lain di Nusantara. Beliau juga memperdalam ilmu di Hijaz, Mekkah selama kurang lebih 6 tahun. Selama di Haramain, kecerdasan beliau melahap berbagai macam cabang Ilmu seperti fikih empat mazhab (Syafi’i, Hanafi, Maliki, Hanbali), ilmu tauhid, ushul fikih dan hadis-hadis terutama dalam  kutub as-sittah.

Beliaupun mendapat ijazah untuk mengajar Shahih Bukhari setelah talaqqi dengan Syekh Mahfudz At-Tarmasi (Ahli Hadis pertama Indonesia yang mengajar di Makkah). Sebelum menetap lama untuk belajar di Makkah, beliau sudah pernah bepergian ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji bersama istri beliau yang pertama bernama Khadijah, putri dari Kiai Ya’qub (pendiri Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo). Khadijah yang beliau nikahi pada usia 21 tahun, dinikahkan atas Kiai Ya’qub sendiri karena takjub atas kealiman KH. Hasyim Asy’ari Ketika belajar di sana. Tersirat maksud lain dari Kiai Ya’qub dengan menikahkan keduanya adalah untuk menjaga nasab antar keluarga Kiai yang memang sudah lazim di kalangan mereka.

Namun, ada yang mengharukan ketika 7 bulan menetap di Makkah. Istri beliau meninggal setelah melahirkan anak yang pertama dan kemudian disusul oleh anak beliau. Setelah Istri pertama meninggal dunia, Istri-istri beliau yang selanjutnya pun berasal dari keturunan Kiai.

Setelah belajar sekian lama di Mekkah, beliau pulang ke Nusantara untuk menyebarkan apa yang telah beliau dapat dan membukukan beberapa karya diantaranya Adab al-‘Ilm wa al-Muta’allim dan Risalah Ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah yang kemudian dijadikan pedoman bagi kaum Nahdiyyin. Di samping dua karya tersebut, ada karya-karya lain di masa tersebut yang beliau tulis.

Beliau juga membangun pesantren sendiri di sebuah daerah pelosok, yang sekarang kita kenal dengan Pesantren Tebuireng, Jombang tepatnya pada tahun 1899. Pesantren ini pun dibangun ketika situasi negara sedang lemah dalam pertahanan. Pendidikan karakter kebangsaan, menanamkan ruh persatuan serta upaya menjaga tradisi Nusantara adalah pemikiran yang beliau tuangkan pada para santri sebagai sarana memperkuat benteng pertahanan bagi bangsa Indonesia kala itu.

Baca Juga :  Jejak Islam di Dunia: Puasa di Kerala, Pintu Masuk Awal Islam di India

Menjadi Rujukan Pejuang Nasional

Tidak hanya kalangan para santri, bahkan interaksi sosial beliau dengan tasamuh (saling menghargai) dan tawasuth (moderat) sangat merangkul jiwa seluruh lapisan masyarakat utamanya penduduk sekitar sana. Tak heran, hal ini juga yang menggerakkan beberapa pejuang bangsa seperti Jendral Sudirman dan Bung Tomo yang sering mengunjungi beliau ke Pesantren untuk meminta fatwa dan nasihat beliau dalam menghadapi penjajah. Puncak kiprah beliau dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah ketika berita pasca proklamasi kemerdekaan yang justru semakin menggiurkan bagi para penjajah dari negara lain seperti tentara Inggris AFNEI (Allied Forces Netherland East Indies) untuk melancarkan misi menaklukan dua pulau penting yakni Jawa dan Sumatra, serta NICA (Netherlands Indies Civil Administration) Belanda, sekutu Jepang yang datang dan ingin merebut kembali kedaulatan Negara.

Para Kiai dan Pengurus NU pun bertindak cepat memusyawarahkan hal ini, terutama beliau KH. Hasyim Asyari sebagai Ra’is al-Akbar NU yang diminta oleh Bung Karno atas saran Jendal Sudirman untuk mengeluarkan fatwa hukum berjihad melawan penjajah untuk memberi kekuatan bagi para santri dan pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan NKRI.

Kemudian para Kiai dan Konsul NU se-Jawa dan Madura mengadakan pertemuan pada 21-22 Oktober 1945 di kantor PBNU Surabaya. Maka, inilah yang mereka namai dengan Resolusi Jihad. Di dalamnya terdapat seruan bagi rakyat Indonesia untuk bersama-sama bersatu melawan penjajah yang sudah mengganggu ketentraman umum, seperti yang dikatakan pula dalam pidato Bung Tomo dalam kobaran semangat perlawanan dan kekecewaan terhadap sikap Inggris yang mendustai perjanjian genjatan senjata. “Hukum memerangi orang kafir yang menghalangi kepada kemerdekaan kita saat ini adalah fardlu ain bagi tiap-tiap muslim yang mungkin meskipun orang fakir”. Demikian adalah satu dari fatwa beliau KH. Hasyim Asyari yang tercantum dalam hasil Resolusi Jihad Fii Sabilillah dan berhasil menggerakkan para santri serta pejuang lain untuk memilih mati syahid karena melawan penjajah daripada hidup tapi dalam keadaan dijajah.

Baca Juga :  Etika Pendidik Perspektif K.H. Hasyim Asy’ari

Sangat besarnya perhatian beliau kepada tradisi, budaya serta keadaan bangsa pada waktu itu, bisa tergambar saat terkejutnya beliau ketika mendengar berita dari Jendral Sudirman dan Bung Tomo perihal menangnya pasukan Belanda dalam pertempuran Singosari di Malang. Dikatakan setelah kejadian tersebut, beliau jatuh sakit dan meninggal dunia pada 7 Ramadhan 1366 atau 25 juli 1947.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here