Mengenal K.H. Ahmad Mustofa Bisri: Ulama dan Budayawan Sekaligus

1
18

O, Muhammadku, O, Muhammadku!

Dimana-mana sesama saudara

Saling cakar berebut benar

Sambil terus berbuat kesalahan

Qur’an dan sabdamu hanyalah kendaraan

Masing-masing mereka yang berkepentingan

Aku pun meninggalkan mereka

Mencoba mencarimu dalam sepi rinduku

BincangSyariah.Com – Potongan puisi diatas adalah untaian ungkapan kerinduan terhadap sosok teladan dan pujaan, sebagai bentuk keresahan dari keadaan ummat di zaman yang amat edan. Zaman dimana sesama ummat hanya berpangku kepada kepentingan golongan, serta qur’an dan sabda Rasulullah SAW hanyalah sebagai alat pembenaran.

Puisi ini merupakan karya dari seorang ulama sekaligus pujangga ulung K.H. Ahmad Mustofa Bisri atau yang biasa dikenal dengan sebutan Gus Mus. Gus Mus merupakan ulama nusantara dan salah satu kiai berpengaruh di kalangan jamaah Nahdatul Ulama. Ia juga diantara ulama yang masih berulang kali menyuarakan pentingnya mempertahankan moderasi beragama, sehingga tidak berlebihan jika saya menyebutnya sebagai ulama moderat masa kini.

Putra Pakar Tafsir

Gus Mus lahir pada tanggal 10 Agustus 1944, di daerah Rembang, Jawa Tengah. Beliau dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang patriotik, intelek, dan agamis. Kakeknya H. Zaenal Mustofa yang dikenal sebagai saudagar tetapi juga amat menghormati ulama merupakan kakek yang amat peduli dengan pendidikan anak-anaknya terutama dalam ilmu agama. Hal ini terbukti dengan berdirinya Taman Pelajar Islam (Roudhotut Tholibin) pada tahun 1955 yang merupakan hasil dari buah perpaduan yang terpatri dalam keluarga H. Zaenal Mustofa dan keluarga ulama.

Sikap agamis dan patriotik yang dimiliki Gus Mus tidak hanya turun dari darah kakeknya, melainkan juga dari darah ayahnya KH. Bisri Musthofa yang merupakan orator ulung. Dalam ungkapan KH. Saifuddin Zuhri, KH. Bisri Mushtofa adalah sosok orator yang mampu membuat pembahasan  yang sulit menjadi mudah didengar dan dipahami. Beliau memiliki sejumlah karya tulis, diantaranya adalah tafsir Al-Quran 30 juz dengan menggunakan hurub arab pegon bernama al-Ibriz.

Pendidikan dan Pengalaman Berorganisasi

Baca Juga :  Anjuran Nabi untuk Menghormati Pemimpin

Gus Mus sendiri memulai pendidikannya di Sekolah Rakyat (SR) di Rembang, setamat dari SR beliau melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin dibawah asuhan KH. Marzuki dan KH. Mahrus Ali selama dua tahun, dan melanjutkan pembelajarannya di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak dibawah asuhan KH. Ali Ma’shum dan KH. Abdul Qodir selama empat tahun, lalu melanjutkan masa pendidikannya di Universitas Al-Azhar Cairo dalam program studi Islam dan bahasa Arab.

Gus Mus merupakan pribadi yang disiplin daln terlatih dalam berorganisasi, semasa pendidikannya di Al-Azhar Cairo beliau pernah menjabat sebagai pengurus Himpunan Pemuda dan Pelajar Indonesia (HIPPI) bersama KH. Abdullah Syukri Zarkasy (Pengasuh Pondok Modern Daarussalam Gontor, Ponorogo) di divisi olahraga. Selain itu Gus Mus juga aktif  mengelolah majalah organisai HIPPI bersama KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Sepulang dari masa pendidikannya di Mesir Gus Mus ikut berkecimpung dalam pengurusan NU baik tingkat cabang pada tahun 1970 di PCNU Rembang, pernah menjabat sebagai Wakil Katib Syuriah PWNU Jawa Tengah, hingga menjabat sebagai Rais Syuriah PBNU periode 1994-1999. Pada tahun 2004-2009 Gus Mus memutuskan vakum dari kepengurusan struktural PBNU.

Pada tahun 2015, atas dasar hasil Muktamar NU yang ke-32 di Makassar, Gus Mus ditunjuk sebagai Wakil Rois Aam PBNU periode 2010-2015 mendampingi KH. M.A sahal Mahfudz sebagai Ketua. Namun sebelum kepengurusan berakhir, tepatnya pada tanggal 24 Januari 2014 KH. M.A Sahal Mahfudz lebih dulu menghadap sang Kholiq. Dengan berdasarkan AD- ART NU, kepemimpinan Raiis ‘Aam PBNU selanjutnya jatuh kepada Gus Mus selaku wakil dari Raiis ‘Aam saat itu.

Pada Muktamar ke-33 di Jombang, Gus Mus kembali ditunjuk sebagai Raiis ‘Aam PBNU yang dipilih oleh tim Ahl al-Hall wa al-‘Aqd (Ahwa) namun denga tegas Gus Mus menolak tawaran tersebut karena dianggap melanggar kode etik pemilihan dan tidak mengikutsertakan langsung para muktamirin selaku pemegang  hak suara dalam memilih.

Baca Juga :  Ini Lima Perkara yang akan Menyelamatkanmu dari Azab Kubur

Sikap penolakan Gus Mus juga didukung oleh KH. Hasyim Muzadi yang memberikan tanggapan bahwa apa yang dilakukan oleh Gus Mus menunjukan bahwa dirinya memiliki integritas yang kuat, dan lebih mementingkan kemaslahatan bersama dibanding kepentingannya sendiri. Sikap ini merupakan sikap yang mempresentasikan sikap tawassuth yang lebih memilih jalan tengah sebagai penyatu.

Teladan Literasi dan Kritik Sosial

Kiprah Gus Mus tidak hanya dalam berorganisasi melainkan juga dalam dunia literasi, hal ini tercermin dalam pembentukan gusmus.net dengan konsep “Mata Air” sebagai media informasi yang memiliki integritas yang kuat dalam menginfokan hal-hal kebenaran.

Kiai sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Raudhotut Tholibin ini juga kerap kali mengggubah puisi sebagai bentuk keresahan dan keprihatinan beliau pada kondisi ummat saat ini. Salah satu puisinya yang berjudul “O Muhammadku” adalah bentuk keresahan beliau yang rindu akan sosok pemimpin  yang dapat diteladani, serta penggambaran kondisi ummat yang saat ini hanya saling kafir-mengkafiri.

Dalam satu kesempatan ketika diundang di acara Mata Najwa, beliau memaparkan macam-macam Kiai dan Ulama. Menurutnya, ulama itu terbagi sesuai dengan kepentingannya masing-masing. Ada kalangan ulama struktural partai, ada kalangan ulama yang berbasis di pemerintahan, ada ulama yang dibentuk untuk mewujudkan kepentingan golongannya. Namun sebenar-benarnya ulama adalah yang mewarikan sikap luhur dan ajaran Rasulullah SAW.

Itulah sosok Gus Mus, seorang Ulama, Budayawan, Seniman sekaligus yang amat memegang teguh prinsip integritas dan moderasi beragama. Kepeduliannya terhadap ummat tak perlu diragukan jika kita melihat kiprahnya dalam mengabdi kepada ummat. Selayaknya kita sebagai para generasi penerus bangsa mampu meneladani sikap yang beliau contohkan, agar kelak bangsa ini tidak hanya memiliki Gus Mus yang sekarang, tapi juga akan melahirkan generasi generasi ulama ulama moderat yang lebih baik dan bisa berkiprah untuk kepentingan ummat dan bangsa.

Baca Juga :  Mengenal K.H. Hasyim Asy'ari: Mendirikan NU, Menjadi Rujukan Pejuang Nasional

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here