Mengenal Istilah-Istilah dalam Ilmu Fikih (Bagian I)

0
4622

BincangSyariah.Com – Setiap fan ilmu pastilah memiliki istilah-istilah khusus di dalam mempelajarinya. Baik ilmu tentang pengetahuan umum maupun pengetahuan agama. Begitu pula di dalam mempelajari hukum-hukum Islam yang terangkum dalam fan ilmu fikih. Maka, diperlukan mengetahui istilah-istilah yang berkaitan di dalamnya. Berikut ini adalah di antara sebagian istilah-istilah di dalam ilmu fikih yang perlu Anda ketahui.

  1. Fardu. Fardu merupakan suatu hal yang dituntut oleh syara’ untuk dilakukan dengan tuntutan yang tegas. Di mana akan diganjar pahala bagi yang melakukannya dan diganjar siksa bagi yang meninggalkannya. Seperti halnya puasa Ramadan yang telah disyariatkan untuk dilakukan dengan tuntutan yang tegas. Sebagaimana firman Allah Swt.

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ

    Telah diwajibkan bagi kalian berpuasa. (Q.S. Al-Baqarah/2: 183). Kata “kutiba” ditafsirkan “furidha”, yakni difardukan. Oleh karena itu, bagi yang mau menjalankan puasa, maka ia akan mendapatkan pahala di dalam surga. Sementara bagi yang tidak mau berpuasa, maka ia disiksa di dalam neraka.

  1. Wajib. Kata wajib menurut mazhab Syafii itu seperti fardu. Tidak ada perbedaan antara keduanya kecuali dalam bab masalah haji. Wajib di dalam bab haji adalah sesuatu yang tidak mempengaruhi keabsahan haji. Seperti melempar jamrah, ihram dari miqat dan kewajiban-kewajiban haji lainnya. Jika seseorang itu tidak menjalankan kewajiban-kewajiban haji tersebut, maka hajinya tetap sah tetapi ia wajib menggantinya dengan membayar fidyah (menyembelih sembelihan). Adapun fardunya haji adalah sesuatu yang dapat menjadikan sahnya haji. Artinya jika sesuatu itu tidak dilakukan, maka dapat menyebabkan batalnya haji. Seperti wuquf di Arafah, thawaf ifadah dan lain sebagainya. Jika ia tidak melakukannya, maka batal hajinya.
  2. Fardu Ain. Fardu ain adalah sesuatu yang dituntut oleh syariat untuk dilakukan kepada masing-masing pribadi umat Muslim yang sudah mukallaf (berakal dan balig) dengan tuntutan yang tegas. Seperti salat, puasa dan haji bagi yang mampu. Maka, ibadah-ibadah tersebut wajib dikerjakan oleh setiap masing-masing mukallaf. Tidak cukup hanya diwakili oleh sebagian orang saja, sementara yang lain tidak.
  3. Fardu kifai atau fardu kifayah. Fardu kifai adalah sesuatu yang dituntut oleh syariat untuk dilakukan kepada semua umat muslim, tetapi tidak dituntut kepada masing-masing pribadi dari mereka. Sehingga, jika sebagian dari mereka sudah melakukan tuntutan tersebut, maka sudah dianggap cukup. Sementara sebagian umat muslim yang lainnya sudah gugur kewajibannya dan tidak berdosa jika tidak melakukannya. Namun, jika tidak ada seorang pun yang mau melakukan kewajiban tersebut, maka semua umat muslim berdosa. Contoh: merawat orang yang meninggal dunia, memandikan, mengkafani, menyalati dan menguburkannya. Hal ini adalah kewajiban bagi semua muslim. Dan cukup diwakilkan oleh sebagian umat muslim yang mau merawat jenazah tersebut. Namun, jika tidak ada yang mau merawatnya, maka semua umat muslim yang tahu adanya jenazah yang membutuhkan perawatan tersebut berdosa. Karena mereka semua tidak ada yang menjalankan fardu kifayah ini. (bersambung)
Baca Juga :  Mufasir yang Menyusun Tafsir dalam Bentuk Syair (Nazham)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here