Mengenal Istilah-istilah dalam Ilmu Fikih (Bagian III)

0
1659

BincangSyariah.Com – Berikut ini adalah kelanjutan dari tulisan mengenal istilah-istilah dalam ilmu fikih sebelumnya.

  1. Haram. Haram adalah sesuatu yang syariat menuntut kita untuk tidak melakukannya/ meninggalkannya dengan tuntutan yang tegas. Bagi yang meninggalkannya karena perintah Allah, maka ia akan mendapatkan pahala. Dan bagi yang melakukannya, maka ia mendapatkan siksa. Misalnya larangan membunuh. Allah Swt. berfirman:

وَلاَ تَقْتُلُواْ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّ بِالحَقِّ. [الإسراء: 33].

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. (Q.S. Al-Isra/17: 33). Atau haram memakan harta orang lain dengan cara yang tidak benar/batil. Sebagaimana firman Allah Swt.

 وَلاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ [البقرة: 188].

Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil. (Q.S. Al-Baqarah/2: 188). Maka, bagi orang yang melakukan hal-hal yang diharamkan secara syariat, ia berdosa dan berhak mendapatkan siksaan. Sementara bagi yang meninggalkannya dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka dia berhak mendapatkan pahala. Haram disebut juga dengan mahdzur, ma’siat dan dzanbun (dosa).

  1. Makruh. Makruh dibagi menjadi dua bagian. Makruh tahrim dan makruh tanzih. Makruh tahrim adalah sesuatu yang syariat menuntut kita untuk meninggalkannya dengan tuntutan yang tegas, tetapi bukan tuntutan seperti meninggalkan karena haram. Bagi yang meninggalkannya karena niat memenuhi perintah Allah, maka ia mendapatkan pahala. Dan bagi yang melakukannya, maka ia akan mendapatkan siksa, tetapi tidak siksaan seperti yang berlaku di hukum haram. Contohnya salat sunnah mutlak ketika sudah terbit matahari, atau ketika setelah tenggelamnya matahari. Maka, salat yang dilakukan tersebut berhukum makruh tahrim (makruh yang mendekati haram).
Baca Juga :  Umur Hewan Kurban yang Dianjurkan Rasulullah

Sementara itu, makruh tanzih adalah sesuatu yang dituntut oleh syariat untuk meninggalkannya dengan tuntutan yang tidak tegas. Contoh berpuasa di hari Arafah bagi orang yang sedang berhaji, maka, jika ia meninggalkan puasa karena menjalankan perintah agama, maka ia justru akan mendapatkan pahala. Tetapi jika ia berpuasa di hari Arafah saat ia berhaji, maka ia tidak mendapatkan siksa. Jadi, makruh tanzih itu, kebalikan dari sunah. Jika dilakukan tidak mendapat siksa, dan jika ditinggalkan, maka akan mendapatkan pahala.

  1. Ada’. Ada’ adalah melakukan ibadah pada waktunya menurut aturan syariat. Contohnya puasa Ramadan di bulan Ramadan, dan salat Zuhur di waktunya salat Zuhur yang telah ditentukan oleh syariat.
  2. Qadha’. Qadha’ adalah melakukan ibadah yang wajib dilakukan di luar waktu yang telah ditentukan oleh syariat. Contoh melaksanakan puasa Ramadan di luar bulan Ramadan, atau salat Zuhur dilakukan di luar waktu salat Zuhur. Qadha’ itu wajib dilakukan, baik tertinggal/terlewatnya ibadah tersebut karena udzur atau tidak adanya udzur. Namun, perbedaannya jika terlewatnya ibadah tersebut hingga menyebabkan ia harus mengqadha’nya tidak karena udzur, maka ia berdosa. Jika terlewatnya ibadah di luar waktunya tersebut karena adanya udzur, maka ia tidak berdosa. Allah Swt. berfirman

فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ [البقرة: 185].

Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. (Q.S. Al-Baqarah/2: 185).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa siapa yang tidak berpuasa Ramadan karena adanya udzur, baik sakit atau bepergian, maka ia wajib mengqadha’nya di luar bulan Ramadan.

  1. I’adah (mengulangi ibadah). I’adah adalah melakukan ibadah di dalam waktunya sebanyak dua kali karena untuk menambah keutamaan. Misalnya, seseorang sudah melaksanakan salat Zuhur sendirian, kemudian ada orang lain yang sedang atau akan melaksanakan salat Zuhur. Maka, ia disunnahkan mengulang lagi salatnya dengan ikut berjamaah salat Zuhur untuk mendapatkan pahala keutamaan salat berjamaah.
Baca Juga :  Hukum Merokok Saat Pengajian

Demikianlah sebagian istilah-istilah yang ada di dalam ilmu fikih, sebagaimana dijelaskan di dalam kitab Al-Fiqh Al-Manhaji Ala Madzhab Al-Imam Al-Syafii. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here