Mengenal Ilmu Gharib al-Hadits

0
244

BincangSyariah.Com – Dalam kajian hadis, selain yang dikaji adalah aspek transmisi periwayatan (sanad) adalah kajian tentang makna dari konten (matn) sebuah hadis. Konten sebuah hadis baik itu bersumber dari Nabi Saw., sahabat, atau tabi’in tersebut sama pentingnya karena yang akan menjelaskan seperti apa sabda Nabi Saw. tentang syariat tertentu, seperti apa peristiwa yang terjadi di masa Nabi dan pesannya bagi umat Nabi Muhammad Saw. saat ini.

Diantara kajian terkait dengan konten atau matan hadis tersebut, ada kajian yang mempelajari apa saja kata-kata yang maknanya sulit dipahami sehingga perlu dijelaskan oleh seorang yang ahli di bidang bahasa. Kajian ini dikenal sebagai gharib al-hadits, yang secara harfiah berarti “sesuatu yang asing (maknanya) pada hadis”.  Ini tidak berarti ulama yang meriwayatkan hadis tidak memahami apa yang sebenarnya yang ia riwayatkan. Namun kajian gharib al-hadits ini menjadi niscaya berkembang seiring dengan tersebar luasnya hadis pasca wafatnya Nabi Muhammad Saw. dan para sahabat meriwayatkan hadis-hadis Nabi kepada banyak orang, di berbagai kota, yang pada awalnya boleh jadi bahasa Arab bukan bahasa ibu. Sehingga, ada perbedaan atau misinformasi ketika memaknai kata tertentu dalam sebuah hadis.

Salah satu definisi dari gharib al-hadits misalnya adalah,

الألفاظ اللغوية البعيدة المعنى والغامضة التي تحتاج إلى شرح وإيضاح

“kata-kata yang maknanya tidak dikenal dan samar yang membutuhkan penjelasan maksudnya.”

Salah satu yang dikenal perintis kajian ilmu gharib al-hadits tersebut adalah seorang ulama pakar bahasa, hadis, fikih, dan sastra sekaligus bernama Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam (w. 224 H) (baca profil Abu ‘Ubaid disini). Kitab yang ia tulis terkait topik ini diberi judul yang sama, Gharib al-Hadits. Ia dikenal luas sebagai ahli bahasa. Kitab yang ia tulis saat ini masih dalam bentuk manuskrip dan dapat ditemukan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.

Kitab tersebut disebut-sebut mempengaruhi banyak kitab dalam topik Gharib al-Hadits. Ia juga disebut-sebut mempengaruhi para ahli bahasa sesudah generasinya ketika menyusun kamus bahasa Arab, misalnya Ibn Faris dengan kitab Maqaayis al-Lughah, Abu Manshur al-Azhari dengan kitab Tahdzib al-Lughah, dan Ibn Sayyidah dengan kitab al-Mukhasshish.

Pakar berikutnya yang menulis tentang topik gharib al-hadits adalah Ibn Qutaibah ad-Dinawari (w. 276 H). Namun, disebut-sebut kitabnya hanya berupa penjelasan tambahan atas apa yang sudah dijelaskan Abu ‘Ubaid dalam kitabnya.

Sampai saat ini, kitab tentang gharib al-Hadits yang masih dapat ditemukan tersebar luas hasil cetakannya adalah kitab al-Faaiq fii Ghariib al-Hadits karya az-Zamakhsyari (w. 538 H). Ya, ulama Mu’tazilah ini memang dikenal luas sebagai ahli bahasa. Kitab berikutnya adalah an-Nihayah fi Gharib al-Hadits wa al-Atsar karya Majduddin Mubarak bin Muhammad as-Syaibani, atau lebih dikenal dengan nama Ibn al-Atsir. Kitabnya di bidang gharib al-hadits yang terkenal adalah an-Nihayah fi Gharib al-Hadits. Kitab ini masih tersebar luas dan salah satu rujukan dalam mencari kata yang maknanya sulit dipahami di dalam hadis.  Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here