Mengenal Identitas Para Pembunuh Usman bin Affan

21
34235

BincangSyariah.Com – Peristiwa pembunuhan Usman bin Affan, khalifah ketiga dalam sistem kekhilafahan, merupakan salah satu rentetan sejarah Islam yang kelam. Dampak peristiwa yang disebut ahli sejarah sebagai fitnah ini sangatlah besar bagi generasi selanjutnya. Apalagi di awal-awal pemerintahan Ali bin Abi Thalib, tuntutan untuk segera menjatuhi hukuman atas para pembunuhnya sangatlah kuat.

Namun nama-nama dari para pembunuh itu sendiri masih belum bisa dibuktikan. Baik pihak Ali maupun pihak Talhah – az-Zubair semuanya saling tuduh bahwa salah seorang di antara mereka pastinya menjadi dalang di balik pembunuhan Usman bin Affan jika tidak dikatakan sebagai pembunuhnya.

Bahkan ada sebagian literatur menyebut Ali dan Abi Thalib dan kubunya yang melakukan aksi pembunuhan. Literatur kesejarahan yang menyebut Ali sebagai pembunuhnya dapat kita lihat pada karya ulama Khawarij dari kalangan Ibadhiyyah, yakni kitab al-Kasyfu wa al-Bayan karya Abu Abdillah Muhammad bin Said al-Azdiy al-Qalhatiy yang ditahkik sebagiannya oleh Muhammad bin Abdul Jalil.

Dalam kitabnya ini, al-Qalhati membagi tiga kelompok umat Islam pasca pembunuhan Usman bin Affan seperti yang dapat kita lihat pada kutipan berikut:

فأما الفرقة القاتلة له فعلي بن أبي طالب وأصحابه وأهل المدينة والمهاجرون والأنصار وأما الفرقة الواقفة عنه فسعد بن أبي وقاص وعبد الله بن عمر ومحمد بن مسلمة وأسامة بن زيد وأما الفرقة الطالبة بدمه فطلحة بن عبيد الله والزبير بن العوام ومعاوية بن أبي سفيان فسميت الفرقة الأولى وهي القاتلة أهل الاستقامة والفرقة الواقفة الشكاك والفرقة المطالبة بدمه العثمانية.

Pertama, kelompok pembunuh Usman bin Affan seperti Ali bin Abi Thalib, beberapa sahabatnya, penduduk Madinah dan  Muhajirin dan Anshar; kedua, kelompok yang netral, yakni yang tidak berpandangan mengenai perlunya membunuh Usman atau tidak. Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdullah bin Umar, Muhammad bin Maslamah dan Usamah bin Zaid termasuk kepada kelompok kedua ini; ketiga, kelompok yang menuntut keadilan bagi Usman bin Affan. Mereka ini seperti Thalhah bin Abdillah, az-Zubair bin al-Awam dan Muawiyah bin Abi Sufyan. Kelompok pertama disebut sebagai ahli istiqamah, kelompok kedua disebut sebagai ahli kegamangan dan kelompok ketiga disebut juga sebagai al-Usmaniyyah.”

Muawiyah bin Abi Sufyan seperti yang disitir oleh Ibnu Kathir berpandangan bahwa paling tidak kalaupun bukan pembunuhnya atau bukan dalang intelektual pembunuhannya, Ali bin Abi Thalib tetap bersalah karena telah melindungi para pembunuh Usman.

Sumber dari kalangan Khawarij seperti al-Qalhati ini jelasnya mempertegas bahwa Ali bin Abi Thalib dan para pendukungnya merupakan pembunuh Usman bin Affan. Kendati demikian pandangan demikian ditolak oleh kalangan Sunni dan Syiah. Sunni dan Syiah bahkan berpandangan bahwa justru Ali lah yang berperan membantu melindungi Usman.

Namun terlepas dari sikap saling tuduh ini, ada baiknya kita hadirkan terlebih dahulu data-data kesejarahan yang sekiranya menjustifikasi masing-masing tuduhan tersebut.

Kita mulai dulu dari pihak Ali bin Abi Thalib. Ibnu Taymiyyah al-Harrani – seperti yang dikutip Nurcholish Madjid dalam Islam, Doktrin dan Peradaban – menyebutkan dalam bukunya yang terkenal, Minhaj as-Sunnah fi Naqd Kalam Syiah-Qadariyyah, bahwa para pembunuh Usman bin Affan merupakan salah satu elemen pendukung kekhalifahan Ali abi Thalib. Dalam kitabnya yang secara khusus ditulis untuk membantah Syiah, Ibnu Taymiyyah mempertegas:

Baca Juga :  Sejarah Pengangkatan Khalifah Utsman bin Affan

“Sebagian besar pasukan Ali, begitu pula mereka yang memerangi Ali dan mereka yang bersikap netral dari peperangan itu bukanlah orang-orang yang membunuh Utsman. Sebaliknya, para pembunuh Utsman itu adalah sekelompok kecil dari pasukan Ali, sedangkan umat saat kekhalifahan Utsman itu berjumlah dua ratus ribu orang, dan yang menyetujui pembunuhannya sekitar seribu orang.”

Meski kutipan ini belum saya temukan versi Arab dari kitab aslinya, paling tidak, keterangan dari Ibnu Taymiyyah melalui Cak Nur  ini memberikan sedikit titik terang tentang identitas pembunuh Usman, yakni mereka adalah orang-orang yang bersembunyi di balik pemerintahan Ali bin Abi Thalib.

Dalam Minhaj as-Sunnah ini, Ibnu Taymiyyah menolak pandangan bahwa Ali adalah pembunuh Usman. Kendati demikian, dalam perang Jamal dan Siffin, ada sekelompok dari tentara Ali yang menurut Ibnu Taymiyyah dianggap sebagai para pembunuh Usman bin Affan.

Pertanyaannya, siapakah sebagian tentara Ali yang membunuh Usman? Sejauh penelusuran terhadap beberapa sumber kesejarahan,  penulis belum menemukan identitas pasti pembunuhnya. Yang ditemukan hanya orang-orang yang memandang bahwa pembunuhan atas Usman bin Affan itu perlu dan bahkan wajib.

Namun siapakah yang berpandangan demikian? Di kalangan pendukung Ali, Ammar bin Yasirlah yang berpandangan demikian. Beliau termasuk sahabat Nabi dan sahabat Ali bin Abi Thalib yang sangat terkenal dengan kegigihannya membela kebenaran. Seperti yang disitir dalam Tarikh al-Umam wa al-Muluk karya at-Thabari, Syarh Nahjil Balaghah karya Ibnu Abil Hadid dan al-Kamil fi at-Tarikh karya Ibnu al-Atsir, Ammar bin Yasir disebut sebagai salah seorang yang mendukung para pembunuh Usman bin Affan. Ketika perang Siffin, Amar bersuara lantang menyemangati para tentara dengan mengatakan:

انهضوا يا عباد الله إلى قوم يزعمون أنهم يطلبون بدم ظالم، إنما قتله الصالحون المنكرون للعدوان الآمرون بالإحسان…والله ما أظنهم يطالبون بدم ولكن القوم ذاقوا الدنيا فاستحلوها واستمرؤوها…إن القوم لم يكن لهم سابقة في الإسلام يستحقون بها الطاعة والولاية، فخدعوا أتباعهم بأن قالوا: قتل إمامنا مظلوما ليكونوا بذلك جبابرة ملوكا…

“Wahai para hamba Allah!! Kobarkanlah semangat kalian dalam berperang!! Mari kita perangi kaum yang mengklaim ingin menuntut keadilan atas kematian [Usman] yang dzhalim…Sungguh Usman berhak untuk dibunuh oleh orang-orang saleh [di antara kalian] yang menolak permusuhan dan yang memerintah kepada kebaikan….demi Allah, aku tak percaya mereka berperang demi menuntut darah Usman. Aku tahu bahwa tujuan mereka sebenarnya ialah untuk memperoleh dan menikmati keuntungan materi…sesungguhnya mereka, kaum yang baru masuk Islam [Bani Umayyah] haus akan kekuasaan dan berambisi untuk ditaati. Padahal yang mereka lakukan justru menipu para pengikutnya dengan mengklaim “pemimpin kami dibunuh secara zalim”. Mereka sendiri padahal ingin menjadi penguasa yang zalim dan otoriter.”

Coba kita perhatikan pilihan kata-kata dalam redaksi pidato perang yang disampaikan Ammar bin Yasir di atas. Aktor-aktor sosial yang disebut dalam isi pidato tersebut dapat dikerangkakan menjadi dua; Pertama, pihak pembunuh Usman bin Affan dan kedua, pihak yang menuntut atas kematiannya. Untuk pihak yang pertama, Ammar menyebut mereka sebagai ‘orang-orang saleh’ dengan predikat ‘menolak permusuhan’ dan ‘memerintah kepada kebaikan’ sedangkan untuk pihak kedua, beliau menyebutnya sebagai ‘kaum yang baru masuk Islam’, ‘penguasa yang zalim dan otoriter’ [Bani Umayyah] dengan predikat ‘haus akan kekuasaan,’ dan ingin ‘memperoleh dan menikmati keuntungan materi’.

Baca Juga :  Krisis Qatar; Saatnya Islam Nusantara Go-Overseas

Melalui keterangan ini jelaslah bahwa Ammar bin Yasir sangat pro terhadap para pembunuh Usman bin Affan dan itu artinya anti terhadap Bani Umayyah. Ammar bin Yasir bersama dengan Muhammad bin Abi Bakar dan Muhammad bin Abi Hudzaifah memprovokasi dan menggerakkan penduduk Mesir, Kufah dan Basrah untuk melakukan aksi revolusi dan penggulingan Usman bin Affan. Dalam pelaksanaannya ini, Ammar bin Yasir dibantu oleh beberapa sahabat lainnya. Jadi benarlah bahwa di tengah-tengah tentara Ali bin Abi Thalib ini ada segelintir orang yang merencanakan aksi revolusi.

Jika di pihak Ali bin Abi Thalib kita sudah menemukan paling tidak dalang pembunuhan Usman yang sebenarnya motifnya murni keagamaan, lalu bagaimana dengan pihak Thalhah dan az-Zubair? Untuk menjawab ke arah itu, ada baiknya kita melihat informasi yang dikemukakan at-Tabari dalam Tarikh al-Umam wa al-Muluk berikut:

“Belum lewat setahun dari pemerintahan Usman bin Affan, orang-orang Quraisy [terlebih Thalhah dan az-Zubair] menjadi orang-orang kaya di wilayah-wilayah Islam. Banyak orang-orang di wilayah tersebut yang menjadi pengikut mereka. Dan sampai beberapa tahun [pertama pemerintahan Utsman saat belum muncul kritikan-kritikan terhadapnya], setiap wilayah ini menjagokan salah seorang pembesar dari Quraisy di kalangan mereka….lalu Usman menjadi khalifah dengan cukup lama [sampai rakyat bosan]… ”

Ketika timbul kekecewaan-kekecewaan terhadap pemerintahan Usman bin Affan di kalangan rakyat di wilayah-wilayah Islam, muncullah dukungan dari mereka terhadap az-Zubair dan Thalhah. Dalam Tarikh al-Umam wa al-Muluk, At-Thabari mengemukakan:

“Penduduk Basrah menaruh dukungannnya terhadap Thalhah sedangkan penduduk Kufah menaruh dukungannya terhadap az-Zubair.”

Sumber-sumber kesejarahan menyebutkan bahwa az-Zubair dan Thalhah ini adalah tokoh-tokoh Quraisy yang menjadi penggerak dan provokator langsung bagi aksi-aksi revolusi di Madinah untuk menggulingkan kekuasaan Usman bin Affan. Mereka inilah yang menuliskan surat atas nama sahabat Nabi yang isinya mengajak ‘para mujahidin’ di wilayah-wilayah Islam untuk datang ke Madinah. Dalam al-Imamah wa as-Siyasah, Ibnu Qutaibah menyebutkan kandungan surat tersebut sebagai berikut:

….من المهاجرين الأولين وبقية الشورى إلى من بمصر من الحابة والتابعين وبعد، فإن كتاب الله قد بدل وسنة رسوله قد غيرت وأحكام الخليفة قد بدلت. فننشد الله من قرأ كتابنا من بقية أصحاب رسول الله والتابعين بإحسان إلا أقبل علينا وأخذ الحق لنا وأعطانا، فأقبلوا إلينا…غلبنا على حقنا واستولي على فئنا وحيل بيننا وبين أمرنا….

“…dari kaum Muhajirin yang terdahulu masuk Islam dan dari majelis syura lainnya kepada para sahabat dan para Tabi’in di wilayah-wilayah Islam..wa ba’du, sesungguhnya kitab Allah telah diselewengkan, sunnah Rasulnya telah diganti dan kebijakan-kebijakan khalifah telah banyak mengalami perubahan. Karena itu, kami mengajak kepada para sahabat-sahabat Nabi SAW dan para Tabi’in untuk menerima ajakan kami dalam merebut kembali hak kita [dari khalifah Usman]…terimalah ajakan kami untuk mengambil kembali hak-hak kita [yang telah direbut] dan bagian harta kita telah disalahgunakan…”

Baca Juga :  Aban Putra bin Usman bin Affan: Seorang Ulama, Sejarawan, dan Pejabat  

Al-Asytar an-Nakha’i, salah satu pimpinan revolusioner di Kufah, membawa surat ini dan mengkonfirmasikan kepada Thalhah di hadapan banyak orang. Thalhah saat itu tidak menyangkal bahwa surat tersebut berasal darinya. Selain itu, Thalhah juga tidak tanggung-tanggung memprovokasi para revolusioner di Madinah untuk menggulingkan Usman bin Affan. At-Tabari dalam Tarikh al-Umam wa al-Muluk mengemukakan bahwa Thalhah tidak malu-malu:

يحرض الفريقين جميعا على عثمان. ثم إن طلحة قال لهم: إن عثمان لا يبالي بما حصرتموه، وهو يدخل إليه الطعام والشراب، فامنعوه من الماء أن يدخل عليه…

“Memprovokasi semua penduduk Kufah dan Basrah [untuk menggulingkan Usman bin Affan]. Kemudian Thalhah mengatakan: ‘Sesungguhnya Usman tidak peduli kalian mengepung rumahnya karena ia masih bisa makan dan minum. Karena itu, cegahlah dia supaya tidak dapat mengakses air.’”

Usman kemudian memanggil Thalhah dan mengeluhkan perbuatannya. Yang terakhir ini hanya menjawab: “Itulah akibat perbuatanmu yang menyelewengkan kitab Allah, sunnah Rasul dan hukum khalifah (sebelummu)”.

Usman bin Affan dalam Tarikh al-Umam wa al-Muluk  ketika menghadapi kenyataan demikian hanya berdoa kepada Allah:

اللهم اكفني طلحة بن عبيد الله، فإنه حمل إلي هؤلاء وألبهم.

 “Ya Allah lindungilah aku dari Thalhah bin Ubaidullah. Dialah yang memprovokasi mereka [para revolusioner] ke sini.”

Berangkat dari  beberapa literatur kesejarahan ini kita dapat memahami bahwa az-Zubair bin al-Awam dan Thalhah bin Abdullah merupakan sahabat yang memprovokasi orang-orang untuk memberontak kepada Usman bin Affan.

Namun apakah mereka menjadi dalang dari aksi pembunuhan terhadap Usman bin Affan? Tidak ada literatur yang langsung mengarahkan mereka sebagai dalangnya. Namun dalam perdebatan dengan Ali bin Abi Thalib seperti yang disebutkan al-Bidayah wa an-Nihayah kara Ibnu Kathir, para pembunuh Usman berasal dari budak-budak milik az-Zubair dan Thalhah yang sebenarnya masuk menjadi tentara Ali saat Perang Siffin.

Simpulnya, para aktor pembunuhan masih misterius dan masih menimbulkan tanda tanya. Namun dalang intelektual untuk aksi revolusi yang berambisi menurunkan Usman bin Affan dari jabatannya sudah dapat kita ketahui bersama: Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Abdillah dan az-Zubair bin al-Awam. Ketiganya merupakan simbol bagi para revolusioner di Madinah dengan motif yang berlainan; Ali bermotifkan agama, sedangkan Thalhah dan az-Zubair bermotifkan politik. Revolusi ini pada tahap selanjutnya telah memakan banyak korban, yang salah satunya ialah khalifah ketiga sendiri yang dampaknya begitu besar bagi sejarah Islam ke depannya.

Demikianlah literatur kesejarahan menceritakan kepada kita tentang fitnah ini. Penulis sendiri masih kurang yakin dengan kebenaran informasi kitab-kitab sejarah ini. Kandungan informasinya  seolah menjatuhkan derajat para sahabat tersebut. Kita mungkin bertanya-tanya mana mungkin sahabat yang merupakan generasi terbaik hasil didikan Nabi saling membunuh dan berperang? Untuk generasi kita yang tidak tahu menahu peristiwanya seperti apa, lebih baik berhusnu zhan saja.

21 KOMENTAR

  1. Menuduh 3 sahabat mulia, ammar bin yasir, thalhah dan azzubair adalah bentuk provokasi agar membenci ketiga sahabat nabi itu,
    Tulisan anda sangat tidak layak untuk di baca, padahal pembunuhnya adalah dari provokasi orang yahudi yang mengaku islam kepada penduduk mesir,, seakan akan tulisan anda membela orang yahudi dan menyalahkan orang islam. Sungguh musuh dalam selimut lebih menakutkan daripada musuh secara terang terangan.

  2. Tulisan ini terlalu provokatif untuk menuduh para sahabat membunuh Usman Bin Affan. Para sahabat sangat menyayangi sesamanya.

  3. tulisan ini tidak layak utk dibaca, tidak berdasar dari buku-buku siroh ditulis ulama-ulama besar, semoga diberikan hidayah dan taufiq kepada penulis

  4. tulisan ini tidak layak utk dibaca, tidak berdasar dari buku-buku siroh ditulis ulama-ulama besar, semoga diberikan hidayah dan taufiq kepada penulis

  5. Setiap kutipan kitab, mohon ditulis no halaman dan cetakannya sehingga bisa dicek dan dibandingkan dgn referensi kain. Karena di zaman Akhir ini banyak perubahan (tahrif) dan adu domba… Apalagi ini menyangkut sahabat2 Rasulullah, Ali bin Abi Thalib, Thalhah, Zubair, Ammar dll… Yang sudah dipuji oleh Allah dgn ayat “Assabiquunal awwaluun….. “

  6. Cukup bagus sebagai bahan masukan, sy tidak menolak atau menerima nya mentah mentah, sejarah itu milik para pemenang dan di sensor oleh para penguasa demi kepentingan kekuasaannya, yg pasti benar hanya al-Quran, agama tanpa pemikiran sama dengan fanatisme kebodohan yaitu mereka yg hanya mengkomsumsi literatur agama secara tekstual (islam protestan) tanpa mengedepankan maqosid al-syar’i nya, miris melihat umat islam yang makin hari makin tertutup dari nilai nilai substantif nya

  7. Ditulis oleh Ibnu Katsir dalam kitab bidayah wal Nihayah juz 7 ….yang mengeksekusi mati Utsman di kediamannya diantaranya adalah Muhamad bin abu bakar as Shiddiq….putra kandung abu bakar as Siddiq dan anak angkat Ali bin Abi Thalib…

  8. Muhammad bin Abu Bakar memang pernah masuk merangsek ke dalam rumah Utsman pada saat pengepungan, tetapi Utsman mengingatkan ia tentang ayahnya atau Kitabullah hingga ia menyesal dan hendak menghalau para pengepung rumah Utsman, namun karena massa yang banyak tidak terbendung akhirnya mereka lah yang membunuh Utsman, bukan Ibnu Abu Bakar.

  9. Aneh. Bukankah sahabat nabi Zubair dan thalhah itu yang membela agar si pembunuh usman diadili bersama umayyah? Mereka ikut kubu yang menginginkan itu pembunuh diadili dan gugur disaat kekacauan itu pula. Dan lucunya, dari sumber diatas, yang menyatakan ali adalah pembunuhnya itu berasal dari khawarij. Padahal, khawarij itu adalah sekte radikal yang juga pembenci sekaligus pembunuh ali sehingga sumber dari mereka itu tidaklah bisa dijadikan contoh.

  10. […] BincangSyariah.Com – Siapa yang tidak pernah mendengar nama Usman bin Affan? Beliau adalah khalifah ketiga dari empat khulafaurrasyidin pasca Nabi Muhammad SAW wafat. Kedermawanan dan kepemimpinannya bagi umat Islam pada masa awal berkontribusi besar bagi perkembangan Islam. Namun pernahkah pembaca mendengar nama Aban? Jika belum tulisan ini akan mengulas tentang Aban, putra dari Usman bin Affan. (Mengenal Identitas Para Pembunuh Usman bin Affan) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here