Mengenal Hasbi Ash Shiddiqiey: Penggagas Fiqh Mazhab Indonesia

0
1949

BincangSyariah.Com – Hasbi Ash-Shiddiqiey adalah sosok Cendekiawan Muslim yang dilahirkan di Lhokseumawe, Aceh Utara pada tanggal 10 Maret 1904. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang religius dan terpandang. Ayahnya adalah Teuku Kadi Sri Maharaja Mangkubumi Husein bin Mas’ud, seorang ulama yang memiliki lembaga pendidikan. Sedangkan Ibunya, Siti Amrah, merupakan puteri Teungku Abdul Aziz, pejabat qadhi Chik Maharaja Mangkubumi, seorang ulama kharismatik yang terkemuka.

Meski tumbuh di lingkungan Pesantren, pengalaman berada di lingkungan reformis menjadikan Hasbi Ash Shiddiqiey tidak ingin terkungkung oleh pemikiran fiqih yang jumud. Perjumpaannya dengan syekh al-Kalali, seorang ‘ulama’ asal Sudan yang mengenalkannya pada pemikiran Ibn Taymiyyah, Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh. Pasca belajar dengan al-Kalali, Hasbi meneruskan pengembaraan ilmunya di Madrasah al-Irsyad, sekolah di bawah organisasi al-Irsyad pimpinan Ahmad Surkati salah seorang pelopor pembaharuan Islam di Indonesia.

Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddiqiey adalah sosok akademis sekaligus ulama yang dikenal dengan gagasan fiqh Indonesia. Konsep tentang Fiqh Indonesia diperkenalkannya pada tahun 1940 ketika Hasbi menulis artikel bertajuk “memoedahkan pengertian Islam”. Dalam artikel tersebut ia menguraikan bahwa pengambilan ketetapan fiqh perlu mempertimbangkan kebutuhan dan kesesuaian dengan realitas sosial yang ada.

Di tahun 1960, Hasbi kemudian dinobatkan sebagai Guru Besar IAIN Sunan Kalijaga dan berkiprah untuk memajukan pengembangan studi Islam. Dari 73 judul buku yang dihasilkan, 36 di antaranya mengulas tentang permasalhan fiqh. Dalam pelbagai bukunya tersebut, Hasbi selalu menegaskan pentingnya memasukkan elemen perubahan sosial sebagai salah satu pertimbangan untuk merumuskan hukum Islam. Ia menolak sikap yang dogmatis dan pengkultusan terhadap fiqh.

Hasbi amat menentang pemikiran yang pemikiran yang menganggap bahwa fiqih ulama terdahulu bersifat universal, yang bisa diterapkan untuk setiap masa dan tempat. Bagi Hasbi, hukum Islam harus selalu berubah seiring dengan berubahnya zaman dan tempat. Menurutnya, situasi dan kondisi di Indonesia amat berbeda dengan Timur Tengah, tempat umumnya ulama terdahulu merumuskan kitab-kitab fiqh.

Dalam merumuskan hukum Islam, Hasbi tetap berpegang teguh pada metode yang sudah mapan di kalangan fuqaha seperti qiyas, mashalih mursalah, ‘urf dan ijma’. Melalui cara kerja seperti itu, kesimpulan yang dihasilkan Hasbi dapat berbeda dengan fuqaha terdahulu. Misalnya saja terkait dengan zakat, menurut Hasbi di zaman modern tidak ada harta yang lepas dari kewajiban zakat setelah syarat nisab dan haul terpenuhi. Sehingga sayur sayuran dan buah-buahan, yang oleh fuqaha tidak termasuk harta wajib zakat, oleh Hasbi dikatakan sebagai bagian dari wajib zakat. Hal ini dikarenakan semua jenis sayur dan buah dapat disimpan lama berkat alat modern.

Sebagai seorang reformis, Hasbi seringkali menegaskan bahwa Ia tidak terikat pada suatu Mazhab atau mengikuti Imam tertentu. Hal ini menyebabkan beragam pendapatnya dapat ditemukan rujukannya terdapat dalam Mazhab Sy’i dan Dzahiri.

Pengaruh Hasbi yang dapat dirasakan hingga saat ini adalah gagasannya untuk mendirikan jurusan perbandingan mazhab di lingkungan Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga dan IAIN Syarif Hidayatullah (Kini UIN) di tahun 1988. Menurut Hasbi, perbandingan mazhab adalah keniscayaan agar umat Islam Indonesia terlepas dari fanatisme mazhab.

Hasbi Ash-Shiddiqiey meninggal di usianya yang ke-71 pada hari Senin, 9 Desember 1975 di Rumah Sakit Islam Jakarta. Ia dimakamkan di komplek perumahan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada saat pelepasan jenazah, Buya Hamka turut hadir memberikan sambutan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here