Mengenal Entitas Hati dan Tingkatannya Menurut al-Hakim al-Tirmizi

0
408

BincangSyariah.Com – Menarik untuk diperhatikan betapa pembahasan tentang hati menempati posisi penting dalam Islam. Karena itu sering kita lihat betapa pergulatan yang dilakukan oleh seorang sufi adalah melulu tentang penyucian hati yang dilakukan melalui praktik-praktik ibadah dan mujahadah.

Lalu bagaimana dengan kita? Karena kita bukan sufi (maaf jika ada sufi yang sedang membaca artikel ini hehe), tentu akan lebih asik jika membicarakan ‘hati’ di luar term sufi.  Semisal, apakah hati hanya berhubungan dengan cinta seperti dalam drama korea? Atau jika kembali dimasukkan dalam term sufi lagi, di mana posisi entitas hati kita? Katakanlah hati orang-orang awam seperti saya.

Kita, atau katakan saja saya, juga seringkali bersandar pada hati dalam banyak keragu-raguan. Keyakinan hati bisa dijadikan landasan suatu pembenaran, bahkan dalam ibadah sekalipun. Sebab, keyakinan itu tidak bisa dihilangkan dengan keraguan, begitulah kaidah umum usul fiqh yang saya ketahui.

Di lain masalah, Nabi Saw. juga mengajarkan kita bagaimana menggunakan hati untuk mengukur barometer kebajikan dan dosa. Simpelnya, kata Nabi Saw. saat Wabishah bin ma’bad ra. bertanya tentang kebajikan, “Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan adalah apa saja yang menenangkan hati dan jiwamu. Sedangkan dosa adalah apa yang menyebabkan hati bimbang dan cemas meski banyak orang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kebaikan.” (HR. Ahmad )

Karena menariknya pembahasan tentang ‘hati’ ini, al-Hakim al-Tirmidzi menerangkannya secara gamblang dalam kitab Bayan al-Farq baina al-sadr wa al-Qalb wa al-Fu’ad wa al-Lubb.

Yang unik, berbeda dengan sufi lain dalam membahas ‘persoalan’ hati, sufi yang hidup pada abad ke-3 H/ 9 M ini memetakan hati ke dalam tingkatan-tingkatan batin yang diistilahkannya sebagai “Maqamat al-Qalb”.

Baca Juga :  Meneladani Sifat Nabi untuk Perbaiki Moral Bangsa

Baginya, hati merupakan entitas yang memiliki tingkatan-tingkatan batin, yaitu dada (sadr), hati (qalb), hati kecil (fu’ad), dan hati nurani (lubb).

Jadi menurutnya,setiap tingkatan tersebut terkait dengan tingkatan pengetahuan, keilmuan, spiritiual, dan jiwa manusia. Mudahnya, tingkatan-tingkatan hati tersebut mempunyai fungsi masing-masing yang berbeda namun tidak bertentangan, tetapi saling menguatkan.

Jika dianalogikan seperti kumpulan lingkaran maka lingkar pertama adalah dada (sadr). Di mana sadr merupakan tempat kelapangan dan kesempitan. Bagi al-Hakim, sadr terkait dengan cahaya Islam yang terlahir darinya ketakutan dan harapan untuk husnul khatimah.

Lingkaran kedua adalah hati (qalb). Menurut al-Hakim hati merupakan tempat terlahirnya keyakinan, ilmu, dan niat yang berada di dalam sadr. Karenanya ia menyebut qalb sebagai akar dan sadr sebagai ranting, di mana ranting akan menjadi kuat apabila akarnya kuat.

Dengan demikian al-Hakim menyimpulkan bahwa qalb adalah tempat bersemayamnya cahaya iman yang di dalamnya terletak rasa khusyuk, takwa, cinta, rida, yakin, takut, harap, sabar, kecukupan, niat, dan lain sebagainya.

Lingkaran ketiga adalah hati kecil (fu’ad). Jika Rasulullah Saw. menjelaskan bahwa kedudukan seorang mukmin sesuai dengan kadar tingkatan ihsannya, dan ihsan terkait dengan penglihatan batinnya (HR.Muslim). Penglihatan tersebut, jelas al-Hakim, terletak di dalam fu’ad.

Dikatakan dalam kitabnya, apabila fu’ad belum melihat, maka qalb tidak akan dapat melihat manfaat dari apa yang diketahuinya. Lalu al-Hakim mengilustrasikannya seperti orang buta yang berilmu.

Al-hakim menyimpulkan bahwa Fu’ad berkaitan dengan cahaya ma’rifat, yang terlahir darinya ketakutan akan jalan kejelekan dan harapan akan jalan kebaikan. Cahaya ini muncul dengan pengetahuan qalb dan penglihatan fu’ad yang dengannya seorang hamba dapat menyaksikan Allah dan menjadi arif tentang-Nya.

Baca Juga :  Tanda-tanda Mata Hati yang Tertutup

Lingkaran keempat adalah hati nurani (lubb). Lubb adalah sesuatu yang berada di dalam fu’ad. Ia ibarat retina mata, atau seperti cahaya lampu, atau seperti sari pati buah. Maka Lubb bagi al-Hakim terkait dengan cahaya tauhid, yang terlahir darinya ketakutan dan harapan.

Cahaya tauhid tersebut tidak akan didapat kecuali dengan ibadah dan mujahadah. Mujahadah seorang hamba tidak akan tercapai kecuali dengan persetujuan Allah, dengan sikap dan pandangan yang baik terhadap apa yang sudah ditakdirkan Allah kepadanya, dan segala hal yang terjadi padanya. Sehingga pada akhirnya membuka jalan kemudahan baginya untuk berbuat baik.

Dengan demikian, sebagaimana penjelasan al-Hakim, lubb merupakan inti dari segala hati yang terkait dengannya cahaya tauhid, di mana cahaya-cahaya seperti Islam, iman, dan makrifat tidak sempurna kecuali dengannya.

Terakhir, sudah bisakah kita memprediksi di mana letak entitas ‘hati’ kita? Semoga kita bisa menjadi jiwa-jiwa yang selalu memperbaiki kualitas ‘hati’. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.