Mengenal Buya Syakur Yasin: Kyai Berwawasan Luas asal Indramayu

3
4771

BincangSyariah.Com – K.H. Abdul Syakur Yasin, MA. atau biasa disapa dengan Buya Syakur Yasin, berceramah dengan logat bahasa pantura yang khas. Beliau menjelaskan aneka persoalan yang sebenarnya cukup rumit, tapi dicoba dijelaskan dengan perlahan namun fokus. Dalam amatan penulis, sementara penulis melihat beliau seringkali tidak segera menyandarkan pandangannya ke ayat-ayat Al-Qur’an, Hadis, atau menyebut pendapat-pendapat mazhab fikih. Ini bukan berarti beliau tidak pernah mengutip sama sekali. Namun, ada banyak yang dijelaskan beliau dari sudut pandang hikmah dan nalar berfikir.

Misalnya, salah satu ceramah yang baru-baru ini saya dengar adalah respon beliau ketika menjelaskan video dengan judul “Mengapa Khawatir dengan Masa Depan Anak”. Video tersebut memulai dengan pertanyaan seorang ibu yang menangis tersedu-sedu menjelaskan tentang sikap anaknya.

Kemudian, Buya Syakur Yasin menjawabnya – dan ini menurut saya sisi menariknya – adalah lewat menjelaskan apa sebenarnya hakikat relasi orangtua dengan keturunannya? Simpul beliau, supaya kita ada perasaan tidak ikhlas bahkan marah kepada keturunan kita sendiri karena boleh jadi tidak sesuai sama sekali dengan yang kita inginkan, maka kita mulai dengan kesadaran bahwa anak hanyalah titipan Allah. Karena kita diberikan titipan, kita kemudian dianugerahi lagi rasa “kasih sayang”, pungkas beliau sehingga begitu mencintai anak. Maka bisa dipahami dengan wajar jika orangtua ada perasaan kecewa jika anak tidak sesuai dengan yang diharapkannya. Tapi, – terang beliau – itu semua bisa dikikis dengan menyadari bahwa anak adalah bagian dari makhluk yang dititipkan pada kita, dan bukan menjadi milik. Di sela-sela penjelasan beliau, meski tetap serius ia bisa tetap jelaskan dengan gurauan segar, “suami istri tadinya hanya mencari kenikmatan seksual bukan, tidak ada yang niat ‘membuat anak’.” Kenikmatannya itu kemudian diiringi dengan anak yang dititipkan pada kita. Kenikmatan itu bahkan menyebabkan seorang Ibu sebenarnya tidak menjadi kapok memiliki anak dengan alasan sakit melahirkan, karena begitu besarnya nilai kenikmatan pernikahan itu.

Baca Juga :  Ini Alasan Michael Hart Jadikan Nabi Muhammad 100 Tokoh Berpengaruh Nomor Wahid Dunia

Mengenal Buya Syakur Yasin

Lewat akun youtube KH Buya Syakur Yasin MA. dan label Wamimma TV, ceramah-ceramah beliau diunggah. Banyak tema-tema yang diunggah sebenarnya bertema cukup berat. Jika kita lihat di dalam playlist, ceramah-ceramah beliau banyak yang berbasis kitab kontemporer atau tasawuf, sebut saja misalnya fi Zhilali al-Qur’an, La Tahzan karya ‘Aidh al-Qarni, sampai al-Hikam Ibn ‘Athaillah as-Sakandari. Lalu siapa sebenarnya Buya Syakur Yasin ini?

Seperti disebutkan beliau, Gus Dur pernah mengatakan kalau di Indonesia cuma ada tiga orang yang berpikir analitis dalam memahami Islam, Quraish Shihab, Pak Syakur, Cak Nur.

Beliau dikenal sebagai teman Gus Dur sejak lama, namun tidak terkenal luas seperti nama-nama besar Cak Nur dan Quraish Shihab. Selain karena Buya Syukur baru kembali ke tanah air di awal tahun 90-an, Buya Syakur lebih banyak mengajar di kalangan masyarakat bawah khususnya di Indramayu dan Cirebon. Belakangan ini respon positif khususnya dari komentar netizen semakin banyak setelah ceramah-ceramah beliau diunggah secara teratur di akun youtube.

Sejak muda beliau sudah rajin menerjemahkan kitab-kitab berbahasa Arab mulai dekade akhir tahun 60-an. Kemudian, beliau mulai tinggal di negara-negara Eropa mulai tahun 1971 hingga tahun 1991.

Pendidikan akademiknya selama belajar di Timur Tengah dan Eropa sebenarnya bukan fikih. Pendidikan sarjananya adalah di bidang Kritik Sastra Objektif dengan objek penelitian novel-novel Yusuf as-Siba’i. Sementara tingkat strata 2 beliau belajar bidang Linguistik. Di tingkat doktoral, menurut beliau sebenarnya sudah lulus hanya saja cuma diucapkan secara lisan oleh pembimbingnya namun tidak pernah ada pernyataan resmi dari kampus. Ini dikarenakan dosen pembimbingnya sudah sulit ditemui karena dosennya diangkat menjadi Menteri Riset. Di tingkat doktoral itu, beliau ambil di London dengan konsentrasi dialog teater. Bidang itu sebenarnya yang beliau tekuni selama hampir dua puluh tahun di Eropa. Sampai tulisan ini selesai dibuat, kami tidak mendapatkan informasi nama universitas tempat beliau belajar. Namun, besar kemungkinan beliau pernah belajar di Universitas Al-Azhar atau Universitas Baghdad karena beliau mengenal dekat Gus Dur dan Quraish Shihab sejak di tingkat kuliah.

Baca Juga :  Nabi Melaksanakan Shalat Hingga Kakinya Bengkak

Setelah kembali ke Indonesia, beliau membaktikan diri berdakwah di kampung halamannya, Indramayu. Beliau kini memiliki pesantren bernama Pondok Pesantren Cadangpinggan. Dalam video “Mengenal Buya Syakur Lebih Dekat”, beliau berseloroh “Jadi bidang saya memang itu (sastra). Tapi saya disini lebih dikenal sebagai kyai, karena masyarakat selalu bertanya “hukumnya apa”. Jadi yang menjadikan saya kyai ya kamu juga”

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here