Mengenal Ayang Utriza Yakin; Intelektual Muslim Indonesia Jebolan Prancis (Bag 1)

1
2130

BincangSyariah.Com – Dilihat dari pencapaian akademik, sosok Riza, salah satu panggilan akrab Ayang Utriza Yakin, DEA, Ph.D., mewakili sosok yang dinanti oleh para pembaharu pemikiran modern dalam Islam Indonesia. Para pendahulu pemikiran pembaharuan keagamaan Islam Indonesia seperti Harun Nasution, Nurcholish Madjid, Munawar Syadzali dll., membayangkan perlunya penguasaan metodologi kajian, di samping penguasaan khasanah Islam dalam melakukan reinterpretasi dan pembacaan baru.

Tiga pemikir tersebut menguasai khazanah Islam secara memadai dan mencapai pendidikan tertinggi dari lembaga pendidikan yang memiliki tradisi akademik yang kuat yaitu di Barat. Lebih dari itu, Harun Nasution juga terdidik dalam tradisi kajian Islam di Mesir untuk tingkat pascasarjana. Ketiganya mencatat warisan pemikiran keagamaan yang penting. (Baca: Sejarah Hukum Islam Nusantara Abad XIV-XIX)

Harun Nasution dikenal sebagai pelopor pembaharuan pemikiran keagamaan Islam dan pembaharu lembaga pendidikan tinggi Islam Indonesia dengan pendekatan sejarahnya, Nurcholish Madjid diakui sebagai penggerak gerbang lokomotif pembaharuan pemikiran Islam, Munawair Syadjali dikenal dengan penafsiran ulang masalah waris, Islam, dan tata negara serta program peningkatan kemampuan dosen Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).

Mereka dan pemikir lain yang sepaham meyakini pentingnya belajar “alat” kajian ke lembaga Pendidikan tinggi di Barat. Tahun 1980-an adalah kembalinya figur-figur awal yang memiliki mimpi adanya pemikir Indonesia yang mumpuni dapat berbicara di kancah global. Tahun 1990-an para pendahulu merancang dan menerapkan program-program peningkatan kemampuan dan perluasan jaringan untuk mengejar mimpi tersebut.

Tahun 2000-an adalah periode lanjutan dari rintisan awal yang dimulai tahun 1990-an, dan tahun 2010-an adalah periode investasi sumber daya manusia di mana negara mulai menganggap serius dengan membiayai program peningkatan sumber daya manusia melalui program beasiswa unggulan, seperti LPDP (untuk sarjana muda Indonesia secara umum) dan 5000 Doktor (program beasiswa untuk dosen PTKI di lingkungan Kemenag RI).

Baca Juga :  Ketika Nabi Muhammad Dicurhati Persoalan KDRT

Secara eksternal, banyak negara di Barat yang memanfaatkan potensi negerinya dalam bidang pendidikan sebagai media diplomasi negara dalam memperjuangkan kepentingannya. Salah satu pertimbangan yang menjadi kebijakan mereka adalah menjawab keniscayaan memadainya kemampuan sumber daya manusia negara-negara yang menjadi mitra mereka.

Tidak dapat dipungkiri bahwa status negara Indonesia termasuk negara berkembang. Secara obyektif negara berkembang memerlukan sumber daya manusia handal untuk menopang program pembangunan bangsa ini.

Dalam konteks lembaga pendidikan tinggi Islam, banyak IAIN/STAIN kekurangan dosen, sehingga program peningkatan kemampuan sumber daya manusia menjadi keniscayaan sejarah yang tak terelakkan. Sejak 2002 terjadi peralihan status kelembagaan dari IAIN ke UIN (Universitas Islan Negeri). Perluasan tersebut berdampak pada keperluaan rekrutmen dosen kembali, khususnya untuk UIN, berkat dibukanya fakultas dan program studi umum.

Riza adalah generasi yang terdidik oleh PTKIN yang telah didukung oleh paradigma kelembagaan yang lebih baik dan diajar oleh mereka yang mengenyam pendidikan lanjutan di negara-negara Barat, selain di negara-negara Islam seperti Mesir. Yang menarik dia mempunyai dua pengalaman belajar di dua pusat kajian Islam: Barat dan Timur, walaupun dia mengalaminya di Timur tidak sekuat dan selama di Barat.

Yang menarik dia berhasil belajar di pusat kajian (Islam) penting yang tidak banyak mahasiswa Indonesia bisa belajar, yaitu Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales (EHESS), Paris, Prancis. Prancis adalah salah satu pusat kajian keilmuan penting, tempat di mana paham pemikiran strukturalis, dan post-strukturalis lahir.

Prancis berkontribusi penting dalam perkembangan hermeneutika, semiotika, sosiologi, sejarah, dan antropologi. Siapa yang tidak kenal Paul Ricouer, Julia Kristeva, Pierre Bourdieu, Claude Levi-Strauss, Michel Foucault, Montesquieu, Roland Barthes, dan lainnya. Lalu ada Marc Bloch, Lucien Febvre, Fernand Braudel, Denys Lombard, dan lainnya, yang merupakan sejarawahan Prancis terkemuka. Prancis terkenal dengan Mazhab Annales-nya.

Baca Juga :  Kenapa Tradisi Kesukuan di Arab Sangat Kental?

Berhasilnya Riza dari godokan kawah candradimuka tradisi keilmuan Prancis menambah karakter kajian Islam di tanah air. Misalnya, dalam tulisan-tulisannya, dia banyak merambah sumber-sumber penting yang selama ini kurang dirujuk oleh sarjana kajian Islam Indonesia.

Kebanyakan mahasiswa pascasarjana Indonesia meneruskan studi lanjut keislamannya di universitas-universitas di Amerika Utara: Amerika Serikat dan Kanada, dan di Eropa seperti Jerman, Inggris, dan Belanda. Selain itu, Riza pun berkesempatan menjadi research fellow di pusat-pusat studi ternama: Pusat Kajian Islam di Universitas Oxford, Inggris (Musim Semi, 2012), Pusat Kajian Hukum Islam, di Universitas Harvard, Amerika Serikat (Musim Semi, 2013), dan saat ini menjadi peneliti postdoktoral di Universitas Katolik Louvain, Belgia (Desember 2016-Agustus 2019).

Di Asia pun dia berkesempatan menjadi ALFP fellow yang diselenggarakan oleh Asia Foundation dan International House of Japan di Tokyo, Jepang, pada 2016. Semua pengalaman tersebut menjadi fenomena baru yang memperlihatkan kecenderungan yang meningkat. Ini berarti ada gerakan global dari sarjana keagamaan Muslim Indonesia. Riza dan lainnya yang memiliki kesempatan yang serupa dengan jumlah yang semakin bertambah merupakan kelompok yang memberikan sumbangsih pada perkembangan baru tersebut.

Tulisan ini merupakan tulisan berseri berjudul asli Agensi dan Diskursus Pemikiran Keagamaan di Indonesia: Memahami “Ayang Utriza Yakin” Melalui Bukunya “Islam Moderat dan Isu-Isu Kontemporer”. Judul tulisan diubah menyesuaikan standardisasi yang berlaku di media daring Bincang Syariah. Untuk menyimak tulisan berikutnya, baca Mengenal Ayang Utriza dan Buku Islam Moderat dan Isu-isu Kontemporer.

1 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Dilihat dari perjalanannya, sosok Riza adalah pribadi yang masih percaya dengan tradisi negerinya, dan berusaha menunjukkan relevansi kekuatan tradisi tersebut dengan modernitas dengan cara menunjukkan kecocokkan kedua kekuatan tersebut. Nilai dan sikap mental seperti ini merupakan salah satu fenomena yang cukup umum di negeri ini. Hanya saja keumuman fenomena tersebut menjadi bernuansa lain di tangannya karena dia memiliki kemampuan lain yang karakternya cukup berbeda dengan sifat alamiah (nature) dari budaya asli (cultural indigenous)-nya, yaitu penyerapan nilai-nilai modernitas melalui perkuliahan (by training), khususnya nilai modernitas di Prancis. (Baca: Mengenal Ayang Utriza Yakin; Intelektual Muslim Indonesia Jebolan Prancis) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here