Mengenal Al-Wahidi, Ulama yang Menulis Tiga Judul Kitab Tafsir

0
1656

BincangSyariah.Com – Menulis sebuah kitab tafsir Al-Qur’an sampai tuntas adalah pencapaian yang prestisius bagi seorang ulama. Dari berbagai nama besar ulama dalam sejarah agama Islam, tidak semuanya meraih capaian tersebut. Bahkan ada beberapa ulama yang menulis lebih dari satu judul tafsir, tentu ini merupakan prestasi yang lebih hebat lagi. Di antara nama yang sampai pada kriteria tersebut adalah Al-Wahidi, seorang ulama yang hidup pada abad kelima Hijriah.

Nama lengkap beliau sebagaimana dicatat oleh Al-Hafizh Ad-Dawudi dalam Thabaqatul Mufassirin (1/394)  adalah Ali Ibn Ahmad Ibn Muhammad Ibn Ali Al-Wahidi An-Naisaburi. Tidak ada catatan tentang tahun kelahiran beliau, namun Menurut Az-Zahabi dalam Siyarul A’lam An-Nubala’ (18/340), beliau wafat pada tahun 468 H. Al-Wahidi adalah seorang ulama bermazhab Syafi’i, nama beliau disebutkan oleh As-Subki dalam Thabaqat Syafi’iyah (5/240). (Baca: Kitab Tafsir: Tafsir Al-Munir, Warisan Karya Tafsir Syekh Wahbah Az-Zuhaili)

Menurut Ibn Khulqan dalam Wafayatul A’yan (2/464), gelar atau nisbat Al-Wahidi adalah sesuatu yang unik dan beliau tidak pernah mengenal ada ulama yang juga dinisbatkan pada gelar seperti ini. Ada kemungkinan beliau digelari dengan sebutan ini untuk menunjukkan bahwa beliau dianggap satu-satunya orang dengan tingkat penguasaan dan pemahaman Al-Qur’an yang demikian tinggi pada masanya.

Dalam banyak catatan tentang biografi Al-Wahidi, disebutkan bahwa beliau pernah berguru pada Al-Tsa’labi yang juga seorang ulama yang memiliki kitab Tafsir.  Adapun dalam ilmu bahasa, Al-Wahidi berguru kepada beberapa ulama seperti Abu Hasan Al-Quhunduzi dan Ahmad Al-‘Arudhi, murid dari salah seorang ulama besar bahasa yaitu Abu Manshur Al-Azhari. Selain ilmu Tafsir, Al-Wahidi juga menonjol dalam ilmu bahasa. Nama beliau dicatat oleh Ibn Qadhi Syuhbah dalam Thabaqatun Nuhat  (2/135).

Baca Juga :  Mengenal Syekh Salim Bin Sumair, Pengarang Kitab "Safinah"

Al-Wahidi menulis tiga kitab Tafsir berbeda. Ketiganya memiliki gaya dan metode pemaparan yang tidak jauh berbeda, akan tetapi beliau sengaja membaginya menjadi tiga level berbeda dari sisi keluasan penjelasannya. Oleh  sebab itu, beliau memberikan judul tiga kitab tersebut masing-masing Al-Wajiz, Al-Wasith dan Al-Basith, secara harfiah tiga judul ini dapat diterjemahkan menjadi “singkat,pertengahan dan luas”.

Penuyusunan tiga level kitab tafsir ini kemudian juga menginspirasi Imam Al-Ghazali yang juga menyusun tiga judul kitab fikih Syafi’i yang beliau tulis menjadi tiga level keluasan penjelasan dan judul yang serupa.

Diantara tiga kitab tersebut, tafsir Al-Wasith atau pertengahan nampaknya merupakan tafsir yang ditulis paling belakangan, sedangkan tafsir Al-Basith yang paling luas dan Al-Wajiz yang paling ringkas ditulis sebelum itu. Hal ini terlihat dari muqaddimah Al-Wahidi dalam kitab Al-Wasith:

وقديماً كنت أطالب بإملاء كتاب في تفسير وسيط ، ينحط عن درجة (البسيط) الذي تجر فيه أذيال الأقوال ، ويرتفع عن مرتبة الوجيز الذي اقتصر فيه على الإقلال …. أُعفيه من التطويل والإكثار ، وأسلِمه من خلل الوجازة والاقتصار ، وآتي به على النمط الأوسط ، والقصد الأقوم ، حسنة بين السيئتين ، ومنـزلة بين المنـزلتين لا إقلال ولا إملال

Artinya: sebelumnya saya memang berkeinginan menulis sebuah kitab tafsir dengan level keluasan yang berada pada taraf pertengahan, tidak seluas tafsir Al-Basith yang terlalu bertela-tele tetapi lebih luas daripada Al-Wajiz yang terlalu ringkras. Kitab Al-Wasith ini saya upayakan berada pada level sedang dan pertengahan, sehingga dapat memberikan ulasan Ayat Al-Qur’an dengan porsi yang ideal.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa pada awalanya Al-Wahidi berniat menulis dua kitab tafsir saja dengan format yang singkat dan luas. Namun kemudian beliau menilai keduanya  justru  terlalu terkesan singkat dan panjang hingga timbul keinginan menulis tafsir Al-Wasith untuk menyeimbangkan keduanya.

Baca Juga :  Hadis-hadis Keutamaan Shadaqah

Jika melihat ketiga kitab tafsir tersebut, tafsir Al-Wajiz biasanya hanya mencukupkan satu pendapat yang paling tepat saja, adapun kitab tafsir Al-Wasith biasanya mencantumkan ragam dan berbagai alternative pendapat yang berbeda. Sedangkan tafsir Al-Basith yang lebih lengkap dari itu ikut disertai dengan tambahan riwayat-riwayat atau penafsiran yang batil dan ganjil sekalipun.

Selain ketiga tafsir ini, karya tulis Al-Wahidi dalam kajian Al-Qur’an yang sangat populer adalah kitab Asbabun Nuzul. Kitab ini bersama kitab Asbabun Nuzul yang ditulis oleh As-Suyuthi dapat dikatakan adalah rujukan yang paling sering digunakan untuk melihat riwayat-riwayat seputar sebab turunnya sebuah ayat Al-Qur’an.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here