Mengenal al-Khawarizmi: Membawa Konsep Angka 0 ke Dunia Islam

1
982

BincangSyariah.Com – Abu Abdillah Muhammad Ibn Musa al-Khawarizmi al-Qutrubuli atau yang lebih dikenal dengan nama al-Khawarizmi lahir sekitar tahun 780 M dan wafat sekitar tahun 847 M. Nama Al-Khawarizmi menunjukkan bahwa ia berasal dari daerah Khwarizm di timur laut Kaspia, dekat dengan delta sungai Amu Dar’ya (Oxus) di atas laut Aral. Khawarizm sendiri merupakan nama kuno untuk daerah yang sekarang bernama Khiva, Uzbekistan. Kata al-Qutrubulli yang ditambahkan oleh Imam at-Tabari menunjukkan bahwa al-Khawarizmi berasal dari Baghdad, Irak.

al-Khawarizmi: Mengenalkan Konsep Algoritma

Al-Khawarizmi dikenal sebagai orang yang mengenalkan konsep algoritma dalam matematika, sehingga tak heran jika namanya diabadikan dalam istilah algoritm. Kata algoritm berasal dari perubahan kata al-Khawarizmi menjadi versi latin (alchwarizmi, al-Karismi, algorismi, algorism, sampai al-gorithm), kata tersebut diserap ke dalam bahasa Spanyol menjadi guarismo dan dalam bahasa Portugis algorismo. Algoritm atau algoritma adalah prosedur baku dalam penyelesaian masalah yang disusun secara sistematis dan logis. Pada umumnya, algoritma digunakan untuk membuat flowchart dalam ilmu komputer.

Al-Khawarizmi hidup pada zaman dinasti Abbasyiah, sekitar masa khalifah al-Ma’mun dan khalifah al-Wathiq. Pada masa kepemimpinan khalifah al-Ma’mun (813-833 M), al-Khawarizmi ditunjuk menjadi anggota Bayt al-Hikmah di Baghdad. Bayt al-hikmah sendiri merupakan suatu lembaga pendidikan yang didirikan oleh khalifah Harun ar-Rasyid dan banyak berperan dalam menerjemahkan teks-teks pengetahuan dari bahasa Yunani, India, dan Persia ke bahasa Arab.

Pada masa khalifah al-Wathiq (842-847 M), al-Khawarizmi diminta untuk meramal usia khalifah yang kala itu sedang sakit parah. Al-Khawarizmi meyakinkan bahwa khalifah akan hidup untuk lima puluh tahun ke depan. Namun, sepuluh hari kemudian khalifah al-Wathiq dikabarkan wafat. Berdasarkan cerita tersebut, dapat diambil hikmah bahwa ilmuwan besar sekalipun dapat melakukan kekeliruan. Namun, bisa jadi ramalan baik tersebut disampaikan al-Khawarizmi dengan tujuan untuk menenangkan hati khalifah yang saat itu sedang sakit parah.

Baca Juga :  Sejarah Kemunculan Wahabi dan Perbedaannya dengan Gerakan Salafi

Kontribusi terbesar al-Khawarizmi terhadap sains terdiri dari empat bidang, yaitu aritmatika, aljabar, astronomi, dan geografi. Dalam bidang aritmatika, al-Khawarizmi mengenalkan metode Hindu melalui karyanya yang berjudul al-Jam’u wa at-Tafriq fi al-Hisab al-Hindi (The Book of Addition and Substraction According to the Hindu Calculation). Buku tersebut ditulis setelah tahun 800 M dan menjadi buku aritmatika Arab pertama yang diterjemahkan ke dalam bahasa latin. Edisi bahasa Arab dari buku tersebut telah hilang, namun versi bahasa latinnya ditemukan di perpustakaan Universitas Cambridge pada tahun 1857 M. Karya al-Khawarizmi yang satu ini dikenal sebagai buku pertama yang ditulis dengan menggunakan sistem bilangan desimal.

Membawa Konsep Angka 0 dari India

Hasil karya al-Khawarizmi yang dianggap penting diantaranya adalah penggunaan basis angka Arab mulai dari 1 sampai 9, nol, pola nilai penempatan, hingga empat basis operasi perhitungan, yaitu penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.

Penemuan al-Khawarizmi dalam bidang aritmatika dilatarbelakangi oleh ilmu pengetahuan yang berasal dari Hindu. Kata sunya digunakan oleh masyarakat Hindu untuk penulisan nol yang mengandung arti kosong. Al-Khawarizmi mengganti kata sunya tersebut menjadi sifr. Notasi nol secara luas digunakan 250 tahun dalam dunia Islam sebelum bangsa Eropa mengenal simbol tersebut. Kata sifr  yang merupakan bahasa Arab diserap ke dalam bahasa latin menjadi cipher, zipher, zephirum, zenero,dan cinero. Ahli matematika pada abad 17 dan 18 yang menggunakan istilah cipher diantaranya adalah Adrian Metiers (1611 M), Herigone (1634 M), Cavaliere (1643 M), dan Euler (1783 M).

Notasi nol sangat berguna untuk perkembangan konsep bilangan positif dan negatif dalam bidang aljabar. Al-Khawarizmi merupakan peneliti pertama yang memperkenalkan penggunaan nol sebagai nilai pada basis 10 (angka 0-9) yang kemudian dikenal sebagai sistem bilangan desimal. Notasi penulisan yang digunakan sekarang dapat dikatakan berasal dari penemuan al-Khawarizmi, meskipun beberapa sumber lain mengatakan bahwa penulisan angka satu sampai sepuluh berasal dari bangsa India.

Baca Juga :  Hadis-hadis Keutamaan Shalat Sunnah

J.L. Berggren dalam bukunya yang berjudul Episodes in the Mathematics of Medieval Islam mengatakan bahwa angka-angka yang digunakan saat ini merupakan warisan dari matematikawan muslim abad pertengahan. Orang Hindu memang merupakan orang pertama yang menggunakan sistem sembilan digit angka, desimal, serta pola nilai penempatan suatu digit. Namun, orang Hindu tidak memperluas sistem tersebut untuk mewakili unit desimal. Oleh sebab itu, matematikawan muslim diakui sebagai peneliti yang pertama kali menemukannya. Sehingga cukup tepat jika angka 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9 disebut sebagai angka Hindu-Arab.

Angka dari 1 sampai 9 merupakan angka-angka yang mudah untuk ditulis. Selain itu, posisi dalam penulisan angka Arab dapat menentukan nilai satuan, puluhan, ratusan, dan seterusnya dengan mudah. Contohnya bilangan 345 menunjukkan bahwa 5 sebagai satuan, 4 sebagai puluhan, dan 3 sebagai ratusan. Penggunaan angka nol pada posisi tertentu menunjukkan bahwa posisi tersebut kosong. Contohnya ketika kita menuliskan bilangan 207, maka posisi pulang dari bilangan tersebut bernilai kosong.

Sebelum notasi angka Arab dikenalkan, bangsa Barat kesulitan dalam menggunakan angka romawi. Secara sederhana kita dapat menuliskan angka 8 menggunakan satu digit, namun dalam angka romawi, nilai yang sama harus ditampilkan dengan empat digit VIII. Contoh lainnya, nomor 2843 pada angka romawi menjadi MMDCCCXLIII. Penulisan angka romawi seperti itu akan mempersulit dalam proses operasi hitung seperti perkalian dan pembagian.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here