Mengenal Akidah Sunni dan Kitab Tasawuf Ternama yang Diperoleh dari Mimpi

0
19

BincangSyariah.Com – ‘Aqa’id (akidah-akidah) 50 merupakan salah satu ajaran akidah Sunni atau tauhid yang terus berkembang sampai sekarang dan diajarkan sejak dini kepada generasi Muslim di berbagai penjuru Nusantara.

Ia disebutkan dalam kitab ‘Aqidah al-‘Awam (Akidahnya Orang Awam) milik Sayyid Ahmad Marzuqi. ‘Aqa’id 50 sendiri terdiri dari 20 sifat wajib bagi Allah, 20 sifat muhal bagi Allah, 1 sifat jaiz bagi Allah, 4 sifat wajib bagi para utusan, 4 sifat mustahil bagi para utusan, dan 1 sifat jaiz bagi para utusan.

Ajaran akidah sunni lain yang disebutkan dalam ‘Aqidah al-‘Awam adalah kewajiban setiap Muslim mengetahui dan meyakini nama-nama para utusan yang berjumlah dua puluh lima  dan nama-nama para malaikat yang berjumlah sepuluh serta nama-nama kitab suci yang berjumlah empat.

Termasuk pembahasan dalam akidah sunni adalah nama-nama para utusan Allah. Mereka adalah Nabi Adam, Nabi Idris, Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Shalih, Nabi Ibrahim, Nabi Luth, Nabi Isma‘il, Nabi Ishaq, Nabi Ya‘qub, Nabi Yusuf, Nabi Ayyub, Nabi Syu‘aib, Nabi Harun, Nabi Musa, Nabi Ilyasa‘, Nabi Dzul Kifli, Nabi Dawud, Nabi Sulaiman, Nabi Ilyas, Nabi Yunus, Nabi Zakariyya, Nabi Yahya, Nabi ‘Isa, dan Nabi Muhammad shalawatullah wa salamuhu ‘alaihim.

Sedangkan nama-nama para malaikat adalah: malaikat Jibril, malaikat Mikail, malaikat Israfil, malaikat ‘Izrail, malaikat Munkar, malaikat Nakir, malaikat Raqib, malaikat ‘Atid, malaikat Malik, dan malaikat Ridwan. Adapun nama-nama kitab suci adalah: Taurat (diturunkan kepada Nabi Musa as.), Zabur (diturunkan kepada Nabi Dawud as.), Injil (diturunkan kepada Nabi ‘Isa as.), dan al-Qur’an (diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.).

Sebagian isi kitab ‘Aqidah al-‘Awam ini (termasuk akidah sunni yang 50 dan nama-nama para utusan dan malaikat serta nama-nama kitab suci) didapatkan melalui mimpi. Dalam hal ini, Sayyid Ahmad Marzuqi pernah bermimpi Rasulullah saw. yang ditemani oleh para sahabat pada akhir malam Jumaat, 6 Rajab 1258 H.

Dalam mimpinya tersebut, Rasulullah saw. menyuruh Sayyid Marzuqi untuk membaca nazam tauhid yang selaras dengan kandungan al-Qur’an dan hadis, di mana orang yang mengahapal nazam itu akan masuk surga dan memeroleh segala kebaikan yang diinginkannya (Imam Nawawi al-Jawi, Nur azh-Zhalam, hlm. 2).

Namun, Sayyid Marzuqi mengatakan: “apa nazam tauhid itu, ya Rasulallah?” Mendengar hal itu, para sahabat menyuruh Sayyid Marzuqi mendengarkan apa yang akan diucapkan oleh Rasulullah saw. Akhirnya, Rasulullah saw. mengajari nazam tauhid itu satu per satu kepada Sayyid Marzuqi, yaitu mulai dari “abda’u bismillahi war rahmani” sampai ke “wa shuhuful khalili wal kalimi # fiha kalamul hakamil ‘alimi.” Beliau pun menirukan nazam tauhid itu satu per satu sembari didengarkan oleh Rasulullah saw. (hlm. 2).

Setelah bangun tidur, Sayyid Marzuqi membaca lagi nazam tauhid (yang telah dihapalnya) itu bait per bait sampai selesai. Kemudian, beliau bermimpi Rasulullah saw. lagi pada malam Jumaat waktu sahur, 28 Dzulqa‘dah. Dalam hal ini, beliau berada di hadapan Rasulullah saw. yang sedang ditemani oleh para sahabat di sekelilingnya. Rasulullah saw. berkata: bacalah nazam tauhid yang telah kamu hapalkan(hlm. 2).

Beliau akhirnya membaca nazam tauhid itu bait per bait sampai selesai, di mana para sahabat mengucapkan “amin” di setiap baitnya. Setelah selesai, Rasulullah saw. berkata: “semoga Allah memberikan taufik kepadamu atas apa yang Dia Ridai dan Allah telah menerima nazam tauhid yang kamu bacakan. Semoga Allah memberkatimu dan orang-orang mukmin. Semoga nazam tauhid itu bermanfaat bagi seluruh hamba Allah. Amin” (hlm. 2-3).

Setelah Sayyid Marzuqi menceritakan nazam tauhid itu kepada masyarakat, maka mereka meminta nazam tauhid itu ditulis agar bisa dipelajari oleh khalayak ramai. Beliau pun menyanggupi permintaan mereka sembari menambahi beberapa bait ciptaannya sendiri, yaitu: “wa kullu ma ata bihir rasulu # fahaqquhut taslimu wal qabulu” sampai akhir bait (sammaituha ‘aqidatal ‘awami # min wajibin fid dini bit tamami).

Dengan kata lain, bait pertama (abda’u bismillahi war rahmani # wa birrahimi da’imil ihsani) sampai bait “wa shuhuful khalili wal kalimi # fiha kalamul hakamil ‘alimi” dalam ‘Aqidah al-‘Awam adalah bersumber dari Rasulullah saw. Sedangkan bait setelah itu, yaitu “wa kullu ma ata bihir rasulu # fahaqquhut taslimu wal qabulu” sampai akhir bait (sammaituha ‘aqidatal ‘awami # min wajibin fid dini bit tamami) adalah ciptaan Sayyid Marzuqi sendiri.

Dalam hal ini, kitab akidah sunni ‘Aqidah al-‘Awam memuat 57 bait nazam, di mana 26 bait berasal dari Rasulullah saw. yang didapatkan dalam mimpi dan 31 bait sisanya merupakan karangan Sayyid Ahmad Marzuqi sendiri.

Dalam kesempatan lain, sufi dan wali terkemuka Syaikh al-Akbar Ibnu ‘Arabi pernah bermimpi Rasulullah saw. di daerah Damaskus pada sepuluh terakhir bulan Muharram tahun 627 H. Dalam hal ini, Rasulullah saw. membawa sebuah kitab sembari berkata: “ini kitab Fushush al-Hikam (Permata-permata Kebijaksanaan). Ambillah dan keluarlah dengan membawa kitab ini kepada umat manusia. Sehingga mereka bisa mengambil manfaat dari kitab ini” (Syaikh al-Akbar Ibnu ‘Arabi, Fushush al-Hikam, penerbit Dar al-Kitab al-‘Arabiyy, Beirut, hlm. 47).

Syaikh al-Akbar Ibnu ‘Arabi menjawab: “ketundukan dan kepatuhan untuk Allah, Rasul-Nya, dan pempimpin kami, sebagaimana kami telah diperintah (lihat an-Nisa’ (4): 59).” Akhirnya, beliau mempublikasikan kitab Fushush al-Hikam tersebut tanpa mengurangi ataupun menambahi satu huruf pun dari apa yang telah ditetapkan oleh Rasulullah saw. (hlm. 47).

Selain itu, Syekh Abi Jum‘ah al-Miqqari pernah bermimpi Rasulullah saw. Dalam mimpinya ini, Syekh Abi Jum‘ah al-Miqqari diperintah oleh Rasulullah saw. untuk menambahi huruf “wawu” sebelum kalimat “shallallahu ‘ala sayyidina muhammad” yang terletak sebelum “bismillahir rahmanir rahim” pada permulaan kitab Dala’il al-Khairat, karya sufi dan wali ternama Imam Abu ‘Abdillah Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli.

Sehingga permulaan kitab Dala’il al-Khairat tersebut berupa: “bismillahir rahmanir rahim, wa shallallahu ‘ala sayyidina muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallama.” Dalam hal ini, teks awal Dala’il al-Khairat yang ditulis oleh Imam al-Jazuli tidak menyebutkan huruf “wawu” sebelum kalimat “shallallahu ‘ala sayyidina muhammad”. Penambahan huruf “wawu” itu karena adanya perintah dari Rasulullah saw. dalam mimpi (Syekh Yusuf bin Isma‘il an-Nabhani, ad-Dalalat al-Wadhihat ‘ala Dala’il al-Khairat, 2011: 80-81 & 121). Wa Allah A‘lam wa A‘la wa Ahkam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here