Mengenal Abu Muhajir Dinar: Politisi Ulung Penakluk Aljazair

0
1286

BincangSyariah.com – Dari sekian banyaknya negara Arab Maghribi, Aljazair termasuk satu diantara negara yang paling penting sebab letaknya sangat strategis khususnya sebagai jalur perluasan wilayah. Keislaman negeri yang kini ditempati mayoritas Muslim ini tidak terlepas dari sosok Abu Muhajir Dinar. Melaui sentuhan emasnya sederet wilayah penting di Aljazair dapat ditaklukan.

Abu Al-Muhajir Dinar bin Abdullah An-Nahudzi Az-Zabi. Menurut Ammar bin Muhammad dalam Al-Atsar Al-Islamiyyah bi Aljazair nasabnya bersambung pada Tahudzah, salah satu suku Amazigh. Ini diperkuat dengan pernyataan Yaqut Hamawi bahwa Nahudzu adalah sebuah wilayah di Zab (Aljazair). Seperti yang sudah diketahui bersama bahwa penduduk asli Aljazair adalah suku Amazigh (Barbar)

Beberapa media daring menuliskan Abu Muhajir sebagai Sahabat Rasul. Namun ini ditampik oleh sejumlah ahli seperti Ibnu Al-Abbar. Begitu pula dengan Ammar bin Muhammad. Menurutnya, tidak ada sumber sejarah yang menyatakan secara eksplisit bahwa Abu Muhajir adalah seorang Sahabat, sebagaimana tahun serta tempat lahirnya pun luput dari pantauan sejarah. Sehingga lebih tepat jika Abu Muhajir digolongkan sebagai Tabi’in.

Adapun karirnya di benua Afrika terbilang cukup sukses. Ia pernah mengikuti sejumlah operasi militer bersama Uqbah bin Nafi’. Sebab kepiawaiannya dalam bidang militer, ia pun sering diutus untuk mengepalai sebuah tim khusus dalam misi penumpasan aksi makar musuh. Satu yang paling populer diantaranya adalah penaklukan Aljazair.

Selain ahli perang, Abu Muhajir dikenal pandai berpolitik. Ia bahkan pernah dipercaya untuk memegang kendali wilayah sebesar Ifriqiyya (Tunisia dan sekitarnya) tahun 55 H – 62 H menggantikan seorang jenderal agung, Uqbah bin Nafi’. Saat itu Ifriqiyya menjadi pusat kendali atas Arab Maghribi. Tentu, seorang gubernur apalagi di ibu kota wilayah adalah orang dengan standar diatas rata- rata.

Baca Juga :  Dinasti Idrisiyah: Dinasti Keturunan Nabi Muhammad di Barat Afrika

Pelengseran seorang tokoh besar Uqbah bin Nafi’ menggegerkan publik. Pasalnya, Uqbah telah banyak berperan dalam pembebasan Afrika. Baru menjabat sekitar 4 tahun, ia malah dilengserkan. Situasi tambah memanas pasca kedatangan Abu Muhajir, ia tidak menempati Kairoan sebagai pusat komando. Malah mengalihkannya ke kota baru yang ia dirikan dua mil dari kota Kairoan.

Keputusan ini tentu mengundang banyak pertanyaan. Kenapa Kairoan yang cukup ampuh menyebarkan syiar Islam di Afrika, dan tengah dalam pembangunan masif guna dijadikan sebagai pusat penyebaran Islam di Maghrib  justru dialihkan begitu saja. Peristiwa ini yang kemudian menyayat hati Uqbah sebab ia telah bersusah payah mendirikan kota tersebut.

Menurut Ammar ada dua landasan mengapa Abu Muhajir memindahkan pusat komando. Pertama, Abu Muhajir ingin menempatkan sebuah jejak baru atas nama dirinya, sehingga ia berinisiatif merintis kota baru. Kedua, ia merasa bahwa sebagian besar pribumi Maghrib masih bersembunyi dan memisahkan diri dari Uqbah. Oleh karenanya dengan pemindahan markas pusat, ia ingin menegaskan bahwa ia berbeda dari Uqbah.

Kendati sosoknya kontroversial sebab pernah bersitegang dengan Uqbah, namun di sisi lain peranan Abu Muhajir dalam konstelasi percaturan politik Afrika Utara tidak bisa dianggap remeh. Tidak hilang dari ingatan masyarakat Aljazair bahwa di tanah air mereka Abu Muhajir pernah menduduki kota Mila dan mengalahkan Kusaila raja kenamaan suku Barbar. Dua kemenangan ini sekaligus memantapkan pengaruh Islam di Aljazair.

Sejumlah ahli seperti Ali Muhammad As-Shalabi dalam Safahat Musyriqah, Khairuddin Az-Zirikli dalam Al-‘alam dan Abu Abbas Syihab an-Nashiri dalam Al-Istiqsha bahkan menyatakan dengan tegas bahwa Abu Muhajir adalah amir pertama yang menginjakan kudanya di Maghrib Al-Awsath (Aljazair dan sekitarnya).

Baca Juga :  Ahmad Hassan: Tokoh Ormas Persis Keturunan India yang Jago Berdebat

Abu Muhajir menaklukan kota Mila pada tahun 59 H. Jika umumnya seorang jenderal akan pulang ke ibu kota pasca penaklukan, ini lain dengan yang dilakukan Abu Muhajir. Agar bisa lebih dekat dengan masyarakat sekitar sambil menyiarkan agama Islam, ia memilih untuk tetap tinggal di kota Mila selama dua tahun. Keutungan lainnya sebab letak strategis kota Mila, ia dapat memantau pergerakan lawan – lawannya.

Warisan sejarah yang ia tinggalkan di kota ini yang masih bisa dijumpai hingga sekarang diantaranya Masjid Abu Muhajir atau yang lebih dikenal dengan nama Masjid Sidi Ghanim. Masjid ini didirikan tepat disamping istana persinggahannya saat menetap di Mila. Sebagian sumber sejarah menobatkan masjid ini sebagai masjid tertua di Aljazair.

Pada saat itu etnis Barbar di Maghrib Aqsha (Maroko dan sekitarnya) dan Maghrib Awsath (Aljazair dan sekitarnya) dikepalai oleh Kusaila. Ia sosok cerdas yang disukai oleh masyarakatnya. Saat mengetahui umat Islam telah mencapai perbatasan Aljazair,  Kusaila mengumpulkan kekuatan tempurnya dari timur hingga barat.  Maka terkumpulah pasukan besar yang terdiri dari suku Barbar dan orang – orang Romawi.

Ibnu Idzari dalam Bayan Mughrib berpendapat bahwa pertempuran kedua belah pihak berawal saat pasukan Muslim tengah berada di tengah – tengah sebuah kota. Kemudian Romawi mengutus Kusaila bin Lamz Al-Aurabi (ada juga yang mengatakan Al-Burnusi) untuk menahan laju prajurit Muslim. Untuk melancarkan operasi, ia dibekali tentara – tentara dari kabilah Baranis.

Pasca mendengar diterjunkannya raja suku Barbar ke medan pertempuran, Abu Muhajir pun bergegas pergi ke lokasi tersebut. Mereka sampai di sebuah mata air di Aljazair yang kini disebut dengan nama ‘Uyun Abu Muhajir. Kedua belah pihak berpapasan di sini, namun apakah terjadi pertempuran atau tidak itu hal lain. Dikutip dari Hisyam Abu Ramilah dalam Tilmisan Fi Al-‘Ahd Az-Ziyani ada dua pendapat soal ini.

Baca Juga :  Meneropong Tradisi Halal bi Halal di Indonesia

Pendapat pertama menyatakan ada pertempuran. Pengusung teori ini antara lain Ibnu Khaldun, Ibnu Atsir dan Abu Bakar Al-Maliki. Sementara Mahmud Madqisy dan Mahmud Syit Khattab meyakini bahwa kedua kubu berdamai tanpa peperangan. Kendati para ahli berbeda pendapat, yang jelas Abu Muhajir setelah pertemuan itu berhasil mambawa Islam masuk ke Aljazair.

Telah disinggung di awal bahwa Abu Muhajir adalah seorang politisi ulung. Ini terlihat dari beberapa tindakannya tatkala dihadapkan dengan beragam situasi. Misalnya, saat berinteraksi dengan raja suku Barbar pasca pertempuran. Terhadap Kusaila ia tidak bertindak kasar, justru memperlakukannya dengan lemah lembut.

Dengan begitu serdadu kabilah Baranis bisa diredam. Bahkan  Kusaila menyatakan keislamannya meski hanya berpura – pura. Berkat jalinan baik ini, wilayah lainnya seperti Tlemcen berhasil ditundukan. Konon  penaklukan ini tidak terlepas dari bantuan Kusaila, sebagaimana diutarakan  Rasyid An-Nadhuri.

Tahun 62 H, Abu Muhajir dicopot dari jabatannya dan Ifriqiyya kembali dipimpin Uqbah bin Nafi’ Al-Fihri untuk kedua kalinya. Sebelum penyerahan jabatan, ia telah mengingatkan Uqbah agar berlaku baik terhadap Kusaila, namun sepertinya tidak terlalu diindahkan.

Perlakuan berbeda yang didapatkan Kusaila membuatnya naik pitam, sehingga pada saat ada kesempatan ia bersama para prajuritnya berkhianat dan melakukan pemberontakan. Dalam tragedi tahun 63 atau 64 H itu, tiga ratus orang Muslim wafat dua diantaranya Uqbah bin Nafi’ dan Abu Muhajir Dinar. Jenazah keduanya kemudian dimakamkan di Zab, Aljazair.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here