Abu Hurairah masuk Islam ketika perang khaibar, yaitu tahun ketujuh hijriyyah di bulan Muharram. Sehingga ia hanya dapat berkumpul dengan Nabi Saw. Sekitar empat tahun. Waktu yang sangat singkat ini ia gunakan dengan maksimal untuk menimba ilmu sedalam- dalamnya dari sosok panutan umat Islam.

BincangSyariah.Com- Sahabat adalah tokoh sentral dan sangat krusial dalam periwayatan hadis. Betapa tidak, merekalah saksi kunci rekam jejak Nabi Saw. mulai dari sabdanya, aktifitasnya, diamnya, maupun sifat-sifatnya. Dan diantara sosok sahabat yang memiliki andil yang sangat besar dalam meriwayatkan hadis adalah Abu Hurairah.

Menurut penelitian Ibn Shalah dalam kitab muqaddimahnya Abu Hurairah merupakan sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis. Imam Suyuthi dalam kitab Tadribur Rawi mengatakan bahwa jumlah hadis yang berhasil dipublikasikan Abu Hurairah sebanyak 5374 hadis.

Lebih dari 20 hingga 40 pendapat ulama’ memperdebatkan nama asli dari Abu Hurairah. Dan pendapat yang paling shahih mengatakan bahwa nama aslinya adalah Abdurrahman bin Shakhr. Nama ini ia sematkan setelah masuk Islam, karena di masa Jahiliyyah namanya adalah Abdus Syams (hambanya matahari). Namun nama aslinya kalah tenar dengan nama julukannya Abu Hurairah yang berarti bapak kucing kecil. Nama julukan ini ia dapat setelah menemukan kucing liar kecil ketika menggembala kambing. Ia pun membawa kucing itu di lengan bajunya.

Abu Hurairah kecil berasal dari desa Daus kota Yaman. Ia telah yatim sejak kecil dan tinggal bersama ibunya yang bernama Maimunah bint Shabih. Abu Hurairah masuk Islam ketika perang khaibar tahun ketujuh hijriyyah di bulan Muharram. Sehingga ia hanya dapat berkumpul dengan Nabi Saw. Sekitar empat tahun. Waktu yang sangat singkat ini ia gunakan dengan maksimal untuk menimba ilmu sedalam- dalamnya dari sosok panutan umat Islam.

Baca Juga :  Kisah Abu Hurairah yang Ditipu Setan

Meskipun ia sangat miskin dan sering menahan lapar bahkan sering kali ia mengganjal perutnya dengan batu namun ia tetap giat belajar hadis Nabi Saw. Bahkan suatu hari ia sangat lemas dan tidak kuat melangkahkan kaki ke masjid, hanya duduk di pinggir jalan yang dilewati oleh para sahabat, dan menanyai mereka tentang ayat atau hadis apa yang telah disampaikan oleh Nabi Saw.

Ketika para sahabat Anshor dan Muhajirin sibuk mengembangkan bisnis-bisnis mereka, maka Abu Hurairah lebih memilih mendatangi majlis Nabi Saw., melayani Nabi Saw, menggali informasi tentang Nabi Saw. kepada istri-istrinya, ia pun tidak pernah absent berjamaah dengan Nabi Saw. dan berhaji bersama Nabi Saw. Namun manusia tetaplah manusia, tempatnya salah dan lupa. Begitu pula dengan Abu Hurairah, banyak hadis yang ia dapatkan dari Nabi Saw. namun ia lupa.

Abu Hurairah pun meminta solusi kepada Nabi Saw. agar ilmu yang ia dapatkan dari Nabi Saw tidaklah sia sia. “Bentangkan selendangmu” perintah Nabi Saw. kemudian Nabi Saw mengumpulkan kedua tangannya (menyerupai gayung, sebagai isyarat pemberian ilmu Nabi Saw kepada Abu Hurairah) seraya meriwayatkan banyak hadis. “himpunlah ini!”.

Setelah peristiwa tersebut Abu Hurairah mengaku tidak pernah lupa lagi semua informasi dan ilmu yang ia peroleh dari Nabi Saw. Tidak hanya itu, menurut cerita Zaid bin Tsabit, suatu ketika ia dengan seorang sahabat dan Abu Hurairah pernah disuruh berdoa oleh Nabi Saw., Zaid dan sahabat itupun berdoa dan diamini oleh Nabi Saw. kemudian Abu Hurairah juga memanjatkan doa “Ya Allah sungguh aku pinta seperti halnya yang dipinta oleh kedua temanku ini, dan aku juga memohon kepadamu ilmu yang tidak bisa aku lupakan.” Nabi Saw pun juga mengamini doa Abu Hurairah tersebut.

Baca Juga :  Menimbang Nilai Silaturahmi dalam Politik "Blusukan"

Suatu ketika Abu Hurairah pernah bertanya kepada Nabi Saw. ” Wahai Rasulullah saw. Siapa manusia yang paling bahagia sebab mendapatkan syafaatmu?” “Sungguh aku mengira wahai Abu Hurairah tidak ada seorang pun yang menanyakan hal ini lebih utama dari pada kamu karena aku melihat kegigihanmu dalam belajar hadis, sungguh orang yang paling bahagia sebab syafaatku di hari qiyamat adalah orang yang berkata lailaha illa Allahu murni (ikhlas) dari dirinya.”

Demikianlah kegigihannya Abu Hurairah dalam belajar sampai diakui oleh Nabi Saw. Bahkan menurut Ubay bin Ka’ab, Abu Hurairah adalah salah seorang sahabat yang tergolong berani dan sangat semangat bertanya sesuatu hal yang tidak pernah ditanyakan oleh sahabat lainnya. Namun, meskipun begitu tidak semua hadis ia riwayatkan kepada murid-muridnya yang berjumlah lebih dari 800 orang terdiri dari sahabat dan tabi’in.

Sosok yang memiliki kulit sawo matang dan berbadan tegap ini pernah berkata, “Aku hafal dari Rasulullah saw. dua kantong ilmu, maka salah satunya aku sebarkan kepada manusia, dan ilmu yang lainnya apabila aku sebarkan maka tenggorokan ini akan dipotong.” Menurut imam adz adzahabi perkataan Abu Hurairah ini menunjukkan bahwa diperbolehkannya menyimpam ilmu yang dapat menimbulkan fitnah, baik dalam hal pokok atau furu’ pujian atau celaan.

Abu Hurairah juga pernah mengakui tidak berani meriwayatkan hadis di zaman khalifah umar, karena pada masa itu dikhawatirkan bercampur antara al Qur’an dan hadis Nabi Saw. Namun setelah wafatnya Umar, Abu Hurairah mulai berani menyebarluaskan hadis yang ia dapatkan dari Rasulullah saw.

Bahkan sebagaimana diceritakan Ibnu Zinad dari bapaknya dari Muhammad bin Umarah bersaksi bahwa ia pernah duduk bersama Abu Hurairah dan diantara para sahabat. Ketika itu Abu Hurairahlah yang mengisi pengajian. Ia menyebutkan hadis dari Rasulullah saw. yang ternyata sebagian dari mereka ada yang belum mengetahuinya dan mereka saling mengulang dengan sebagian yang lainnya sampai tahu semua, begitu seterusnya.

Baca Juga :  Anas Bin Malik: Sahabat yang Mendedikasikan Hidupnya untuk Melayani Rasulullah saw

Kegiatan mengajar hadis tersebut berlanjut ketika masa khalifah Umayyah. Pernah suatu ketika Abu Hurairah berdiri di antara orang- orang sambil meriwayatkan hadis hingga waktu shubuh.

Keilmuan Abu Hurairah ini banyak diwariskan kepada menantunya sendiri yang bernama Sa’id bin Musayyib dan mantan budaknya bernama al A’raj.

Pada akhir hayatnya, Sahabat yang pernah menjabat sebagai gubernur Bahrain di pemerintahan Umar dan gubernur Madinah di pemerintahan Umayyah ini wafat di tahun 58 H. di usianya yang ke 78. Ia dimakamkan di Baqi’.

Demikianlah biografi Abu Hurairah, sosok pembelajar yang sangat pandai memanfaatkan waktunya untuk belajar dan belajar dari Rasulullah saw., sehingga hanya dalam kurun waktu empat tahun yang singkat, ia dapat menggali ilmu-ilmu dari Nabi Saw. dan sekaligus mengajarkannya kepada para sahabat dan tabi’in hingga sampailah informasi itu kepada kita, sehingga kita dapat mengetahui sosok panutan kita dengan sangat gamblang. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here