Mengapa Masjid Ramah Disabilitas Sangat Penting?

1
18

BincangSyariah.Com – Mengapa harus ada masjid ramah disabilitas? Sebab, orang dengan disabilitas juga memiliki hak untuk beribadah. Harus ada kesetaraan dalam beribadah.

Para penyandang disabilitas harus mendapatkan akses beribadah di tempat ibadah, masjid khususnya, sebagai hak untuk berpartisipasi secara penuh tanpa halangan dan hambatan fisik maupun mental.

Konsep akses penyandang disabilitas di masjid bisa mencakup mobilitas ke dan di dalam bangunan dan penghargaan terhadap keberadaaan difabel di dalam sebuah komunitas untuk bisa berpatisipasi penuh dalam kegiatan mereka.

Di Indonesia, tidak ada peraturan yang secara khusus mengatur masalah aksesibilitas ibadah. Peraturan paling penting yang terkait dengan penyandang disabilitas adalah Undang-undang No. 4 tahun 1997 tentang Penyandang Cacat.

Pada prinsipnya, undang-undang tersebut hanya memuat hak dan kewajiban penyandang cacat, kesamaan kesempatan, upaya pelayanan, pembinaan dan peran masyarakat.

Memang pada bab tentang hak dan kewajiban sudah disebutkan secara ekplisit bahwa penyandang cacat memiliki hak dan akses yang sama dalam segala aspek kehidupan.

Tapi, bab tersebut tidak menyebutkan secara eksplisit hak-hak pendidikan, pekerjaan, rehabilitasi dan terutama aksesibilitas. Harapan untuk mencari fondasi aksesibilitas ibadah ke undang-undang tersebut tidak akan memeroleh hasil.

Satu-satunya undang-undang yang bisa diacu dalam hal aksesibilitas fisik adalah UU No. 28 tahun 2002 tentang bangunan dan gedung. UU tersebut tidak secara khusus mengatur aksesibilitas bagi penyandang disabilitas.

Pada Bab IV tentang Persyaratan Bangunan Gedung, Bagian Pertama, Pasal 7, Ayat 1 dinyatakan bahwa:

“Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan administratif dan persyaratan teknis sesuai dengan fungsi bangunan gedung. Persyaratan Teknis terdiri dari persyaratan tata bangunan dan persyaratan keandalan bangunan gedung. Keandalan teknis bangunan gedung meliputi segi keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kemudahan.”

Pasal 29 ayat 1, 2, dan 3 memuat keharusan untuk menyediakan ram atau lift atau tangga berjalan untuk menjamin kemudahan vertikal bangunan di dalam gedung. Namun, ketentuan tersebut terlalu umum untuk bisa dijadukan panduan teknis yang mengikat dan bisa berpihak kepada penyedaan aksesibilitas fisik.

Guru Besar Agama Islam di Institut Pertanian Bogor (IPB) Didin Hafidhuddin, memiliki anggapan bahwa setiap masjid harus mendukung fasilitas untuk penyandang disabilitas. Masjid ramah disabilitas harus mudah dijangkau.

Pemerintah dan setiap masjid sudah harus ramah terhadap para penyandang disabilitas terkait ibadahnya. Harus ada dukungan dari pemerintah, baik fasilitas berbentuk kebijakan dan regulasi atau fasilitas yang menguatkan.

UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang penyandang disabilitas telah mendukung adanya fasilitas ibadah. Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan pihak terkait sudah harus mulai untuk melakukan segala upaya untuk mendukung UU tersebut.

Masjid ramah disabilitas mesti menyediakan sarana khusus untuk penyandang disabilitas. Sebagai misal konsep kamar mandinya, tempat wudhunya dan akses masuk ke dalam masjidnya.

Pada zaman Nabi Muhammad Saw., ada sahabat Nabi yang tuna netra, Abdullah bin Ummi Maktum. Kisah tersebut mestinya menjadi contoh utama untuk menunjang ibadah para disabilitas masa kini.

Ummi Maktum seorang buta tapi memiliki keinginan beribadah yang luar biasa. Saat ini, masih banyak Ummi Maktum lain. Mereka adalah kelompok dengan kekurangan fisik.

Terkait adanya masjid ramah disabilitas, perlu ada kesadaran dari setiap Dewan Kerahiman Masjid (DKM) untuk meningkatkan fasilitas ibadah. Dewan Masjid Indonesia (DMI) juga mesti konsisten berkoordinasi dengan setiap masjid untuk mendukung hal tersebut.

Para penyandang disabilitas mesti merasa nyaman saat beribadah di dalam masjid.[] (Baca: Apakah Sah Salat dengan Menggunakan Tongkat Bagi Disabilitas?)

100%

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here