Mengapa Hari Kesepuluh Muharam disebut Asyura?

3
395

BincangSyariah.Com – Seperti yang sudah disebutkan dalam artikel “Keutamaan Puasa di Bulan Muharam” bahwa kata ‘Asyura’ memiliki keterkaitan dengan kata al-‘asyir yang berarti hari kesepuluh di bulan Muharam. Namun, para ulama rupanya ada juga yang tidak sepakat dengan pandangan tersebut.

Menurut Ibn al-Atsir dalam kitab al-Nihāyah fī Gharīb al-Hadīth wa al-Ātsār mengatakan bahwa kata asyura adalah kata yang hanya dikenal setelah kedatangan Islam. Istilah yang digunakan adalah “kata Islam” (Ismun Islamiyyun), dan memang merujuk kepada makna hari kesepuluh. Masih menurut Ibn al-Atsir, ada juga yang berpendapat kalau kata ‘aasyura’ itu justru bermakna hari kesembilan.

Alasannya adalah bahwa dalam tradisi kebahasaan Arab, kadang mereka mengurangi satu dari angka yang mereka sebut. Pembuktiannya melalui ungkapan kalimat waradat al-ibil ‘asyran (ada sepuluh unta datang), maka maksudnya yang tiba adalah sembilan unta. (Lihat juga: Abu Musa Muhammad bin Umar al-Ashbihani, al-Majmū’ al-Mughīts fī Gharībay al-Qur’ān wa al-Hadīth, j. 2 h. 450).

Kedua perdebatan kebahasaan ini melahirkan perbedaan pendapat, apakah yang paling utama berpuasa di tanggal 10 Muharam atau tanggal 9 Muharam.

Ada yang berpendapat kalau berpuasa asyura di tanggal 9 untuk menyelisihi tradisi orang Yahudi yang berpuasa di tanggal sepuluh. Pandangan ini rupanya ada dasarnya di dalam hadis Nabi Saw. yang diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad dari Ibn ‘Abbas:

عن ابن عباس رضي اللَّه عنهما قال: قال رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم : “لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع”. وفي رواية قال: ” حين صام رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم يوم عاشوراء، وأمر بصيامه، قالوا: يا رسول اللَّه إنه يوم تعظّمه اليهود والنصارى؟ فقال رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم : فإذا كان العام القابل – إن شاء اللَّه – صمنا اليوم التاسع، قال: فلم يأت العام المقبل، حتى توفي رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم “

Dari Ibn ‘Abbas Ra., beliau berkata : kalau saya masih ada (umur) sampai tahun depan, saya akan puasa di hari kesembilan. Di dalam riwayat lain, Ibn ‘Abbas berkata: Ketika Rasulullah Saw. berpuasa di hari ‘Aasyura’ dan memerintahkan agar puasa di hari itu, para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, hari ‘asyura’ itu adalah hari yang diagungkan oleh umat Yahudi dan Nasrani ?”

Rasulullah Saw. bersabda: “Kalau ada (umur) di tahun depan – insya Allah – kita akan puasa di hari kesembilan. Ibn ‘Abbas berkata: “Tahun depan belum tiba, namun Rasulullah Saw. sudah wafat.”

Ada juga riwayat dari hadis ‘Aisyah Ra., bahwa sebelum diwajibkannya berpuasa di bulan Ramadan, puasa dilakukan pada hari asyura’. Hari ‘asyura’ adalah hadi di mana Kakbah dipasangi kain penutup dalam rangka memuliakan hari tersebut. Setelah ada puasa Ramadan, Nabi Saw. menetapkan bahwa puasa asyura’ tidak lagi wajib tapi menjadi sunah saja.

Baca Juga :  Halal Bi Halal : Antara Tradisi dan Syariat

Dari beberapa paparan tersebut, kita jadi mengetahui bahwa penamaan kata ‘asyura’ ada yang mengatakan sebagai penanda hari kesepuluh di bulan Muharam. Ini sama saja ketika kita menyebut hari kesembilan, lalu menggunakan kata Taasu’aa.

Namun, ada juga yang berpendapat bahwa kata ini adalah kata khusus dan tidak ada sebelum kedatangan Islam. Lebih lanjut, saya akan membahasnya pada bahasan peristiwa sejarah apa saja yang terjadi hari ‘asyura’.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here