Mengapa Alquran Turun Berangsur Selama 23 Tahun?

2
12633

BincangSyariah.Com – Telah kita ketahui bahwa salah satu keistimewaan dari Alquran adalah metode penurunannya. Allah Swt. menurunkan Alquran dalam dua tahap. Tahap pertama adalah penurunan Alquran secara global yaitu penurunan Alquran ke baitu al ‘izzah (langit dunia), sebagaimana firman Allah Swt:

انا انزلناه فى ليلة مباركة،انا كنا منذرين

Artinya: sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan. (QS. Al-Dukhan: 3)

Tahap kedua adalah tahap di mana Alquran diturunkan secara berangsur- angsur. Tahap ini memerlukan waktu kurang lebih 23 tahun. Hal tersebut telah dikhabarkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

وقرأنا فرقناه لتقرأه على الناس على مكث ونزلناه تنزيلا

Artinya: Dan Al-Qur’an (Kami turunkan) berangsur-angsur agar engkau (Muhammad) membacakannya kepada manusia perlahan-lahan dan Kami menurunkannya secara bertahap.

Tahukah Anda tentang fakta di balik turunnya Alquran secara berangsur-angsur tersebut? Berikut kami kutip 3 hikmah tersebut menurut kitab at-Tibyan fi Adab Hamalatil Quran karya an-Nawawi:

1. Mengukuhkan hati Nabi atas perlakuan buruk orang orang kafir.

Perlakuan orang kafir terhadap Nabi pada waktu itu di antaranya merasa tidak puas karena kitab yang diturunkan kepada Nabi tidak seperti kitab-kitab yang diturunkan kepada para nabi sebelumnya di mana diturunkan secara global. Oleh karena itu, Allah menguji Nabi agar semakin kukuh atas cemoohan kafir Quraisy. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Swt:

كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا

Artinya: Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan dan benar). (QS. Al-Furqan: 32)

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَىٰ مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّىٰ أَتَاهُمْ نَصْرُنَا ۚ وَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ۚ وَلَقَدْ جَاءَكَ مِنْ نَبَإِ الْمُرْسَلِينَ

Artinya: Dan sesungguhnya rasul-rasul sebelum engkau pun telah didustakan, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. (QS. Al-An’am: 34)

Turunnya ayat tersebut merupakan penghibur serta dukungan dari Allah SWT untuk Nabi dalam menghadapi cobaan dan rintangan semasa periode dakwah karena hal semacam itu juga pernah berlaku pada nabi-nabi sebelumnya.

2. Menenangkan hati Nabi ketika turun wahyu

Dalam salah satu firman Allah disebutkan bahwa keagungan dan kehaibah Alquran dapat membuat gunung bersujud karena takut atas firman Allah Swt. tersebut sebagaimana ayat berikut:

لَوْ أَنْزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۚ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya: Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. (QS. Al-Hasr: 21)

Lalu bagaimana dengan hati Nabi yang lembut apabila Alquran diturunkan sekaligus semuanya? Tentu hati Nabi akan merasakan kegelisahan yang sangat dahsyat dan tak akan mampu menerima Alquran secara global sebagaimana sifat manusiawi pada umumnya.

3. Bertahap dalam menentukan hukum

Adalah merupakan bukti bahwa Islam adalah agama rahmatan lil alamin, karena menentukan hukum secara berangsur angsur dengan tujuan agar tidak membuat kaget terhadap pemeluknya karena hal tersebut mungkin ada aktivitas yang menjadi tradisi bagi mereka, kemudian Alquran tiba-tiba melarangnya.

Hal ini seperti ayat yang menerangkan ke haramannya khamar dalam Alquran. Diharamkannya khamar tidak satu dalam satu tahap, namun memerlukan tahapan sebagaimana berikut:

Minimnya tingkat kemanfaatan
Pada awal periode Allah SWT tidak langsung mengharamkan akan tetapi dengan memberikan pernyataan bahwa kandung kemanfaatan dalam minuman keras sangat minim dibanding dengan ke mudaratannya

Mengharamkan pada waktu tertentu
Pada periode selanjutnya turun lagi sebuah ayat yang mengharamkan terhadap khamar, hanya saja tidak mutlak melainkan hanya ketika akan melakukan salat sebagaimana firman-Nya

ياايها الذين امنوا لا تقربوا الصلاة وانتم سكارى حتى تعلموا ما تقولون

Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati shalat ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan (QS. Al-Nisa: 43)

Dengan demikian, kebiasan orang pada waktu itu belum bisa dihentikan mereka memilih alternatif lain dengan meminumnya ketika malam tiba.

Pengharaman secara mutlak
Merupakan perintah terakhir atas ke haramannya khamar yaitu setelah turun ayat ke 90 dari surah al-Maidah. Setelah ayat tersebut turun maka umat Islam pada waktu itu diharamkan mengkonsumsi minuman keras.

2 KOMENTAR

  1. […] Ada dua sahabat dalam riwayat hadis ini, yaitu Aisyah dan al-Harits bin Hisyam. Al-Harits bin Hisyam merupakan saudara kandung Abu Jahal yang masuk Islam pada saat fathu Makkah ‘pembebasan kota Mekah’. Apakah al-Harits bin Hisyam bertanya hal ini disaksikan Aisyah? Atau al-Harits bin Hisyam bertanya mengenai cara Nabi mendapatkan wahyu, kemudian di lain waktu ia menyampaikan pada Aisyah? Menurut Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, pendapat yang masyhur adalah yang pertama. Yaitu al-Harits bertanya mengenai hal ini disaksikan Aisyah. (Mengapa Al-Qur’an Turun Berangsur Selama 23 Tahun?) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here