BincangSyariah.Com– Saya rasa, sejak umat muslim di Indonesia khususnya memiliki perhatian yang besar terhadap dalil-dalil syar’i – yang dimaksud adalah Quran dan Sunnah – dan keinginan agar setiap langkah keagamaan mereka berdasarkan kedua sumber utama pembentukan  Islam tersebut, sejak saat itulah orang selalu bertanya “dalilnya apa ?”, termasuk untuk hal-hal yang biasanya kita biasa melakukannya, dengan keyakinan awal kalau ini baik dan ada dasarnya yang dirumuskan oleh para ulama, seperti halal bi halal.

Pertanyaan yang muncul adalah apa dalilnya melaksanakan halal bi halal ? apakah ini pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw. apa tidak ? dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Tulisan ini sebenarnya berupaya tidak berkutat untuk memperdebatkan atau berusaha mencari-cari dalil dari kegiatan yang sebenarnya sejalan dengan dalil-dalil umum syariat.

Jika pembaca yang budiman memiliki sedikit kemampuan mengetik atau memahami Bahasa Arab, anda bisa googling halal bihalal (dalam tulisan arabnya: حلال بحلال). Alhamdulillah, anda tidak akan menemukan perdebatan kusir seputar halal bihalal bid’ah sayyi’ah atau judul-judul sejenis.

Justru, anda akan menemukan setidaknya tiga artikel dari tiga situs yang berbeda yang menuliskan kalau halal bihalal adalah bagian dari tradisi khas muslim Indonesia.

Sampai pencarian ini, sebenarnya tidak layak lagi kita membangun argumentasinya dari dalil kalau ungkapan ini tidak dikenal dalam percakapan Bahasa Arab, atau argument yang sifatnya lokal lainnya.

Kenyataannya, halal bihalal adalah bagian dari kebijaksanaan dan kearifan ulama Indonesia. Sebagai pendukung informasi, sementara yang saya dapat informasi paling tua menyebutkan kalau budaya halal bihalal, bermaaf-maafan antar sesama disaat atau setelah lebaran dimulai oleh Sultan Kasunan Surakarta.

Sumber lain – seperti yang dikutip oleh Helmy Faishal Zaini, Sekjen PBNU dalam tulisannya di Jawapos (27/6) atau yang viral di media sosial juga ditulis oleh K.H. Masdar Farid Mas’udi, kini Rois Syuriyah PGNU –  menyebutkan kalau K.H. Wahab Hasbullah di tahun 1948 mengusulkan kepada Ir. Soekarno membentuk acara yang dapat menyatukan setiap unsur masyarakat yang terpecah belah oleh politik pasca peristiwa DI/TII. Bung Karno sepakat, tapi apakah namanya ? kalau hanya silaturahmi, menurut beliau terkesan biasa saja, sementara kondisi saat itu sangat krusial. Mbah Wahab dengan ringan menjawab “mudah saja, berikan saja nama halal bihalal”. Jadilah setelah peristiwa itu, setiap orang melaksanakan halal bihalal di sekolah, lingkungan, kantor pemerintahan, tempat kerja, dan tempat-tempat lainnya.

Baca Juga :  Membincang Hadis tentang Syam Tempat Aman dari Yajuj dan Majuj

Sampai disini, kita semestinya menyadari bahwa ulama kita begitu arif menyampaikan kebijaksanaannya dalam mensiasati mengamalkan ajaran agama. Bukankah kegiatan halal bihalal mengandung satu perilaku yang begitu dijunjung tinggi dalam Islam, yaitu saling memaafkan dan saling menyayangi.

Bukankah ada hadis Rasulullah Saw. yang biasa kita dengar “irhamu fi al-ardhi yarhamukum man fi al-samaa” (sayangilah yang di bumi, engkau akan disayang oleh yang di langit). Atau ungkapan sedernaha, man laa yarham laa yurham (siapa yang tidak menyanyangi, tidak akan disayang ?).

Mungkin, kita agak terjebak dengan pendapat bahwa mengkhususkan “ibadah” di waktu tertentu membutuhkan dalil. Jika dalil tidak ada praktis itu menjadi bid’ah. Jawabannya, tentu “ibadah” saling memaafkan sejatinya harus dilakukan kapanpun dan dimanapun. Sebagaimana riwayat berikut:

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ

Artinya: “Tidak halal bagi seorang muslim tak bersapaan dgn saudaranya (sesama muslim) lebih dari tiga malam. Keduanya saling bertemu, tetapi mereka saling tak acuh satu sama lain. Yang paling baik di antara keduanya ialah yg lebih dahulu memberi salam”.

Namun, halal bihalal sendiri tidak bisa dikatakan sebagai ibadah murni (ghairu mahdhah). Pelaksanaannya sesungguhnya juga sangat fleksibel, tidak terikat dengan waktu tertentu. Momen pelaksanaannya setelah hari raya, saya rasa tidak bisa disebut sebagai penentuan waktu ibadah, karena disini orang-orang kembali meneruskan aktivitasnya setelah lebaran dan mudik ke kampung halaman mereka.

Sebenarnya, ada sekian banyak alasan yang menunjukkan kalau even halal bihalal adalah laku yang sangat terpuji. Tapi yang jelas, memaafkan adalah bagian dari Nama-Nama Allah yang Mulia. Al-‘Afuww. Itu adalah bagian dari sifat-Nya yang Maha Menyayangi (al-Rahim). Akhirul Kalam, masihkan kita ragu menjalankan perilaku yang mulia ini? ****

Baca Juga :  Membincang Anjuran Memotong Kuku dan Rambut saat Hendak Berkurban

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here