Menelusuri Sejarah Dinasti Umayyah di Spanyol

1
2414

BincangSyariah.Com – Dinasti Umayyah adalah kerajaan yang berkuasa setelah rampungnya kepemimpinan Ali Bin Abi Thalib karena kewafatannya. Lalu naiklah Mu’awiyah bin Abi Sufyan sebagai khalifah pertama untuk dinasti ini. Pada mulanya sistem pemilihan pemimpin di dinasti ini adalah dengan sistem demokratis. Lalu kemudian berganti menjadi sistem monarki atau kerajaan.

Dalam pelebaran sayap kekuasaan, selama 90 tahun dinasti ini menyebar ke wilayah Suriah sampai Spanyol (661-750). Pusat pemerintahannya yang semula berada di Madinah dipindahkan ke Damaskus. Pada masa ini, terdapat 14 khalifah yang sempat menjabat.

Saat terjadi pertikaian dan pembersihan secara luas oleh Dinasti Abbasiyah pada tahun 750 M, hampir seluruh anggota keluarga dari Dinasti Umayyah dibunuh. Hanya satu yang akhirnya berhasil meloloskan diri yaitu, Abdurrahman.

Ia kemudian dijuluki ad-Dakhil karena melakukan ekspansi dan berhasil mendirikan dinasti di Andalusia pada tahun 755. Sebelumnya, Andalusia memang sempat ditaklukkan oleh Thariq bin Ziyad dan dua utusan lainnya pada saat pemerintahan Al-Walid I (705-715).

Itu artinya pemerintahan tersebut masih berpusat di Damaskus. Saat Abdurrahman melarikan diri ke Andalusia, Dinasti Abbasiyah mulai berkuasa dan menjadi pusat kerajaan Islam.

Kala itu Abdurrahman akhirnya mendirikan Dinasti Umayyah II yang berpusat di Andalusia. Ia tidak tunduk pada Dinasti Abbasiyah yang menjadi pusat kerajaan Islam. Penggunaan gelar khalifah sudah tidak digunakan lagi di dinasti ini.

Hal tersebut disebabkan karena penggunaan khalifah digunakan di Dinasti Abbasiyah yang menjadi pusat pemerintahan Islam. Mereka menggunakan gelar amir (gubernur). Pada periode ini, Islam mengalami kemajuan di berbagai bidang. Termasuk bidang pendidikan, politik dan seni.

Pendirian Masjid Kordoba di masa pemerintahan Abdurrahman I menjadi bukti kemajuan Islam dalam bidang agama dan arsitektur. Masjid itu masih berdiri hingga kini meski telah berubah menjadi gereja setelah penaklukan yang dilakukan oleh pasukan Kristen.

Pembangunan masjid dan aktivitas di dalamnya dilanjutkan oleh amir-amir berikutnya. Selain Abdurrahman, Hakam I (796-822) yang memerintah setelah Hisyam I dan Abdurrahman I, ia berperan dalam kemajuan militer. Hakamlah yang memprakarsai adanya tentara bayaran. Sedangkan Abdurrahman II dikenal sebagai pencinta ilmu. Ia yang menghidupkan atmosfer keilmuan dengan mengundang para ahli di berbagai bidang untuk ke Spanyol mengadakan kegiatan yang bersifat intelektual.

Kemajuan dalam bidang pendidikan dibuktikan dengan dibangunnya Universitas Kordoba pada masa pemerintahan Abdurrahman III. Mulai saat itu, kemajuan dalam bidang pendidikan begitu maju. Banyak sekali mahasiswa yang belajar di sana dari berbagai negara di Eropa.

Tidak hanya umat muslim, melainkan juga umat kristen yang menuntut ilmu di universitas tersebut. Gelora dan semangat keilmuan makin meningkat saat pemerintahan setelahnya yaitu, al-Hakam II. Ia mendirikan sebanyak 27 sekolah dan 70 gedung perpustakaan. Anak-anak miskin pun disekolahkan secara gratis di sekolah yang telah dibangun.

Kemajuan dalam berbagai bidang mulai surut saat Hisyam II menjabat sebagai pemimpin di usianya yang masih 11 tahun. Maka secara de facto kepemimpinan dipegang oleh para staf meski secara de jure ia yang bergelar sebagai pemimpin. Di sinilah awal mula terjadinya perpecahan yang kemudian menyebabkan terbaginya kerajaan-kerajaan kecil (muluk at-Thawaif). Pemerintahan seterusnya dipegang oleh beberapa amir yang tidak kompeten dalam bidang perpolitikan.

Mulai pada tahun 1013 pemerintahan terbagi-bagi yang berpusat di Sevilla, Toledo, Cordova dan sebagainya. Meski telah memiliki pusat pemerintahan masing-masing, seringkali masih terjadi pertikaian baik eksternal maupun internal. Ketidakstabilan dalam hal politik tidak menyurutkan gelora dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Para cendekiawan dan sastrawan masih mendapat perlindungan dari pemerintah. Akan tetapi saat terjadinya pertikaian eksternal antar daulah (daerah), seringkali mereka malah meminta bantuan dengan pasukan Kristen. Hal inilah yang menjadi kesempatan bagi umat Kristen untuk kembali merebut wilayah Spanyol.

*Diolah dari Ensiklopedia Islam terbitan PT. Icthiar Baru Van Hoeve dan Buku “Islam di Kawasan Kebudayaan Arab” karya Dr. Ali Mufrodi.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here