Menelusuri Dalil Halal Bihalal dalam Islam

2
6904

BincangSyariah.Com – Tradisi yang khas Indonesia pada raya Idul Fitri adalah fenomena halal bi halal. Halal bi halal adalah semacam kegiatan silaturrahim, mengunjungi sanak saudara dan handai taulan untuk meminta maaf atas segala kesalahan yang lalu, menggugurkan haqq al-adamiy yang hanya bisa diselesaikan dengan keridhaan satu sama lain. Praktik lain dari tradisi ini adalah berupa majlis pengajian dengan tema Halal bi Halal dengan diikuti banyak peserta.

Sejarah awal munculnya istilah halal bi halal terjadi pada tahun 1948. Ketika itu, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar, tidak mau duduk dalam satu forum. Lalu Sukarno memanggil KH. Wahab Chasbullah ke Istana Negara untuk dimintai pendapat dalam mengatasi situasi ini. Kemudian Kiai Wahab memberi saran agar diadakan silaturrahim pada hari raya Idul Fitri.

“Silaturrahim, kan, biasa. Saya ingin istilah yang lain,” kata Bung Karno.

“Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan, itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram) maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahim ini nanti kita pakai istilah halal bihalal,” jelas Kiai Wahab.

Sejak saat itulah instansi-instansi pemerintahan menyelenggarakan halal bi halal yang kemudian diikuti oleh masyarakat luas hingga sekarang. Ini merupakan tradisi lokal khas Indonesia. Bahkan pada masa sekarang, orang-orang Saudi Arabia yang kesehariannya menggunakan bahasa Arab, tidak mengetahui istilah ini di negerinya.

Sudah barang tentu kita tidak akan menemukan istilah halal bihalal ini pada masa Nabi saw, karena istilah ini memang hanya berlaku di Indonesia. Bahkan tradisi saling berkunjung pada hari raya Idul Fitri untuk meminta maaf atas segala kesalahan pun tampaknya hanya berlaku di Indonesia. Yang dapat kita rekam dari tradisi Nabi saw, sebagaimana ditulis oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fath al-Bari, adalah bahwa seorang sahabat Nabi bernama Watsilah menuturkan, ketika ia bertemu Nabi saw pada hari raya Idul Fitri, ia berkata, “Taqabbalallahu minna wa minka,” yang artinya semoga Allah menerima ibadah kita.

Baca Juga :  Tepatkah Menilai Siapa lebih Taat Beribadah antara Jokowi dan Prabowo?

Kemudian Nabi saw menjawab, “Na’am taqabbalallahu minna wa minka,” (Ya, Semoga Allah menerima ibadah kita).

Begitu juga dengan Sahabat lain, Nabi saw juga mengucapkan “Taqabbalallahu minna wa minka,” di kala mereka saling bertemu pada hari raya Idul Fitri. Sayangnya, hadis ini lemah dari segi sanad.

Kendati tidak ada kisah yang menceritakan bahwa Nabi saw melaksanakan halal bihalal pada hari raya Idul Fitri, bukan berarti tradisi yang khas Indonesia ini tidak diperbolehkan. Dalam banyak riwayat, Nabi saw menganjurkan umatnya untuk menyambung tali silaturrahim, sebagaimana hadis berikut,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Siapa yang ingin diluaskan rizkinya atau meninggalkan nama sebagai orang baik setelah kematiannya hendaklah dia menyambung silaturrahim.” (HR. Al-Bukhari)

Nabi saw juga menganjurkan umatnya untuk meminta maaf atau minta dihalalkan jika melakukan kesalahan kepada orang lain. Nabi saw bersabda,

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ

“Siapa yang pernah berbuat aniaya (zhalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia).” (HR. Al-Bukhari)

Jika melihat redaksi hadis di atas, tampaknya istilah halal bi halal yang dicetuskan oleh KH. Wahab Chasbullah diambil dari hadis tersebut, yaitu pada kata ‘falyatahallalhu’. Bahkan jika mengaca kepada hadis itu, seyogyanya halal bihalal tidak hanya dilakukan pada hari raya Idul Fitri saja, melainkan kapanpun. Setiap kali kita melakukan kesalahan maka segeralah meminta maaf pada hari itu juga. Namun, ini juga bukan sebuah keharusan, melainkan hanya anjuran. Artinya, jika tidak dilakukan pun tidak apa-apa.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here