Meneladani Sikap Toleransi Muhammad Al-Fatih terhadap Umat Kristen Konstantinopel

2
1013

BincangSyariah.Com – Muhammad Al Fatih (Muhammad II) adalah pimpinan tertinggi Dinasti Turki Usmani yang ke 7. Ia dilantik pada 18 Februari 1451 M menggantikan ayahnya yang meninggal di waktu yang sama. Pada saat itu usianya baru menginjak 22 tahun. Kendati masih terbilang muda, ia telah memiliki misi besar untuk bisa berkontribusi terhadap umat Islam. Cita–cita agungnya itu berhasil diwujudkan dengan kesuksesan menaklukan kota paling tidak tertembus, Konstantinopel. Maka tidak heran jika kemudian ia dijuluki sebagai Al-Fatih, sang penakluk.

Konstantinopel (Istanbul) sejak dulu masyhur dikenal sebagai kota terkuat sekaligus terpenting dunia. Letaknya begitu strategis yang menghubungkan benua Asia dan Eropa. Kota ini telah dilirik Islam sejak era Usman bin Affan. Konstantinopel begitu dinanti umat Islam karena penaklukannya telah diprediksi oleh Rasulullah. Tatkala Rasulullah ditanya “Manakah kota yang terlebih dahulu dibebaskan, apakah Konstantinopel ataukah Romawi?” Kemudian beliau menjawab: “Yang dibebaskan terlebih dahulu adalah kota Heraklius (Konstantinopel)”.

Semasa hidupnya, Muhammad II sangat memperhatikan soal pentingnya toleransi sebagai pondasi keragaman umat. Baginya, perbuatan baik tidak berarti dibatasi hanya untuk sesama muslim namun juga terhadap non-muslim. Berkat kelemah lembutan serta budi pekerti luhurnya ini, ia mampu mengubah mindset masyarakat Konstantinopel yang sebelumnya menyangka bahwa pimpinan Islam akan melakukan tindakan yang kejam kepada mereka. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Peristiwa ini terjadi di detik–detik awal masuknya Al Fatih ke dalam kota Konstantinopel.

Menurut As-Shalabi dalam bukunya Ad-Daulah Al-‘Utsmaniyah, Al-Fatih dapat menaklukkan Konstantinopel pada hari Selasa, 20 Jumadil Ula tahun 857 H yang bertepatan pada 29 Mei 1453 H. Saat Al Fatih berada di tengah kota, ia berkumpul bersama para panglima dan prajurit Islam seraya memerintahkan mereka untuk berbuat lemah lembut terhadap masyarakat Konstantinopel dan melarang adanya pembunuhan. Bahkan ia menebus sejumlah tawanan perang menggunakan hartanya sendiri diantaranya para pimpinan Yunani dan pemuka agama.

Baca Juga :  Dua Intisari Ajaran Islam dalam Surat Ali Imran

Kemudian Al Fatih pergi menuju Gereja Aya Sofya. Ternyata di rumah peribatan umat Kristen itu, telah berkumpul banyak orang. Mereka bersama para pendeta tengah memanjatkan doa–doa. Raut wajah mereka menampakan ketakutan yang luar biasa terlebih saat melihat Al-Fatih dan umat muslim telah memasuki kota. Kesengsaraan dan kematian sepertinya tidak lama lagi akan menjadi takdir mereka. Itulah bayangannya. Sebagaimana di masa itu, marak terjadi penduduk dibunuh masal dan dijual sebagai budak setelah tanah mereka ditaklukan penguasa lain.

Karena Al Fatih semakin mendekat, seorang pendeta memberanikan diri untuk membuka pintu gereja. Dengan begitu tenang dan lembut, Al-Fatih meminta pendeta tadi untuk menenangkan penduduk dan meminta mereka agar pulang ke rumah masing – masing dengan jaminan keamanan darinya. Ada beberapa dari mereka yang bersembunyi di kolong–kolong gereja karena takut, namun setelah melihat kelemahan lembutan sikap Al Fatih mereka keluar dari lubang persembunyian lalu memeluk agama Islam tanpa ada paksaan.

Setelah itu, Al-Fatih meminta pasukannya untuk mengubah gereja Aya Sofya menjadi masjid, ia ingin renovasi Aya Sofya bisa diselesaikan dengan cepat agar bisa dipakai untuk melaksanakan shalat Jumat berjamaah. Riwayat lain dari buku Jawanib Mudiah Fi Tarikh Utsmaniyyin karya Ziyad Abu Ghanimah menceritakan, saat pertama kali memasuki Konstantinopel Al-Fatih menuju Gereja Aya Sofia kemudian turun dari kudanya lalu shalat dua rakaat. Setelah itu, azan  dikumandangkan dan dilanjutkatkan solat zuhur berjamaah. Sejak saat itu, gereja beralih menjadi masjid. Adapun gambar–gambar yang menghiasi dinding gereja tidak dihilangkan melainkan hanya ditutupi. Begitupula namanya, Al Fatih meminta untuk tetap menggunakan nama lama Aya Sofya.

Untuk menghilangkan rasa takut umat Kristiani, suatu hari Al–Fatih mengagendakan sebuah perkumpulan dengan para pemuka agama Kristen. Dalam pertemuan tersebut, ia menegaskan akan melindungi mereka dan tidak mempermasalahkan perbedaan keyakinan. Ia juga tidak memaksa mereka untuk memeluk agama Islam. Serta memberikan kebebasan jika ingin tetap memeluk dan mengamalkan ajaran agama sebelumnya. Hanya saja jika umat Islam diharuskan membayar zakat, maka non muslim diminta untuk membayar pajak sesuai ketentuan.

Baca Juga :  Zaid bin Tsabit: Sahabat yang Diminta Nabi Mempelajari Bahasa Ibrani dan Suryani

Al-Fatih juga meminta mereka untuk memilih patriark baru sebagai pimpinan tertinggi umat Kristen. Dan terpilihlah Gennadius untuk mengisi posisi tadi. Dalam kepemimpinan Al Fatih, hak – hak beragama umat Nasrani terpenuhi. Bahkan, setiap sekte Nasrani memiliki pimpinan agama, tempat belajar dan rumah ibadah masing – masing. Selain itu, mereka juga diberi kebebasan untuk berbicara menggunakan bahasa yang mereka sukai.

Setelah pemilihan patriark, para pemuka Kristiani ini mengunjungi kediaman Muhammad II. Sang sultan pun meyambut mereka dengan penuh kehangatan dan kehormatan. Kemudian mereka menyantap makanan bersama sambil membicarakan banyak hal dari mulai isu – isu sosial, agama hingga politik. Sikap luhur yang ditunjukan sang sultan lagi – lagi membuat umat para pemuka Nasrani terkesima. Mereka benar – benar bertemu dengan sosok yang menjungjung tinggi ajaran agama dan tidak lupa akan nilai – nilai kemanusiaan.

Sultan Muhammad II menerapkan sikap adil dalam wilayah barunya itu, sebagaimana yang telah diajarakan Rasulullah dan para Khulafa Ar-Rasyidin. Tidak ada kezaliman, ketidakadilan atau diskriminasi terhadap non muslim. Mereka bisa hidup normal dengan aman layaknya sebelum penaklukan.

2 KOMENTAR

  1. Kalau boleh tahu, knp setelah penaklukan tsb, gereja aya sofya diubah menjadi masjid? Apa ini karena fa’i atau ghanimah? Terima kasih,

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here