Meneladani Sikap Nabi Muhammad Adalah Bentuk Cinta Rasul

0
22

BincangSyariah.Com – Meneladani sikap Nabi Muhammad Saw. adalah salah satu bentuk cinta Rasul yang memiliki banyak manfaat. Dua hal yang bisa diteladani dari Nabi Muhammad Saw. adalah kesederhanaan dan kejujurannya. Dua hal yang terlihat mudah dilakukan namun sulit direalisasikan.

Meneladani sikap Nabi Muhammad Saw. juga bisa menjadikan diri seorang Muslim menjadi lebih baik lagi. Apabila sikap-sikap yang diteladani dari Rasulullah Saw. banyak namun tak maksimal, ada kalanya kita harus menundukkan ego dan memulainya dengan satu atau dua sikap terlebih dahulu kemudian memaksimalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga, dua sikap Nabi Muhammad Saw. di bawah ini bisa menjadi motivasi bagi kita agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Pribadi yang selalu belajar dan melakukan apa pun atas dasar Ridho Allah Swt.

Kesederhanaan Rasulullah

Nabi Muhammad Saw. adalah teladan bagi kita semua, setiap manusia. Akhlak dan karakter beliau yang baik membuatnya pantas dijadikan sebagai panutan bagi umat Islam. Jatuh bangun kehidupan dirasakannya. Ia pernah merasakan hidup miskin, lalu berkecukupan. Meski begitu, hidup yang dipilih Nabi Muhammad Saw. sebenarnya sangat bersahaja.

Banyak gelar yang disandang oleh Nabi Muhammad Saw., tapi tidak membuatnya hidup sombong. Beliau tetap menjalani hidup sehari-hari dengan sederhana. Inilah yang membuat dirinya pantas dijadikan suri tauladan bagi semua umat. Lantas, bagaimana bentuk kesederhanaan hidup Nabi Muhammad Saw.?

Salah satu bentuk kesederhanaan hidup Nabi Muhammad Saw. adalah bahwa sampai akhir hayatnya, beliau tidak pernah menikmati roti sampai merasa kenyang. Hal ini termaktub dalam sebuah hadis sebagai berikut:

Dari Abu Hurairah r.a., beliau berulang kali mengarahkan jarinya ke mulut, sembari mengatakan, “Rasulullah Saw. dan keluarganya tidak pernah merasa kenyang dalam tiga hari berturut-turut karena memakan roti gandum. (Keadaan tersebut terus berlangsung) hingga beliau berpisah dengan dunia.” (H.R. Muslim dan Ibnu Majah)

Tak hanya itu. Satu waktu, keluarga Nabi Muhammad Saw. juga pernah tidak memasak apa pun selama sebulan. Mereka hanya mengonsumsi kurma dan air putih putih saja. Peristiwa ini diceritakan oleh Aisyah r.a., istri Nabi Muhammad Saw. yang tercantum dalam sebuah hadits sebagai berikut:

Aisyah r.a. mengatakan, “sesungguhnya kami, keluarga Muhammad pernah selama sebulan tidak menyalakan api (tidak memasak apa pun) kecuali kurma dan air.” (H.R. Muslim dan at-Tirmidzi)

Lain waktu, kesederhanaan hidup Nabi Muhammad Saw. ditunjukkan saat dirinya tak berat hati memberikan apa pun yang masih dimilikinya kepada orang lain.

Pada waktu itu, ada seorang anak laki-laki yang mengunjungi rumah Nabi Muhammad Saw. dan berkata, “wahai Nabi, aku datang kemari membawa pesan dari ibuku yang meminta ini dan itu.”

Lalu Nabi Muhammad Saw. menjawab, “maaf, hari ini aku tidak memiliki apa pun.”

“Kata ibuku, pakaian yang sedang engkau kenakan juga boleh,” ujar anak laki-laki tersebut.

Tanpa menolak, Rasulullah Saw. pun memberikan pakaian yang beliau kenakan satu-satunya dan menyerahkannya kepada anak tersebut. Anak laki-laki tersebut pun tersenyum puas sebab tidak pulang dengan tangan kosong.

Selain kisah-kisah di atas, Nabi Muhammad Saw. juga pernah tidur beralaskan tikar yang dilihat langsung oleh sahabatnya, Umar Ibnu Khatab. Bentuk kesederhanaan hidup Nabi Muhammad Saw. lainnya adalah ketika beliau mendatangi Aisyah dan melihat potongan kue lalu mengambilnya, mengusapnya, dan memakannya.

Beliau pun bersabda, “berlaku baiklah kalian kepada serpihan nikmat-nikmat Allah Swt. Jangan kalian menyia-nyiakannya. Jika ia hampir hilang dari suatu kaum, ia kembali kepada mereka.’” (H.R. al-Baihaqi dari Anas bin Malik)

Dari hal itu, kita memetik pelajaran bahwa kita harus selalu mensyukuri nikmat sekecil apa pun yang diberikan Allah Swt. Allah Swt. berfirman dalam QS. Ibrahim ayat 7:

 وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

Wa iż ta`ażżana rabbukum la`in syakartum la`azīdannakum wa la`ing kafartum inna ‘ażābī lasyadīd

Artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Bentuk-bentuk kesederhanaan hidup Nabi Muhammad Saw. yang telah dipaparkan membuktikan bahwa beliau mengajarkan kita semua untuk selalu merasa cukup dengan apa yang telah dimiliki dan selalu bersyukur untuk semua hal yang telah diberikan oleh Allah Swt. Beliau juga mengajarkan agar tidak melupakan kehidupan akhirat dan sibuk mengejar pencapaian duniawi semata.

Kejujuran Rasulullah

Ketika Nabi Muhammad Saw. hendak memulai dakwah secara terbuka dan terang-terangan, langkah pertama yang dilakukan, Rasulullah Saw. berdiri di atas bukit, kemudian memanggil-manggil kaum Quraisy untuk berkumpul.

“Wahai kaum Quraisy, kemarilah kalian semua. Aku akan memberikan sebuah berita kepada kalian semua!”

Mendengar panggilan lantang dari Rasulullah Saw., berduyun-duyunlah kaum Quraisy berdatangan, berkumpul untuk mendengarkan berita dari manusia jujur penuh pujian.

Setelah masyarakat berkumpul dalam jumlah besar, beliau tersenyum kemudian bersabda, “Saudara-saudaraku, jika aku memberi kabar kepadamu, jika di balik bukit ini ada musuh yang sudah siaga hendak menyerang kalian, apakah kalian semua percaya?”

Tanpa ragu semuanya menjawab mantap, “Percaya!”

Kemudian, Rasulullah kembali bertanya, “Mengapa kalian langsung percaya tanpa membuktikannya terlebih dahulu?”

Tanpa ragu-ragu orang yang hadir di sana kembali menjawab mantap, “Engkau sekalipun tidak pernah berbohong, wahai al-Amin. Engkau adalah manusia yang paling jujur yang kami kenal.”

Di antara faktor yang menyebabkan Nabi Muhammad Saw. berhasil dalam membangun masyarakat Islam adalah karena sifat-sifat dan akhlaknya yang sangat terpuji. Salah satu sifatnya yang menonjol adalah kejujurannya sejak masa kecil sampai akhir hayatnya, sehingga ia mendapat gelar al-Amin (orang yang dapat dipercaya atau jujur).

Kejujuran akan mengantarkan seseorang mendapatkan cinta kasih dan keridaan Allah Swt. Kebohongan adalah kejahatan tiada tara, yang merupakan faktor terkuat yang mendorong seseorang berbuat kemunkaran dan menjerumuskannya ke jurang neraka.

Kejujuran sebagai sumber keberhasilan, kebahagian, serta ketenteraman, harus dimiliki oleh setiap muslim. Bahkan, seorang muslim wajib pula menanamkan nilai kejujuran tersebut kepada anak-anaknya sejak dini hingga pada akhirnya mereka menjadi generasi yang meraih sukses dalam mengarungi kehidupan.

Kebohongan adalah muara dari segala keburukan dan sumber dari segala kecaman akibat yang ditimbulkannya adalah kejelekan, dan hasil akhirnya adalah kekejian. Akibat yang ditimbulkan oleh kebohongan adalan namimah (mengadu domba), sedangkan namimah dapat melahirkan kebencian.

Kebencian adalah awal dari permusuhan. Dalam permusuhan, tidak ada keamanan dan kedamaian. Dapat dikatakan bahwa “orang yang sedikit kejujurannya niscaya akan sedikit temannya.”

Nabi Muhammad Saw. sebagai Kekasih Allah Swt. saja bersikap sederhana dan menjunjung tinggi kejujuran. Sebagai umatnya, kita mestinya malu jika tak mempraktikkan dua hal sederhana di antara sifat-sifat baik Nabi Muhammad Saw. lainnya yang tak terhitung jumlahnya. Mari meneladani sikap Nabi Muhammad Saw. sebagai bentuk cinta kepada Rasul.[]

Baca: Teks Ceramah Maulid Nabi 2020: Meneladani Kesabaran Nabi dalam Berdakwah

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here