Meneladani Sifat Nabi untuk Perbaiki Moral Bangsa

0
221

BincangSyariah.Com – Tepat pada hari dan bulan yang sama Senin 12 Rabiul Awal yang saat ini bertepatan dengan 12 Desember 2016, 1445 tahun yang lalu terjadi peristiwa besar, apalagi kalau bukan kelahiran orang yang ditunggu-tunggu sebagai pencerah kota Mekkah, yang saat itu penuh dengan kegelapan.

Kehadiran Rasulullah saw membawa misi besar, yaitu untuk memperbaiki tatanan umat manusia, dalam bahasa Nabi beliau mengatakan innama bu’isttu li utammima makarimal akhlaq artinya “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”.

Kehadiran Nabi saw adalah untuk memperbaiki etika atau moralitas adalah untuk mencapai tujuan hidup yang bahagia dunia dan akhirat. Sangat pantas kiranya sejenak kita mengingat mengapa misi ini yang dibawa oleh Nabi saw. Kota Mekkah sebagai pusat peradaban dan perdangangan internasional. Tentunya sebagai pusat perdagangan dan peradaban masyarakat kota Mekkah memiliki pengetahuan dan budaya yang kuat, salah satunya di sana banyak ditemukan penyair-penyair hebat dan ilmuan-ilmuan lain.

Lantas mengapa Nabi saw diutus kepada masyarakat yang pintar-pintar seperti ini? bukankah orang pintar seiring dengan etika yang baik? Kalaupun kita mendengar istilah masyarakat jahiliyah atau secara bahasa masyarakat “bodoh”, sejatinya bukan lah bodoh intelektual, tapi karena tidak adanya tatanan etika dan moral.

Untuk itulah di pesantren atau madrasah kita sering mendengar dan hafalkan mahfuzhot, al-adabu fauqol ‘ilmi artinya etika berada di atas ilmu. Seorang yang berilmu tapi tidak memiliki etika sejatinya bukan lah orang yang terbaik. Karena kedudukan ilmu masih berada di bawah etika.

Harus kita akui bahwa kecerdasan intelektual tidak selalu bahkan tidak musti sejalan dengan moralitas. Contohnya masyarakat Makkah, bukan kah mereka adalah orang yang cerdas, sebagaimana digambarkan di atas, namun di sisi lain mereka adalah pelaku yang mengubur anak perempuan hidup-hidup, minum khamar, mengundi nasib, perjudian, kezaliman dengan berbagai bentuknya, atau tindakan lain yang jauh dari kemanusian.

Baca Juga :  Sabda Nabi tentang Sepuluh Tanda-tanda Hari Kiamat

Mari sejenak kita renungkan kondisi kita saat ini, kondisi di mana pemodal bisa melakukan apapun, buruh dibayar murah, hutan digunduli, pengairan petani terhambat, pergaulan bebas, human trafficking, fitnah atau rasa curiga yang tinggi itu lah kondisi yang terlihat saat ini, bukan kah ini kondisi adalah bentuk modern dari kejahatan pada masa jahiliah.

Para elit kita misalnya sangat mudah untuk menemukan politisi tanpa integritas, pengusaha tanpa kejujuran, akademisi tanpa kecerdasan, para pengadil tanpa transparansi, bahkan rakyat biasa pun ikut-ikutan tanpa memahami kondisi apa yang sebenarnya terjadi. Ini bukan karena tingkat pengetahuan orang yang lemah, sebab informasi apa yang tidak bisa kita dapatkan saat ini, semua bisa diakses dengan mudah. Namun moralitas lah yang kurang dari kita.

Pantas kiranya kita sebagai umat muslim yang hidup di abad ke 21 ini untuk kembali merenungkan dan meneladani sifat-sifat Nabi saw ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Khususnya bagaimana menjaga integritas diri, cerdas dalam mengelola informasi, jujur dan transparan dalam bertindak.

Mudah-mudahan dengan meneladani keempat sifat di atas kita menjadi umat Nabi Muhammad saw yang memiliki peradaban yang tinggi guna kebahagian manusia di dunia dan akhirat. Amiin. Wallahu a’lam bish showab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here