Meneladani Lima Intelektual Pesantren Berpengaruh di Nusantara

1
1033

BincangSyariah.Com – Indonesia sebagai negara mayoritas umat Islam terbesar di dunia sudah semestinya diperhitungkan dalam percaturan dunia Islam. Kajian tentang Islam tidak semestinya menempatkan umat Islam Indonesia di garis tepi pinggiran dunia Islam. Apalagi, Nusantara sebagai wilayah telah banyak melahirkan generasi emasnya dalam dunia keilmuan Islam. Banyak para ulama Indonesia dalam lintasan sejarah telah menjadi pionir dan rujukan keilmuan umat Islam di penjuru dunia.

Disertasi Prof. Abdurrahman Mas’ud berjudul “The Pesantren Architects and Their Socio-Religious Teaching” memaparkan lima ulama kenamaan yang memiliki kekhasan masing-masing. Kelimanya, menurut Abdurrahman Mas’ud, dikategorikan menjadi para guru intelektual pesantren dan para ahli strategi pesantren. Mereka hidup pada rentangan tahun 1850-1950. Dari para pendahulu seperti mereka ini seharusnya kita belajar.

Dalam kehidupan era teknologi dan informasi, generasi muda Indonesia kehilangan sosok panutan, terutama dalam urusan belajar agama dan berbangsa. Hasilnya, penjelajahan di rimba dunia maya untuk menemukan sosok tersebut berujung pada idola yang tidak tepat. Dampaknya sungguh bisa mulai dirasakan saat ini.

Banyak generasi muda kita kehilangan kultur keagamaan yang sejuk yang diwariskan oleh Walisongo, dijaga dan dilanjutkan oleh para intelektual pesantren. Mereka bukan menjadi pribadi muslim yang santun sebagaimana para ulama meneledankan justru menjadi garang dan menakutkan dalam beragama. Meskipun kapasitas intelektual keagamaan mereka masih pas-pasan.

Maka, perlu kiranya penulis memperkenalkan lima ulama atau intelektual pesantren yang diintrodusir oleh Abdurrahman Mas’ud yang layak dijadikan idola generasi milenial.

  1. Syekh Nawai al-Bantani

Kehidupannya yang dicurahkan untuk belajar, mengajar dan menulis membuat ia menjadi ulama prolifik yang tersohor di mata dunia. Karya-karyanya dikenal di hampir semua pesantren di Jawa. Bahkan sebagai orang Banten yang tinggal di Makah, ia menjadi sosok yang dihormati karena kealimannya. Bahkan pernah ia juga diundang dalam sebuah diskusi panel di Kairo dan menuai banyak pujian. Maka, ia disebut sebagai kiai ensiklopedik dan multidisiplin.

  1. Syekh Mahfuz at-Tirmisi
Baca Juga :  R.A. Kartini sebagai Inspirator Pendidikan Perempuan di Pesantren

Sebagai seorang yang dilahirkan di desa kecil yang bernama Tremas, Pacitan, keistimewaan Syekh Mahfuz terlihat saat ribuan muslim mengantarkan jenzahnya ke pemakaman keluarga Sayyid Abu Bakr bin Sayyid Muhammad Syata di Makah. Sebuah makam keluarga yang dihormati karena merupakan ulama masyhur di Makah. Spesialisasinya dalam ilmu hadis membuat reputasi keilmuannya di mata dunia diakui secara luas. Bahkan ia disebut sebagai the last link imam Bukhori abad XIX. Sehingga ia disebut sebagai al-Bukhori abad XIX.

  1. Syekh Kholil Bangkalan

Santri muslim di Jawa-Madura banyak yang meyakini bahwa Syekh Kholil adalah seorang wali. Pernah suatu kali dikisahkan tentang tanda kewaliannya (walayah) saat ia muda. Di saat ia salat berjamaah dengan kiainya, ia tertawa terbahak-bahak. Setelah salat usai ia dipanggil dan ditanyai sang kiai mengapa dia tertawa. Ia menjawab saat salat jamaah melihat berkat (makanan slametan) di atas kepala sang kiai, dan benar saja, ternyata sang kiai memang sedang teringat slametan saat salat jamaah.

Dalam tradisi pesantren, kisah-kisah semacam itu banyak dijumpai. Sebagai seseorang yang memiliki kedalaman ilmu agama dan spiritualitas yang tinggi, syekh Kholil menjadi sosok kiai kharismatik yang dikagumi masyarakat Jawa-Madura, khususnya dan Nusantara pada umumnya. Ilmu tasawuf yang matang membuatnya masuk dalam kategori kiai kharismatik.

  1. Syekh Hasyim Asy’ari’

Syekh Hasyim Asy’ari merupakan pendiri organisasi Islam terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama. Sebagai intelektual pesantren, beliau tidak hanya mengorbankan dirinya pada dunia pendidikan. Selain menulis dan mengajar, beliau merupakan kiai pergerakan yang sukses mengerahkan masa untuk melawan penjajah dengan resolusi jihadnya. Hari santri nanti, adalah bukti tentang adanya kiai pergerakan yang tidak hanya alim secara agama, tetapi berani mati demi negara.

  1. K.H. Asnawi Kudus
Baca Juga :  Makna di Balik Kalimat "Bismillahirrahmanirrahiim"

Abdurrahman Mas’ud mengkategorikan kiai Asnawi sebagai kiai dai keliling. Pengaruhnya justru lahir karena kedekatannya dengan masyarakat saat berkeliling memberikan ceramah-ceramah agama yang segar. Retorikanya yang matang menempatkan ia sebagai kiai berpengaruh di Jawa, khususnya Kudus dan sekitarnya. Meskipun pernah menimba ilmu di Hijaz, ia tidak serta merta menggaungkan semangat yang serba ke-Arab-an. Alih-alih melakukan arabisasi, kiai Asnawi justru menggelorakan semangat nasionalisme pada para santrinya.

Belajar dari syekh Nawawi dan syekh Mahfuz adalah belajar menjadi intelektual sejati. Kepakarannya dalam bidang-bidang ilmu agama membuktikan bahwa pemahaman terhadap Islam tidak hanya monopoli milik orang-orang Timur Tengah. Beliau meneladankan pada kita, bahwa umat Islam Indonesia mampu menjadi pusat transmisi ilmu pengetahuan dan pondasi peradaban Islam di dunia.

Sedangkan belajar kepada syekh Kholil Bangakalan, syekh Hasyim Asy’ari, dan KH Asnawi adalah belajar agama dan nasionalisme dalam tarikan satu nafas. Mereka tidak pernah mempertentangkan Islam sebagai agama dan Indonesia sebagai rumah besar semua bangsa. Penghormatan masyarakat kepada mereka tidak serta merta dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi melainkan kepentingan menjaga bangsa dari rongrongan penjajahan.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here