Habib Syafiq: Mencari Ilmu Agama Wajib Talaki di Hadapan Guru

1
964

BincangSyariah.Com – Banyak generasi muda Muslim perkotaan yang semakin sadar pentingnya hidup dalam bimbingan agama. Bersamaan dengan itu, perkembangan teknologi telah membuat mereka dapat mudah mengakses  berbagai informasi keagamaan tanpa perlu datang ke majelis ilmu.

Sayangnya, belajar agama dengan cara semacam ini terkadang dapat melahirkan sikap yang tidak mencerminkan akhlakul karimah, seperti merasa benar sendiri, mudah merendahkan ilmu agama dan ulama. Melalui teknologi, justru semangat belajar agama menjadi kontra produktif.

Maraknya fenomena semacam ini, menjadi alasan kuat pentingnya berguru secara langsung di hadapan seorang ulama. Hal ini ditegaskan oleh Habib Syafiq bin Ali Rido bin Abu Bakar bin Salim  di hadapan ratusan alumni Ponpes. Al Jazilah Cijati, Cianjur, Rabu (8/1).

“Mencari ilmu wajib talaki di hadapan guru,” demikian kata Habib yang masih kerabat Habib Jindan bin Novel ini.

Menggarisbawahi pentingnya talaki ilmu agama, Habib Syafiq menjelaskan keutamaan hadir di majelis ilmu dan bahaya kurangnya ilmu. Menurut beliau, pahala menuntut ilmu lebih baik dari 1000 ahli ibadah. Hadir di hadapan guru pahalanya sama dengan menengok 1000 orang sakit. Menuntut ilmu dengan cara talaki merupakan kelebihan ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Imam Ibnu Mubarak pernah mengatakan, as sanad minad din (sanad itu bagian dari agama). Sanad merupakan silsilah para guru yang menunjukkan bahwa para ulama terdahulu menjumpai langsung seorang guru ketika mereka belajar agama.

Di sini, seseorang tidak akan menjadi korban trend yang biasanya hanya menilai menarik sebuah majelis jika pesertanya banyak. Dalam bertalaki, tidak harus yang majelisnya ramai. Karena hakikatnya, banyak tidaknya jamaah yang hadir tidak berbeda pahala dengan yang sedikit jamaahnya. Habib yang menjadi pengajar di Ponpes Al Fakhriyyah Tangerang ini menjelaskan, “Jangan beranggapan karena banyak yang hadir majelis, tambah banyak pahalanya. Pahala menuntun ilmu itu sama hatta cuma dua orang dengan seorang guru. Akhir akhir ini, banyak orang mau hadir majelis, kalau majelisnya ramai. Kalau sepi mereka gak jadi berangkat. Karena kekurangan ilmu, banyak orang yang berani mengaku sebagai nabi.”

Baca Juga :  Aneka Model Pakaian Nabi (Bagian 1)

Memperkuat pesan Habib Syafiq, KH. Mukhlis Munawar. Pengasuh Ponpes. Al Jazilah sekaligus Musytastar MWC NU Cijati ini mengungkapkan, “Jangan sampai memutuskan hubungan dengan guru. Tetap perkuat silaturahim sekalipun sudah tidak di pesantren.”

Abah Romli yang menjadi perwakilan alumni, mendukung pesan dan wasiat kedua ulama tersebut. Beliau mengajak para alumni agar tetap bersatu sehingga syiar Islam Ahlus Sunnah Wal Jamaah semakin kuat. “Jikalau kita ingin berkah, harus lebih sering ziaroh kepada guru. Bukan hanya waktu reuni alumni saja.”

Ponpes. Al Jazilah adalah salah satu pesantren berkultur NU di kawasan Cijati, Cianjur Selatan. Ponpes yang didirikan oleh Mustasyar MWC NU Cijati sejak tahun 1997 itu telah melahirkan para alumni yang telah berkiprah di masyarakat dan memperkuat amaliyah Ahlus Sunnah Wal Jamaah, seperti tahlilan, yasinan dan lainnya. (Kontributor: M. Khoirul Huda dan Dudu Abdurrahman).

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here