Tips Terhindar dari Konflik Horizontal Ala Kiai Sholeh Darat

0
308

BincangSyariah.Com – Sebagai negara yang beragam suku dan agamanya, Indonesia memiliki ancaman konflik horizontal yang nyata. Tanpa kedewasaan masyarakat, konflik ini bisa disulut kapanpun. Biasanya ini digunakan saat-saat pentas politik akan dimainkan. Isu politik identitas menguat tanpa diiringi kualitas literasi dan kecerdasan masyarakat. Belajar dari pemilu bulan April kemarin, pembelahan sangat jelas terjadi di akar rumput masyarakat. Tak jarang bahkan menggunakan bendera agama untuk kepentingan politik.

Oleh karena itu, bagaimanakah semestinya agama, sebagai salah satu elemen penting dalam masyarakat merespon potensi konflik horizontal ini. Islam sebagai agama yang menyemai rahmat bagi sekalian alam harusnya mampu memberikan jawaban atas problem ini. Kiai Sholeh Darat menawarkan empat hal yang dapat dijadikan pijakan oleh setiap insan dalam kehidupan sosial.

Konflik horizontal dalam istilah kiai Sholeh Darat disebut padu tukar maring manungso akan menghasilkan fitnatun nas (ujian manusia). Agar manusia terhindar dari ujian ini, ada empat hal yang direkomendasikan kiai Sholeh Darat, yaitu:

Pertama, kesadaran untuk memaafkan. Asumsi pemaafan ini jika seseorang yang melakukan kesalahan itu disebabkan kebodohannya (tidak mengerti). Oleh karena itu, kesalahannya harus segera dimaafkan. Jika ia mengerti tentu ia tidak akan pernah melakukan apa yang dia anggap salah.

Kasus Ahok di tahun 2016 terkait jeratan pasal penodaan agama dan kasus ustad Abdus Shomad yang baru-baru ini muncul adalah dua contoh yang bisa kita lihat. Kesalahan yang dilakukan Ahok, meskipun masih bisa diperdebatkan salah atau tidaknya, justru tidak memunculkan sikap pemaaf dari umat Islam. Dampaknya kemudian, kegaduhan terjadi dimana-mana. Eskalasi konflik horizontal saat itu menguat. Aksi berjilid-jilid dilakukan hingga porblem-problem ketimpangan sosial yang riil dilupakan.

Baca Juga :  Jihad fi Sabilillah dalam Pandangan Kiai Sholeh Darat

Sedangkan pada kasus ustad Abdus Shomad, petuah yang diajarkan kiai Sholeh Darat justru nampak dari umat Nasrani. Mereka tanpa permohonan maaf dari ustad Abdus Shomad telah memaafkannya. Ini merupakan tamparan yang keras, setidaknya bagi penulis, untuk umat Islam. Islam sebagai agama yang memiliki spirit kasih sayang bagi seluruh alam justru diperlihatkan dengan baik oleh umat non muslim, bukan pemeluknya sendiri.

Kedua, kesadaran atas hak-hak kemanusiaan. Agar tidak terjebak dalam kesalahan yang disebutkan di atas, kita diharapkan mengetahui hak-hak yang dimiliki seorang manusia. Kalau kita menilik hak di dalam Islam, Al-Quran menyebutkan:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. al-Isra’: 70)

Dari ayat tersebut, sesungguhnya Tuhan memberikan hak kepada manusia untuk dimuliakan. Tidak layak seorang manusia (bani Adam), dihinakan hanya berdasarkan agama ataupun suku bahkan pilihan politik. Hak-hak ini kemudian diterjemahkan oleh para ulama di dalam maqashid al-syar’iyah.

Ketiga, jangan pernah berharap kepada manusia. Penulis memahami konteks dimana kiai Sholeh Darat di Abad 19. Kekuasaan absolut pemerintah kolonial pada saat itu menyebabkan kesengsaraan di umat Islam khususnya dan masyarakat Jawa pada umumnya. Sehingga banyak kemudian masyarakat yang bersikap pragmatis untuk mendapatkan remah-remah nikmat kekuasaan. Bagi kiai Sholeh Darat, semestinya umat Islam hanya menyandarkan harapannya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, bukan kepada manusia.

Baca Juga :  Hidup Berbangsa dan Bernegara Menurut Ibnu Taimiyah

Keempat, sebaliknya, jadilah pemberi jangan peminta. Kedua hal ini diajarkan oleh kiai Sholeh Darat agar masyarakat terutama umat Islam mandiri secara ekonomi dan berdaulat dari segala bentuk penjajahan. Konflik horizontal biasanya berputar dalam lingkarana dan relasi kekuasaan. Sedangkan kekuasaan cenderung menindas yang pada akhirnya memunculkan pertentangan dan konflik.

Tips ala kiai Sholeh Darat ini perlu diketengahkan di saat masyarakat terutama umat Islam mudah disulut dan ditarik dalam pusaran konflik. Indonesia sebagai rumah besar bersama sudah seharusnya dijaga. Jangan sampai rumah yang indah dengan penuh pernak-pernik keberagaman ini runtuh disebabkan oleh penghuninya sendiri. Semoga kita semua terhindar dari konflik horizontal yang berujung fitnatun nas.

Wallahu a’lam bis showab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here