Menanamkan Cinta Pada Anak, Bukan Takut

0
459

“Pertumbuhan badan ada batasnya, namun pertumbuhan jiwa berjalan terus. Sepanjang hayat masih di kandung badan.” (Syaikh Muhammad Al-Khidhr Husain)

BincangSyariah.com – Tidak banyak orangtua yang hidup di masa post-modernist (yang sudah dibutakan dengan gadget misalnya) mengerti betul perannya dalam membesarkan anak. Membesarkan, tidak hanya berfokus pada kesehatan fisik dan perkembangan lahiriah saja. Membesarkan juga bermakna memelihara pertumbuhan jiwa anak. Sesuatu yang tentu, masih menjadi tugas rumah bagi para orangtua di abad ini.

Kecenderungan orangtua masa kini yaitu memberikan capaian-capaian tinggi bagi anak-anak mereka. Hidup begitu keras, anak-anak banyak dituntut. Ragam kursus, pelajaran ekstra dan pelatihan lainnya ditumpahkan pada jadwal mereka. Untuk menghadapi tantangan global, itu alasannya.

Begitupun urusan ibadah. Harus menjadi hafiz atau hafizah. Fasih bahasa Arabnya, baik adabnya, dan seterusnya. Tidak jarang, berbagai peraturan agama disematkan kepada anak tanpa lebih dulu diberi contoh (yaitu dipraktikkan orangtuanya lebih dulu). Dan, ironisnya, tidak sedikit yang menanamkan kewajiban salat dengan ancaman, “kita harus takut sama Allah. Makanya, kita salat.”

Keinginan orangtua untuk menjadikan anak-anaknya berhasil dalam karir, agama dan cita-cita bukanlah suatu kesalahan. Hanya saja, orangtua kerap lupa hal paling dasar yang mestinya ditanamkan. Suatu sikap mencintai termasuk mencintai proses mencintai itu sendiri.

Mencintai Proses Mencintai Ibadah 

Menurut Erich Fromm dalam The Art of Loving, kebanyakan orang jarang mempelajari “seni mencintai”. Mereka lebih suka memuja dan mengejar hal-hal duniawi seperti kesuksesan, gengsi, uang, dan kekuasaan. Untuk bisa memahami seni mencintai, seseorang harus tahu makna cinta. Dengan demikian, seseorang harus sadar bahwa cinta itu sendiri layaknya seni. Sama seperti seni lain yang diketahui; musik, melukis, dan seterusnya.

Baca Juga :  Telaah Hadis; Cinta Itu Membuatmu Buta dan Tuli

Proses mempelajari suatu seni bisa melalui dua bagian; pertama,  menguasai teorinya. Kedua, menguasai praktiknya. Namun, ketika seseorang memiliki pengetahuan teori tentang sebuah seni, bukan berarti dia telah kompeten dalam suatu seni. Dia harus menjadi seorang yang menguasai seni tersebut setelah ia telah pula menguasai praktiknya.

Pengetahuan teori akan suatu seni bercampur dengan hikmah-hikmah praktiknya akan membentuk suatu intuisi. Kebanyakan orang akan mencari hasil akhir itu. Sebuah intuisi. Padahal, menurut Erich Fromm, tidak ada yang lebih penting dipelajari ketimbang proses seni itu sendiri.

Seorang anak yang terlanjur ditanamkan konsep “takut” dalam beribadah akan memiliki kekurangan dalam motivasi cinta. Semakin beranjak dewasa, semakin bertumbuh proses rasa takut dalam dirinya. Anak yang sudah dewasa ini mungkin saja masih melanjutkan ibadahnya, mungkin saja tidak. Mengapa demikian? Karena proses yang mengawalinya adalah konsep “takut” bukan “cinta”. Beribadah dengan konsep karena takut tidak memiliki kesadaran penuh bahwa ibadah merupakan hal yang dibutuhkan. Apalagi menjadi sesuatu yang pantas dinikmati.

Anak yang tumbuh dengan landasan rasa takut dalam beribadah akan menjalani proses ibadahnya setengah hati. Boleh jadi bahkan, dia tidak paham sama sekali apa yang dilakukannya dalam proses itu. Lebih parahnya lagi, anak yang tidak diajarkan seni mencintai dalam ibadahnya cenderung berpikir transaksional. Dia baru akan salat tahajud jika menjelang ujian. Dia baru kembali menghadiri majelis zikir jika masalah mendera hidupnya. Bukan karena keinginan atau kerinduan dalam hatinya akan beribadah.

Berbeda jika anak diteladani sikap mencintai. Dia akan berproses dalam ibadahnya karena cinta. Karena cinta itulah dia sadar bahwa dia tidak akan bisa hidup tanpa beribadah. Ibadah, adalah suatu jalan baginya untuk hidup, menjadi bagian dan mendarah daging. Tidak ada dalam pikirannya untuk menunda apalagi meninggalkan ibadah. Termasuk di dalamnya berbuat baik bagi sesama dan lingkungannya karena itu juga termasuk dalam ibadah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here