Meminjamkan Buku: Cerita dari Penyair Hingga Para Ulama

0
421

BincangSyariah.Com – Dalam kebutuhan manusia untuk mengisi dan meningkatkan kualitasnya, buku menjadi penting. kehidupan tiap orang itu memerlukan buku, tanpa buku, barangkali tidak ada peradaban. Memang, meminjamkan buku hukumnya tidak diharamkan. Namun, ternyata para ulama sendiri menyebutkan bahwa ada beberapa adab dan etika bagi para penuntut ilmu ketika meminjam buku.

Barangkali bagi sebagian, keengganan meminjamkan buku mungkin dianggap kitman al-Ilm (menyembunyikan ilmu), pelit atau sebagainya. Namun, kebiasaan meminjamkan buku ternyata memiliki ekses negative bagi si peminjam, terutama alasan (kebiasaannya) buku yang dipinjam susah untuk dikembalikan lagi (hehe)..

Konon, saya mendengar cerita bahwa Gus Dur termasuk orang yang sangat pelit dalam urusan buku. Setelah ditelusuri, alasannya ternyata sederhana, “jika kamu membaca seperti orang lain, maka kamu sama seperti orang biasanya”.

Dalam beberapa cerita, ternyata banyak juga para ulama dan pujangga yang enggan meminjamkan buku kesukaannnya kepada orang lain. Setidaknya ini tercatat dalam beberapa kitab dan dokumentasi non-literal.

Di dalam bab adab ‘iarah al-kutub (etika meminjamkan buku) karya Syekh Umar al-Hadusyi, ketika ia ditanya bagaimana cara anda mendapatkan ilmu dan apakah ada adab-adab murid ketika meminjam buku kepada gurunya? Berikut beberapa pendapat para ulama:

Ibnu Jamaah dalam tadzkirah al-Sami’ wa al-Mutakallim berpendapat dianjurkan meminjamkan buku kepada orang yang tidak membutuhkannya (dengan tujuan edukasi literasi). Namun pendapat Ibnu Jama’ah ini direspons para pengikutnya bahwa banyak orang yang meminjam buku, karya seorang syekh namun ia tidak membutuhkannya atau buku tersebut tidak penting bagi si peminjam hingga buku tersebut tidak tau arah pulang kepada si empunya.

Konon, pernah juga seorang murid meminjam kitab syarah Shahih Muslim dari Syekh Umar. Apesnya, kitab tersebut dibiarkan terbuka hingga dikencingi oleh anaknya. Cerita ini dilaporkan kepada Syekh Umar, dan ia tidak marah. Ia hanya berkomentar, itu barangkali hadiah untukmu.

Baca Juga :  Farid Esack: Ulama Pejuang Kesetaraan di Afrika Selatan

Lain halnya, Syekh Umar al-Hadyusi, lain pula al-Khatib al-Bagdhadi. Ulama hadis, penulis literasi keilmuan hadis abad 4 hijriah ini konon demi memugari buku-bukunya, ia melarang orang lain, bahkan anaknya untuk meminjam buku-bukunya. Imam al-Buwathi (salah seorang imam-imam mazhab Syafi’i) pernah juga memberikan wejangan kepada Rabi’ bin Sulaiman. Nasehatnya kira-kira berbunyi “ ihfadz kitabaka, fa in dzahaba laka kitabun lam tajid barakatan”. Artinya jagalah bukumu (atau karya-karyamu), jika buku/ kitabmu sudah hilang maka tidak akan ada barakah pada ilmu (karyamu).”

Ada sebuah syair dari anonym,

ألاَ يا مستعير الكتب دعني * فإن إعارة الكتب عار
فمحبوبي من الدنيا كتابي * وهل رأيت محبوباً يعارُ

Wahai para peminjam buku, biarkan daku bersabda.

Meminjamkan buku itu adalah aib

Kekasih duniaku hanyalah bukuku,

Apakah anda pernah mendengar bahwa seorang kekasih rela untuk dicuri?

Dari beberapa pendapat para ulama dan penyair di atas, kita bisa memahami alasan beberapa orang yang enggan meminjamkan kitab, bukunya kepada orang lain. Namun, jika meminjamkan buku kepada para pembaca rutin, atau orang yang sedang melakuakn penelitian, maka itu sangat dianjurkan dengan syarat akan dikembalikan lagi.

Wallahu’alam.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here