Memimpin Adalah Melayani; Blusukan Ala Rasulullah

0
1069

BincangSyariah.Com – Fenomena blusukan mulai ramai diperbincangkan masyarakat Indonesia sejak tampilnya Ir. Joko Widodo sebagai calon gubernur DKI Jakarta. Istilah blusukan sendiri diserap dari kata dasar bahasa jawa blusuk. Kata blusuk kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan akhiran –an sehingga menjadi blusukan. Menurut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), kata blusuk memiliki arti masuk. Artinya, orang yang melakukan blusukan berarti masuk ke tempat-tempat tertentu untuk mengetahui sesuatu. (Baca: Potret Pemimpin yang Akan Mendapatkan Bau Surga)

Berkenaan dengan tugas sebagai seorang pemimpin, melakukan blusukan memiliki tujuan untuk mengetahui persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat serta menyerap aspirasi dari mereka dengan cara terjun langsung ke tempat-tempat dimana kelompok masyarakat itu berada. Walaupun secara istilah, blusukan hanya ada di Indonesia. Tetapi, secara substantif blusukan sudah dilakukan oleh pemimpin-pemimpin hebat dunia ini mulai dari dulu sampai sekarang. Hal ini karena, blusukan adalah salah satu cara melayani, dan tugas seorang pemimpin adalah melayani masyarakatnya sehingga blusukan adalah keniscayaan bagi seorang pemimpin.

Melihat potret kehidupan Nabi Saw dalam memimpin umat, akan kita temukan begitu banyak teladan dari Beliau yang menggambarkan bahwa Beliau suka melakukan blusukan. Bahkan, tidak hanya sekedar blusukan, Nabi Saw biasanya ikut bekerja bersama-bersama para sahabat r.a dalam membangun atau mempersiapkan sesuatu. Ketika akan terjadi perang khondaq misalnya, Nabi Saw bersama para sahabat membangun parit (khondaq) yang mengelilingi kota Madinah. Beliau menggali parit dalam keadaan haus dan lapar, bahkan dalam sebuah riwayat diceritakan Beliau sampai harus mengikatkan batu ke perutnya demi menahan lapar.

Dikisahkan pula bahwa Nabi Saw sering makan bersama anak-anak kecil dan kaum duafa. Beliau suka menghadiri undangan siapapun termasuk dari kalangan orang miskin dan makan bersama mereka dengan beralaskan tanah saja. Bahkan, salah satu kebiasaan Nabi Saw adalah memberi dan menyuapi makan wanita tua Yahudi selama beberapa tahun sementara wanita tua Yahudi tersebut tidak tau siapa yang menyuapinya makan.

Baca Juga :  Hukum Mendoakan Pemimpin Ketika Khutbah Jumat

Lihatlah, apa yang telah dilakukan oleh Manusia mulia ini. Beliau gemar sekali berada disamping umatnya, bekerja bersama mereka, makan dan memberi makan mereka. Dan yang paling penting, beliau melakukan semua itu dengan ikhlas, jauh dari pamer yang dalam bahasa sekarang dikenal dengan pencitraan.

Menarik apa yang ditulis oleh Syaikh Said Ramadhon al-Buthi dalam bukunya yang berjudul Fiqh as-Sirah Beliau tidak memerintah kaum Muslimin untuk menggali parit sedangkan Beliau mengawasi mereka dari istana yang tinggi sambil bersantai. Beliau juga tidak mendatangi kaum Muslimin dalam sebuah pesta yang ramai untuk menerima cangkul dari mereka, lalu memukulkan cangkul tersebut ke tanah sebagai tanda dimulainya pekerjaan, serta sebagai simbol bahwa beliau turut bekerja bersama dengan mereka lalu setelah itu cangkul dilemparkan, debu yang melekat di baju dibersihkan kemudian pergi meninggalkan mereka”. Subhanallah, begitu indahnya kepemimpinan Nabi Saw, maka siapakah yang berani mendustakan Beliau ketika berkata “Pemimpin suatu bangsa adalah pelayannya” sementara Beliau telah membuktikan seluruh perkataannya? Beliau yang seorang Nabi termulia memimpin umatnya dengan melayani mereka dengan rasa kasih dan cinta.

Semoga kita selaku umatnya dapat meneladani Beliau sebagaimana para pemimpin sepeninggal Beliau telah meneladaninya. Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali r.a adalah sosok-sosok pemimpin paripurna yang telah mendapatkan teladan langsung dari Nabi Saw. Mereka semua adalah para pemimpin yang hidup bersama umatnya dalam suka maupun duka sebaimana telah dicontohkan oleh Nabi Saw.

Diceritakan bahwa Umar R.A suka sekali melakukan blusukan ke rumah-rumah warga pada malam hari untuk mengetahui kondisi mereka. Jika diantara mereka ada yang membutuhkan makanan maka segera umar mengambilkan makanan bahkan memanggulnya sendiri sebagai bentuk tanggung jawabnya sebaga seorang pemimpin. Tidak hanya menyangkut persoalan umat semata, bahkan Umar begitu peduli dengan nasib semua mahluk hidup yang berada di wilayah kekuasaannya, Umar r.a berkata “Seandainya seekor keledai terperosok di Baghdad, niscaya Umar akan ditanya, mengapa tidak kau ratakan jalannya?”

Begitulah potret kepemimpinan yang diteladankan oleh Nabi Saw yang kemudian ditiru oleh para sahabatnya. Memimpin bukan menguasai, memimpin bukan memanfaatkan. Tapi, memimpin adalah melayani, maka sebagai seorang pelayan harus mendatangi yang dilayaninya. Memimpin berarti kita siap dimanfaatkan oleh negara dan bangsanya demi mewujudkan keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan di tengah-tengah masyarakat. Wallohu a’lam bisshowab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here